Saat Jabatan Menjadi Tuhan Kecil dalam Diri Manusia 

KHAMENEI.ID— Ada satu pertanyaan yang terus menghantui sejarah manusia: mengapa sebagian orang yang tampak saleh, sederhana, bahkan idealis sebelum berkuasa, perlahan berubah ketika berada di puncak kewenangan? Jabatan yang dulu dianggap amanah berubah menjadi alat kepentingan. Kekuasaan yang seharusnya melayani justru mulai menuntut untuk dilayani.

Mungkin masalahnya bukan semata-mata pada kekuasaan itu sendiri. Masalahnya adalah ketika manusia kehilangan sesuatu yang lebih besar daripada kekuasaan: kesadaran tentang akhirat.

Dalam salah satu renungan tentang tanggung jawab sosial dan spiritual, terdapat sebuah gagasan yang sangat tajam: manusia harus memberi “peran” kepada akhirat dalam setiap keputusan yang ia ambil. Bukan hanya dalam ibadah pribadi, tetapi juga dalam tanda tangan administrasi, dalam pidato politik, dalam nasihat, dalam pengangkatan jabatan, bahkan dalam setiap keputusan kecil yang memengaruhi nasib orang lain.

Kalimat itu terasa sangat relevan di zaman sekarang. Kita hidup di era pengawasan publik yang luar biasa ketat. Media sosial mencatat hampir semua hal. Kamera ada di mana-mana. Opini publik bisa menghakimi seseorang hanya dalam hitungan menit. Banyak pejabat, pemimpin, atau tokoh publik akhirnya lebih takut pada “viral” dibanding takut pada kesalahan moral itu sendiri.

Padahal manusia sesungguhnya hidup di tepi yang sangat rapuh. Hari ini ada, besok bisa tiada. Tidak ada usia yang benar-benar aman dari kematian. Orang tua mungkin merasa lebih dekat dengan batas itu, tetapi anak muda pun sebenarnya berdiri di garis yang sama. Di balik batas kematian itu, menurut tradisi spiritual Islam, ada satu fase yang tidak bisa dinegosiasikan: perhitungan.

Kesadaran tentang hisab, tentang evaluasi ilahi terhadap hidup manusia, bukan dimaksudkan untuk membuat orang tenggelam dalam ketakutan. Justru sebaliknya, ia ingin menghadirkan tanggung jawab batin. Bahwa hidup bukan sekadar soal menang dalam kompetisi dunia, melainkan tentang apa yang tersisa setelah semua tepuk tangan berhenti.

Baca Juga  Jangan Takut Rebah: Bahkan Gandum Pun Menunduk Saat Badai Datang

Al-Qur’an menggambarkan dunia sebagai sesuatu yang memikat tetapi sementara:

المالُ وَالبَنونَ زينَةُ الحَياةِ الدُّنيا ۖ وَالباقِياتُ الصّالِحاتُ خَيرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوابًا وَخَيرٌ أَمَلًا

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Tetapi amal-amal yang kekal dan saleh lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih layak menjadi harapan” (QS. Al- Kahf: 46)

Ayat ini tidak sedang mengutuk dunia. Harta bukan dosa. Kekuasaan bukan kutukan. Jabatan bukan kejahatan. Semuanya hanyalah “perhiasan” alat yang netral. Yang menentukan adalah: untuk apa semua itu digunakan?

Di sinilah letak kritik penting terhadap cara berpikir modern yang sering terlalu simplistis. Ada orang yang menganggap kekayaan pasti buruk. Ada pula yang memandang kekuasaan selalu korup. Padahal yang membuat kekuasaan menjadi jahat bukanlah kekuasaan itu sendiri, melainkan arah penggunaannya.

Kekuasaan bisa menjadi jalan kemuliaan ketika digunakan untuk melindungi manusia, menyebarkan keadilan, memperkuat moralitas publik, dan menjaga martabat masyarakat. Tetapi kekuasaan yang sama bisa berubah menjadi monster ketika dipakai untuk memenuhi hawa nafsu pribadi, membalas dendam, atau mempertahankan ego.

Semakin besar kekuasaan, semakin besar pula potensi kerusakannya.

Kita melihatnya di banyak tempat hari ini. Orang rela menghancurkan reputasi orang lain demi karier. Kebijakan dibuat demi citra, bukan demi rakyat. Jabatan dipakai untuk memperkaya kelompok sendiri. Bahkan agama kadang dijadikan dekorasi moral untuk menutupi kerakusan politik.

Masalah terbesar dari semua itu sebenarnya bukan korupsi administratif. Yang lebih berbahaya adalah hilangnya horizon akhirat dari ruang pengambilan keputusan.

Ketika manusia hanya percaya pada dunia yang terlihat, maka ukuran hidup pun menjadi pendek: menang atau kalah, untung atau rugi, populer atau dibenci. Tetapi ketika seseorang benar-benar percaya bahwa setiap keputusan akan berlanjut ke kehidupan berikutnya, cara ia memandang kekuasaan berubah total. Jabatan tidak lagi menjadi alat pemuasan diri, melainkan ujian moral yang sangat berat.

Baca Juga  Hari Ketika Amal Tenggelam oleh Nikmat: Mengapa Manusia Tak Pernah Bisa Membayar Tuhan?

Karena itu, dalam Shahifah Sajjadiyah kumpulan doa yang dinisbatkan kepada Ali Zainal Abidin a.s ada satu doa yang sangat menyentuh tentang kematian. Doa itu memohon agar manusia diberi amal baik yang begitu bermakna hingga ia tidak takut menghadapi kematian.

Salah satu bagiannya berbunyi:

وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ صَالِحِ الْأَعْمَالِ عَمَلًا نَسْتَبْطِئُ مَعَهُ الْمَصِيرَ إِلَيْكَ

“Berikan kami amal saleh yang membuat kami merasa perjalanan menuju-Mu terasa terlalu lama”

Kalimat ini terdengar paradoksal. Bukankah manusia biasanya takut mati? Tetapi doa itu justru menggambarkan kondisi batin yang berbeda: seseorang yang telah memenuhi hidupnya dengan kebaikan akan memandang kematian bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai kepulangan.

Ibarat seorang murid yang telah belajar dengan sungguh-sungguh menjelang ujian. Ia tidak takut hari ujian tiba. Bahkan ia merasa waktu berjalan terlalu lambat. Sebaliknya, orang yang tidak siap akan terus berharap ujian ditunda.

Begitulah amal bekerja terhadap jiwa manusia.

Ketakutan terbesar manusia modern sesungguhnya bukan kematian, melainkan kehampaan. Banyak orang hidup dalam kemewahan tetapi tetap gelisah. Mereka punya kuasa, tetapi tidak punya ketenangan. Mereka memiliki pengaruh, tetapi kehilangan rasa aman di dalam dirinya sendiri.

Dalam tradisi spiritual, rasa aman itu lahir ketika manusia merasa hidupnya memiliki makna yang melampaui dirinya sendiri.

Maka menarik ketika doa itu melanjutkan permohonan agar kematian menjadi “teman akrab” yang dirindukan, bukan monster yang menakutkan. Tentu ini bukan ajakan untuk membenci hidup. Justru sebaliknya: ini adalah ajakan agar hidup diisi dengan sesuatu yang cukup bernilai untuk dibawa pulang.

Barangkali di situlah inti dari seluruh renungan ini: akhirat bukan sekadar tema ceramah tentang kematian. Ia adalah cara memandang hidup sehari-hari. Ia hadir dalam keputusan kecil yang tidak dilihat siapa-siapa. Dalam kejujuran yang tidak viral. Dalam kekuasaan yang tetap rendah hati. Dalam kemampuan menahan diri ketika kita sebenarnya mampu berlaku zalim.

Baca Juga  Kejujuran yang Punah dan Manusia yang Dirindukan Nabi 

Sebab pada akhirnya, manusia tidak benar-benar diukur dari seberapa tinggi ia naik, melainkan dari apa yang ia lakukan ketika berada di atas.

Bagikan:
Terkait
Komentar