KHAMENEI.ID – Kebangkitan sebuah gagasan tidak selalu dimulai dari gedung pemerintahan. Kadang ia muncul dari jalan-jalan, ruang kelas, masjid, kampus, medan perjuangan, dan terutama dari generasi muda yang mulai mempertanyakan kembali identitas mereka.
Itulah yang oleh Syahid Ali Khamenei qs dibaca sebagai salah satu tanda paling penting dari perubahan dunia Islam: gelombang Islamisme semakin meluas, terutama di kalangan anak muda dan kaum intelektual di kawasan.
Menurutnya, berbagai perkembangan yang terjadi selama beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa Islam tidak sedang mengalami kemunduran sebagaimana pernah diramalkan. Sebaliknya, Islam justru sedang memasuki fase baru kebangkitan.
Fenomena itu, dalam pandangannya, dapat dilihat dari berbagai penjuru dunia Muslim.
Palestina menjadi salah satu contoh paling kuat. Intifadah dan perjuangan rakyat Palestina menunjukkan bahwa identitas Islam dapat menjadi sumber mobilisasi sosial dan politik di tengah konflik berkepanjangan. Di Lebanon, kemenangan Hizbullah dan gerakan perlawanan Islam terhadap Israel dipandang sebagai contoh lain bahwa kekuatan yang sebelumnya dianggap tidak seimbang ternyata tidak selalu menentukan hasil akhir.
Di Irak, perubahan politik juga disebut sebagai bagian dari proses tersebut. Afghanistan menjadi contoh lain melalui berakhirnya pendudukan Soviet dan jatuhnya pemerintahan yang didukung kekuatan asing.
Semua peristiwa itu, bagi Khamenei, tidak berdiri sendiri.
Ia melihat adanya pola yang lebih besar: dunia Muslim sedang mengalami proses pemulihan kepercayaan diri.
Selama bertahun-tahun, umat Islam dibiasakan melihat dirinya sebagai pihak yang selalu tertinggal. Negara-negara Muslim diposisikan sebagai konsumen teknologi, objek kebijakan internasional, dan arena persaingan kekuatan besar. Dalam situasi seperti itu, persoalan terbesar bukan hanya kemiskinan material, melainkan hilangnya keyakinan bahwa umat Islam mampu menentukan masa depannya sendiri.
Karena itu, kebangkitan identitas memiliki arti politik yang jauh lebih besar daripada sekadar peningkatan simbol-simbol keagamaan.
Ketika seorang anak muda Muslim mulai bertanya siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan nilai apa yang ingin ia perjuangkan, pertanyaan itu pada akhirnya dapat berkembang menjadi pertanyaan tentang struktur sosial dan politik yang mengelilinginya.
Mengapa negara Muslim harus selalu bergantung kepada kekuatan asing?
Mengapa keadilan internasional terasa berbeda ketika yang menjadi korban adalah masyarakat Muslim?
Mengapa Palestina dapat berlangsung begitu lama tanpa penyelesaian yang dianggap adil?
Dan mengapa kemajuan ilmu pengetahuan seolah harus dibayar dengan meninggalkan identitas agama?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu dapat menjadi pintu masuk bagi lahirnya kesadaran baru.
Khamenei juga memasukkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Iran sebagai salah satu indikator penting. Dalam pandangannya, kemajuan tersebut menunjukkan bahwa sebuah negara Muslim dapat mengembangkan kapasitas ilmiahnya meskipun berada di bawah tekanan dan sanksi ekonomi.
Namun, mungkin tanda yang paling menarik justru muncul di luar dunia Muslim.
Ia menyoroti tumbuhnya kesadaran identitas di kalangan minoritas Muslim di berbagai negara Barat. Artinya, Islam tidak hanya kembali menguat di negara-negara mayoritas Muslim. Identitas keislaman juga menemukan bentuk baru di tengah masyarakat Barat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa agama tidak selalu menghilang ketika berhadapan dengan modernitas.
Sebaliknya, modernitas justru dapat melahirkan generasi yang semakin kritis terhadap nilai-nilai yang diwariskan kepadanya.
Di sinilah kaum muda dan intelektual menjadi penting.
Generasi baru tidak hidup dalam dunia yang sama dengan generasi sebelumnya. Mereka memiliki akses terhadap informasi global, menyaksikan perang, ketidakadilan, krisis ekonomi, dan pertarungan politik secara langsung. Mereka juga semakin mampu membandingkan narasi yang berbeda.
Jika sebelumnya satu kekuatan dapat menentukan bagaimana sebuah konflik harus dipahami, sekarang monopoli tersebut semakin sulit dipertahankan.
Karena itu, gelombang Islamisme yang dibicarakan Khamenei tidak semata-mata soal bertambahnya jumlah orang yang mengidentifikasi diri sebagai Muslim. Ia berbicara tentang kembalinya Islam sebagai kerangka berpikir.
Islam kembali ditanyakan dalam persoalan politik, keadilan, kemerdekaan, ilmu pengetahuan, identitas, bahkan masa depan peradaban.
Namun, kebangkitan itu menurutnya belum selesai.
Kemenangan-kemenangan yang telah dicapai tidak boleh melahirkan kesombongan. Justru tantangan berikutnya lebih berat. Umat Islam masih menghadapi berbagai tekanan politik, ekonomi, militer, dan propaganda.
Karena itu, Khamenei mengingatkan bahwa perjalanan tersebut membutuhkan iman, keikhlasan, harapan, perjuangan, wawasan, dan kesabaran.
Kebangkitan yang hanya menghasilkan emosi sesaat akan mudah padam.
Tetapi kebangkitan yang melahirkan manusia berilmu, masyarakat sadar, dan bangsa yang mandiri dapat mengubah arah sejarah.
Barangkali di situlah makna terdalam dari gelombang Islamisme yang kini menyebar di kalangan anak muda dan kaum intelektual: bukan sekadar kembali kepada agama, melainkan kembali percaya bahwa agama dapat berbicara tentang masa depan.







