Masa Depan Dunia Islam dan Gagasan Perlawanan: Mengapa Umat Harus Menentukan Nasibnya Sendiri?

KHAMENEI.ID – Selama satu setengah abad terakhir, sebagian besar dunia Islam seolah hidup sebagai penonton dalam sejarahnya sendiri. Negeri-negeri yang memiliki jumlah penduduk besar, wilayah yang luas, kekayaan alam yang melimpah, serta tradisi intelektual dan spiritual yang panjang, justru sering kali tidak memiliki kendali penuh atas arah perjalanan bangsanya.

Sejarah modern dunia Islam banyak diwarnai oleh campur tangan kekuatan asing. Di tengah kelemahan politik dan perpecahan internal, berbagai negara Muslim menjadi sasaran ambisi kekuatan kolonial dan kepentingan geopolitik negara-negara besar. Dalam situasi semacam itu, keputusan-keputusan penting tentang masa depan bangsa tidak selalu lahir dari kehendak rakyatnya sendiri.

Bagi Syahid Imam Ali Khamenei qs, persoalan tersebut bukan sekadar catatan sejarah. Ia merupakan salah satu akar dari berbagai persoalan yang masih dihadapi dunia Islam hingga hari ini.

Keterbelakangan ilmu pengetahuan dan ketergantungan politik, menurutnya, tidak dapat dilepaskan dari masa panjang ketika bangsa-bangsa Muslim kehilangan kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Ketika sebuah bangsa tidak memiliki kendali atas arah politiknya, ketika sumber dayanya dikelola berdasarkan kepentingan pihak lain, dan ketika keputusan strategisnya terus dipengaruhi kekuatan eksternal, maka ketergantungan akan menjadi sesuatu yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pertanyaannya kemudian: sampai kapan keadaan itu akan berlangsung?

Bagi Khamenei, jawabannya terletak pada perubahan sikap. Dunia Islam harus berhenti menjadi objek sejarah dan mulai menjadi subjek yang menentukan sejarahnya sendiri.

Umat Islam, menurutnya, hari ini memiliki modal yang jauh lebih besar daripada yang sering dibayangkan. Jumlah penduduknya sangat besar. Wilayahnya luas. Sumber daya alamnya melimpah. Di berbagai negara Muslim terdapat generasi muda yang berpendidikan, para ilmuwan, cendekiawan, ulama, serta kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki energi dan kemampuan untuk membangun.

Baca Juga  Haji dan Kesadaran Global: Mengapa Umat Tak Boleh Hidup dalam Dunia yang Sempit

Semua itu adalah potensi.

Namun potensi tidak akan menjadi kekuatan jika tidak disertai kemauan untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Karena itu, Khamenei menyerukan agar generasi muda, para ilmuwan, ulama, intelektual, politisi, partai, dan berbagai kelompok masyarakat mengambil bagian dalam upaya membalikkan keadaan. Mereka harus menghadapi warisan masa lalu yang menurutnya ditandai oleh kelemahan, ketergantungan, dan ketidakmampuan menentukan arah sendiri.

Di sinilah konsep resistensi menjadi penting.

Dalam perspektif yang disampaikan Khamenei, resistensi bukan semata-mata tindakan militer. Ia lebih luas daripada itu. Resistensi adalah sikap untuk menolak dominasi, menolak intervensi yang merampas kedaulatan, dan mempertahankan hak sebuah bangsa untuk menentukan masa depannya sendiri.

Sebuah bangsa yang ingin merdeka secara politik tidak cukup hanya memiliki bendera dan pemerintahan. Ia juga harus memiliki kemampuan untuk berpikir secara mandiri, mengembangkan ilmu pengetahuan, menguasai teknologi, mengelola sumber daya, dan mengambil keputusan berdasarkan kepentingan nasionalnya sendiri.

Karena itu, perlawanan dalam pengertian ini memiliki dimensi politik, ekonomi, intelektual, budaya, dan sosial.

Gagasan inilah yang, menurut Khamenei, menjadi salah satu inti dari pesan Republik Islam Iran kepada dunia Islam: umat harus membangun masa depannya sendiri dengan bertumpu pada ajaran dan nilai-nilai Islam, bukan menyerahkan arah hidupnya kepada kekuatan asing.

Pandangan tersebut tentu berhadapan dengan kepentingan negara-negara besar.

Khamenei menilai bahwa Amerika Serikat dan sekutunya memiliki sensitivitas tinggi terhadap istilah “resistensi”. Sebab, jika bangsa-bangsa di dunia Islam mulai memiliki kemandirian politik dan keberanian untuk menentukan jalan mereka sendiri, maka pengaruh kekuatan eksternal akan berkurang.

Di sinilah konflik kepentingan itu muncul.

Bagi satu pihak, resistensi berarti mempertahankan kedaulatan. Bagi pihak lain, resistensi dapat dilihat sebagai ancaman terhadap tatanan geopolitik yang telah terbentuk.

Baca Juga  Peradaban Tidak Tumbuh dari Bumi, Tetapi dari Keberanian untuk Berpikir

Perbedaan cara pandang tersebut kemudian melahirkan berbagai bentuk tekanan.

Namun ada satu hal yang menjadi inti dari gagasan Khamenei: sebuah bangsa tidak akan pernah benar-benar merdeka jika masa depannya terus ditentukan oleh pihak lain.

Kemandirian bukan berarti mengisolasi diri dari dunia. Sebaliknya, sebuah bangsa yang kuat dapat bekerja sama dengan siapa pun, tetapi kerja sama itu harus berlangsung atas dasar kehormatan dan kepentingan bersama, bukan ketergantungan.

Dunia Islam, dengan segala kekayaan dan potensinya, karena itu dituntut untuk membangun kembali kepercayaan dirinya.

Kepercayaan diri itu dimulai dari kesadaran bahwa umat memiliki kemampuan untuk berdiri sendiri.

Ia tumbuh dari universitas yang menghasilkan ilmu. Dari laboratorium yang melahirkan teknologi. Dari masyarakat yang memiliki kesadaran politik. Dari generasi muda yang tidak takut menghadapi masa depan. Dari ulama dan intelektual yang mampu menawarkan gagasan. Dari negara-negara Muslim yang berani bekerja sama berdasarkan kepentingan bersama.

Dalam kerangka itu, resistensi bukan sekadar slogan politik. Ia adalah upaya untuk memulihkan kembali kemampuan umat dalam menentukan arah sejarahnya.

Tentu saja, perjalanan menuju kemandirian tidak sederhana. Dunia Islam sendiri menghadapi berbagai persoalan internal: konflik, perpecahan, kesenjangan ekonomi, lemahnya institusi, dan pertarungan kepentingan di antara negara-negara Muslim. Bahkan, menurut Khamenei, dukungan sebagian pemerintah di kawasan terhadap kepentingan kekuatan asing menjadi salah satu persoalan yang semakin memperumit keadaan.

Namun justru karena itulah, masa depan dunia Islam tidak dapat hanya bergantung pada keputusan pemerintah. Ia membutuhkan keterlibatan masyarakat.

Generasi muda harus memiliki keberanian untuk berpikir. Ilmuwan harus memiliki kebebasan untuk menciptakan. Intelektual harus berani menawarkan gagasan. Ulama harus mampu membimbing masyarakat. Dan para pemimpin politik harus memiliki keberanian untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas tekanan eksternal.

Baca Juga  Islam dan Lingkungan Hidup: Ketika Iman Menjadi Etika Menjaga Bumi

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak pernah memberikan kemerdekaan kepada bangsa yang tidak bersedia memperjuangkannya.

Mungkin dunia Islam hari ini sedang berada di persimpangan. Di satu sisi terdapat warisan panjang ketergantungan dan intervensi. Di sisi lain terbuka kemungkinan untuk membangun masa depan yang lebih mandiri.

Pertanyaannya bukan lagi apakah umat Islam memiliki sumber daya untuk bangkit. Mereka memilikinya.

Pertanyaannya adalah apakah umat memiliki kemauan untuk menggunakan sumber daya itu bagi dirinya sendiri.

Dalam perspektif Khamenei, jawabannya terletak pada keberanian untuk melakukan resistensi: menolak dominasi, menjaga kedaulatan, membangun kekuatan dari dalam, dan mengembalikan kendali atas masa depan kepada bangsa-bangsa Muslim sendiri.

Karena sebuah bangsa mungkin kehilangan banyak hal dalam sejarahnya. Ia mungkin pernah dijajah, dilemahkan, bahkan dipaksa berjalan di atas jalan yang ditentukan orang lain.

Tetapi selama ia masih memiliki kesadaran untuk bangkit, ia belum kehilangan masa depannya.

Dan bagi dunia Islam, masa depan itu hanya akan benar-benar menjadi milik mereka ketika mereka berani mengambil kembali kendali atas arah sejarahnya sendiri.

Bagikan:
Terkait
Komentar