Syarah Hadits Oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs pada Awal Pelajaran Fikih Tingkat Tinggi tentang Tugas Orang-Orang Kaya

KHAMENEI.ID— Syarah Hadits Oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs pada Awal Pelajaran Fikih Tingkat Tinggi tentang Tugas Orang-Orang Kaya, 10 Maret 2019

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan salawat serta salam atas junjungan kita Muhammad saw dan keluarga beliau yang suci, serta laknat Allah atas seluruh musuh mereka.

عَن اَبی قَتادَةَ عَن داوُدِ بنِ سِرحانَ قالَ: کُنّا عِندَ اَبی عَبدِ اللَّهِ عَلَیهِ السَّلامُ اِذ دَخَلَ‌ عَلَیهِ‌ سَدیرٌ الصَّیرَفیُّ فَسَلَّمَ وَ جَلَسَ فَقالَ لَهُ: یا سَدیرُ! ما کَثُرَ مالُ رَجُلٍ قَطُّ اِلَّا عَظُمَتِ الحُجَّةُ لِلَّهِ تَعالى عَلَیهِ، فَاِن قَدَرتُم اَن تَدفَعوها عَن‌ اَنفُسِکُم فَافعَلوا؛ قالَ لَهُ: یَا بنَ رَسولِ اللَّهِ! بِماذا؟ قالَ: بِ

قَضاءِ حَوائِجِ اِخوانِکُم مِن اَموالِکُم.

Dari Abu Qatadah, dari Dawud bin Sirhan, ia berkata: Kami berada di sisi Abu Abdillah Imam Ja‘far Shadiq a.s. ketika Sadir ash-Shairafi masuk menemui beliau. Ia memberi salam lalu duduk. Maka Imam a.s berkata kepadanya: “Wahai Sadir! Tidaklah harta seseorang menjadi banyak melainkan hujah (tuntutan) Allah Ta‘ala atasnya pun ikut menjadi besar. Jika kalian mampu menolak (menjauhkan) harta yang banyak tersebut dari diri kalian, maka lakukanlah.” Ia berkata kepada beliau: “Wahai putra Rasulullah! Dengan apa?” Beliau bersabda: “Dengan memenuhi kebutuhan saudara-saudara kalian dari harta-harta kalian.” (1)

Dari Dawud bin Sirhan, ia berkata: Kami berada di sisi Abu Abdillah a.s ketika Sadir ash-Shairafi masuk menemui beliau . Ia memberi salam lalu duduk.

Sanad riwayat ini termasuk sanad yang sangat baik. Tentu saja Sadir ash-Shairafi tidak dinyatakan tsiqah (terpercaya dalam ilmu rijal), tetapi itu tidak penting, karena dia bukan perawi; perawinya adalah Dawud bin Sirhan, yaitu Dawud ar-Riqqi yang tsiqah, dan sana

Baca Juga  Kita Tidak Kekurangan Akal, Kita Hanya Terlalu Cepat Bertindak

dnya pun sanad yang baik. Ia berkata: Kami berada di hadapan Imam a.s ketika Sadir ash-Shairafi masuk. Sadir ash-Shairafi adalah seorang penukar uang.  ash-Shairafi berarti penukar uang dan orang yang membeli serta menjual dinar, perak, dan semisalnya. Maka  secara umum ia adalah orang kaya. [Ia memberi salam dan duduk.]

Imam Shadiq a.s berkata kepadanya: “Wahai Sadir! Tidaklah harta seseorang menjadi banyak melainkan hujah Allah Ta‘ala atasnya menjadi besar.”

Segera setelah ia duduk, tampaknya Imam a.s tanpa pendahuluan, tanpa ia bertanya atau mengatakan sesuatu, menoleh kepadanya dan bersabda: “Wahai Sadir! Setiap orang yang uangnya bertambah banyak, hartanya bertambah banyak, maka hujah Allah atasnya juga akan bertambah besar”; karena

اَخَذَ اللّهُ‌ عَلَى‌ العُلَماءِ اَلّا یُقارّوا عَلى کِظَّةِ ظالِمٍ وَ لا سَغَبِ مَظلوم

Allah telah mengambil janji dari para ulama agar mereka tidak berdiam diri atas kekenyangan orang zalim dan kelaparan orang yang dizalimi.(2)

 Allah Ta‘ala telah mengambil perjanjian dan ikatan dari para ulama. Ulama di sini bukan hanya berarti para ahli fiqih dari para cendekiawan, orang-orang berpengetahuan, orang-orang pilihan, para elite masyarakat, agar mereka tidak bersabar terhadap kelaparan orang-orang lapar dan kenyang serta penuhnya perut orang-orang kaya dan orang-orang yang kenyang, melainkan melakukan protes. 

Jika mereka melihat seorang zalim kaya dengan perut penuh dan seorang tertindas yang lapar, maka mereka harus memprotes. Nah, inilah hujah Allah, inilah perjanjian Ilahi. Imam di sini berkata kepada Sadir: Jika harta seseorang bertambah banyak, maka hujah Allah atasnya akan menjadi besar, akan menjadi berat, Allah Ta‘ala akan berhujah atasnya. Sekarang orang yang tidak memiliki harta, mempunyai kewajiban tersendiri, sementara; orang yang memiliki harta, juga tentu keadaannya berbeda; ia memiliki tugas.

Baca Juga  Islam Bukan Sekadar Penampilan: Empat Ukuran Kesalehan yang Paling Sulit Dijaga 

فَاِن قَدَرتُم اَن تَدفَعوها عَن‌ اَنفُسِکُم فَافعَلوا

“Maka jika kalian mampu menolak (menjauhkan) harta yang banyak tersebut dari diri kalian, maka lakukanlah.”

Jika kalian dapat menjauhkan harta berlebih yang kalian miliki dari diri kalian atau menolaknya, maka lakukanlah. Nah, bagaimana cara menolaknya? Misalnya apakah kita harus membuang uang ke air, ke laut, ke sumur? Atau demi menghilangkan uang itu, melakukan pengeluaran yang boros dan tidak pada tempatnya, melakukan pengeluaran sia-sia? Bukan itu yang dimaksud.

Ia berkata kepada beliau: “Wahai putra Rasulullah! Dengan apa?”  Bagaimana kami menolak harta ini dari diri kami?

Beliau bersabda: “Dengan memenuhi kebutuhan saudara-saudara kalian dari harta-harta kalian.”

Jalannya adalah lihatlah kebutuhan apa yang dimiliki saudara-saudara kalian terhadap harta kalian, lalu penuhilah kebutuhan itu.

Sebagian orang juga berkecukupan,[tetapi mereka datang kepada kami — karena harta baitulmal berada di tangan kami, mereka meminta dari kami — misalnya mereka berkata bahwa si fulan membutuhkan, maka Anda berikan sejumlah uang; wahai saudaraku, engkau sendiri punya uang, berikanlah! Jika memang engkau tidak mampu, baru datang kepada baitulmal. 

Maksudnya sebagian orang merasa berat untuk melepaskan dari milik mereka sendiri dan berinfak di jalan Allah. Imam di sini bersabda bahwa harta yang banyak ini, kekayaan yang banyak ini, sejauh yang bisa engkau lakukan, jauhkanlah dari dirimu. Tentu saja “sejauh yang bisa engkau lakukan” maksudnya dengan cara memberikannya kepada saudara-saudara mukminmu dan memenuhi kebutuhan mereka.

 

  1. Amali karya Thusi, majelis kesebelas, halaman 302; “Imam Shadiq a.s bersabda kepada Sadir ash-Shairafi: Wahai Sadir! Jika harta seseorang bertambah banyak, maka hujah Allah atasnya akan menjadi berat dan besar; maka jika kalian mampu menjauhkan harta yang berlebih ini dari diri kalian, lakukanlah. Sadir berkata: Bagaimana kami melakukan hal itu? Imam bersabda: Dengan memenuhi kebutuhan dan keperluan saudara-saudara kalian dari harta kalian.”
  2. Nahjul Balaghah, khutbah ke-3.
Baca Juga  Membersihkan Hati dengan Istighfar: Ketika Dosa Tak Lagi Terlihat, Tapi Terasa
Bagikan:
Terkait
Komentar