Pernahkah Anda merasa bahwa perjuangan hak-hak perempuan yang digaungkan media global terasa seperti “paket siap saji” yang seragam dari satu sumber tertentu? Jika ya, Anda tidak sendirian. Imam Ali Khamenei dalam salah satu bagian pidatonya pada pertemuan khusus dengan peserta perempuan yang dilakukan rutin pada perayaan hari kelahiran Fatimah Az-Zahra as putri Rasulullah Saw melontarkan kritik tajam bahwa dibalik retorika indah tentang kebebasan perempuan, sebenarnya ada motif kolonial yang tersembunyi. Mari kita bedah argumennya.
Pendahuluan: Perbincangan Dunia tentang Perempuan
Dewasa ini, isu perempuan menjadi topik yang sangat hangat di berbagai belahan dunia. Setiap kelompok, dengan latar belakang dan tujuannya masing-masing, ikut membahas nasib perempuan. Namun, menurut pandangan yang disampaikan oleh Imam Ali Khamenei, ada aktor utama di balik panggung: para pemodal global dan politisi dunia. Mereka adalah kekuatan yang sama yang menjadi sumber kolonialisme modern. Mereka tidak hanya menguasai ekonomi, tetapi juga media paling berpengaruh dan bahasa komunikasi massa. Semua itu digunakan untuk ikut campur dalam urusan gaya hidup manusia—termasuk isu perempuan.
Motif di Balik Campur Tangan: Bukan Teori, Bukan Kemanusiaan
Yang sering tidak disadari publik adalah bahwa motif campur tangan para pemodal dan politisi ini sama sekali bukan didasari oleh pandangan filosofis atau teoretis yang murni. Mereka tidak memiliki teori filosofis tentang perempuan yang ingin disebarluaskan demi kebaikan bersama. Juga bukan karena rasa kemanusiaan yang tulus, seolah-olah mereka melihat perempuan terzalimi di dunia lalu tergerak untuk melindungi. Bukan pula karena rasa tanggung jawab sosial. Lalu apa? Jawabannya tegas: intervensi politik dan kolonial. Mereka masuk ke dalam isu perempuan sebagai langkah awal atau sebagai “kedok” untuk melakukan intervensi yang lebih besar, memperluas pengaruh, dan mengendalikan wilayah-wilayah kehidupan lainnya.
Kedok Filosofis dan Humanis yang Menipu
Motif yang sebenarnya bersifat kriminal dan merusak ini disembunyikan di balik kemasan filosofis, teoritis, dan humanis. Inilah yang disebut sebagai ketidakjujuran gaya Barat, khususnya para pemodal Barat yang saat ini berkuasa atas dunia. Ketidakjujuran semacam ini bisa kita saksikan dalam berbagai peristiwa sejarah. Imam Khamenei memberikan dua contoh nyata yang sangat mudah dipahami.
Contoh Pertama: Isu Kemandirian Finansial Perempuan Satu Abad Lalu
Sekitar seratus tahun yang lalu, Barat mengangkat isu kebebasan perempuan dan kemandirian finansial mereka. Seruan ini tampak bagus dan mulia di permukaan. Namun, apa inti sebenarnya? Industri pada masa itu kekurangan tenaga kerja. Pekerja laki-laki tidak mencukupi kebutuhan pabrik-pabrik mereka. Maka, perempuan didorong untuk keluar rumah dan bekerja, tetapi dengan upah yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Jadi, “kemandirian finansial” yang digembar-gemborkan sebenarnya hanyalah kedok untuk memanfaatkan tenaga murah. Ini terjadi terutama di Eropa dan lingkungan Barat lainnya. Lagi-lagi, motif kemanusiaan hanya menjadi selubung.
Contoh Kedua: Pembebasan Budak di Amerika
Contoh lain—meski tidak langsung berhubungan dengan isu perempuan—adalah peristiwa pembebasan budak di Amerika pada akhir abad ke-19, sekitar tahun 1860-an. Saat itu, Presiden Abraham Lincoln dari Partai Republik mengampanyekan pembebasan budak. Narasi yang ditampilkan adalah bahwa perbudakan adalah kejahatan kemanusiaan sehingga harus dihapus. Namun, apa sesungguhnya yang terjadi? Di wilayah selatan Amerika, perekonomian bertumpu pada perkebunan besar yang dikerjakan oleh budak secara gratis, hanya diberi makan seadanya. Sementara di wilayah utara, industri mulai berkembang pesat dan sangat membutuhkan pekerja. Sayangnya, tidak tersedia cukup tenaga kerja. Maka, dengan kedok “kebebasan”, para budak dari selatan “dibebaskan” justru agar mereka pindah ke utara dan bekerja di pabrik-pabrik. Hakikatnya, mereka hanya dipindahkan dari perbudakan pertanian ke perbudakan industri. Inilah ketidakjujuran Barat yang terstruktur.
Aplikasinya pada Isu Perempuan Masa Kini
Begitu pula dengan apa yang terjadi hari ini. Gemuruh wacana tentang feminisme, hak-hak perempuan, kebebasan perempuan, dan segala macam jargon emansipasi—semua itu hanyalah penampilan luar. Dibalik semua itu, yang bergerak adalah politik dan motivasi-motivasi tidak sehat. Sebagian dari motivasi tersebut mungkin sudah mulai kita ketahui sekarang, sebagian lagi akan terungkap dimasa depan. Yang pasti, motivasinya bukanlah motivasi kemanusiaan yang tulus.
Kesimpulan Sementara: Intervensi Kolonial Berbalut Retorika Mulia
Menurut pandangan yang disampaikan, politisi dan pemodal global hari ini—yang notabene adalah penerus kolonialisme—terus mengulang pola lama: menggunakan isu sensitif seperti perempuan sebagai alat penetrasi dan perluasan pengaruh. Mereka tidak peduli pada nasib perempuan secara hakiki. Mereka hanya peduli pada dominasi. Dan ironisnya, media massa yang paling kuat di dunia berada di tangan mereka, sehingga narasi mereka mudah diterima sebagai kebenaran universal.
Apa Landasan Pandangan Islam?
Meski tidak diuraikan panjang lebar, yang menjadi landasan pandangan Islam adalah bahwa Islam memiliki kerangka sendiri dalam memandang perempuan, yang tidak lahir dari motif kolonial atau eksploitasi ekonomi. Islam memandang perempuan sebagai makhluk mulia yang memiliki hak dan kewajiban seimbang, bukan sebagai komoditas atau alat produksi. Umat Islam—dan siapa pun yang peduli pada keadilan—harus waspada terhadap narasi-narasi yang digerakkan oleh kepentingan kekuasaan global.
Penutup: Mengapa Ini Penting untuk Kita Renungkan?
Membedah motif di balik isu perempuan bukan berarti menolak semua bentuk perjuangan hak-hak perempuan. Justru sebaliknya: agar perempuan benar-benar terbebas dari eksploitasi, kita harus bisa memisahkan antara advokasi yang tulus dan intervensi yang berkedok kemanusiaan. Kritik Imam Ali Khamenei ini mengajak kita untuk tidak naif dan tidak serta-merta menelan mentah-mentah narasi yang dikemas rapi oleh media-media raksasa. Dengan memahami sejarah ketidakjujuran Barat—dari kasus buruh pabrik hingga pembebasan budak—kita dapat bersikap lebih kritis terhadap wacana global tentang perempuan. Kita dapat bersikap dan bertindak secara proporsional tanpa khawatir dicap ketinggalan dalam isu-isu mainstream yang berkaitan dengan pembelaan perempuan.
Ketika berbicara isu perempuan dan gerakan feminisme perlu diingat bahwa ada kekuatan kolonial yang selalu memanfaatkan isu-isu sosial untuk kepentingan mereka. Maka, sudah seharusnya kita mengembalikan pembahasan tentang perempuan ke akar nilai-nilai kemanusiaan yang otentik, bebas dari kepentingan politik dan ekonomi sempit.







