Dunia yang Membuat Kita Berhenti Berpikir: Islam, Akal, dan Bahaya Fanatisme

KHAMENEI.ID— Di zaman ketika manusia bisa mengetahui hampir segala hal hanya lewat satu sentuhan layar, justru kemampuan paling dasar untuk berpikir pelan-pelan semakin langka. Orang mudah marah sebelum memahami. Mudah percaya sebelum menimbang. Mudah ikut arus sebelum bertanya: benarkah ini jalan yang tepat?

Barangkali karena itu, sebuah sabda Nabi Muhammad terasa sangat relevan untuk dibaca ulang hari ini:

ما قسّم اللَّه للعباد شیئاً افضل من العقل

“Allah tidak membagikan kepada manusia sesuatu yang lebih berharga daripada akal.”

Kalimat itu pendek, tetapi daya ledaknya besar. Dalam pandangan Islam, kekayaan bukan nikmat tertinggi. Kekuasaan juga bukan. Bahkan ibadah yang dilakukan tanpa kesadaran mendalam tidak otomatis bernilai tinggi. Yang paling mahal justru kemampuan manusia menggunakan akalnya: menimbang, memahami, merenung, lalu memilih jalan hidup dengan sadar.

Di tengah budaya digital yang serba cepat, gagasan ini terdengar hampir asing.

Kita hidup dalam dunia yang memproduksi opini lebih cepat daripada kemampuan manusia mencernanya. Setiap hari orang dijejali slogan politik, potongan video, kemarahan massal, teori konspirasi, hingga standar hidup yang dipaksakan media sosial. Banyak orang akhirnya tidak lagi berpikir; mereka hanya bereaksi.

Padahal akal, dalam tradisi Islam, bukan sekadar kecerdasan teknis. Ia bukan hanya kemampuan menghafal rumus atau memenangkan debat. Akal adalah daya untuk melihat hakikat sesuatu. Ia membantu manusia membedakan mana yang benar dan mana yang hanya tampak benar.

Karena itu Nabi saw melanjutkan sabdanya dengan pernyataan yang mengejutkan: 

“tidur orang berakal lebih baik daripada ibadah orang bodoh yang kehilangan arah”

Bukan karena ibadah itu tidak penting, melainkan karena tindakan tanpa kesadaran bisa berubah menjadi rutinitas kosong. Manusia mungkin bergerak sangat aktif, tetapi tidak tahu ke mana sedang menuju.

Baca Juga  Bukan Karena Salah, Tetapi Karena Terlalu Adil: Tragedi Pemerintahan Imam Ali 

Di titik ini, agama tidak sedang memusuhi spiritualitas emosional. Ia justru ingin menyelamatkan manusia dari kehidupan yang mekanis.

Dalam salah satu doa yang dinisbahkan kepada Imam Musa al-Kazhim a.s terdapat pengakuan yang sangat manusiawi:

اللهم ما بنا من نعمة فمنك

“Ya Allah, segala nikmat yang kami miliki berasal dari-Mu.”

Di antara seluruh nikmat itu, akal ditempatkan sebagai inti yang menghidupkan semuanya. Tanpa akal, kekayaan berubah menjadi keserakahan. Kekuasaan berubah menjadi penindasan. Bahkan agama bisa berubah menjadi alat kebencian.

Mungkin karena itulah para nabi hadir.

Dalam sebuah bagian terkenal dari Nahjul Balaghah, Imam Ali a.s menggambarkan misi para nabi dengan ungkapan yang sangat puitis:

و یثیروا لهم دفائن العقول

“Mereka datang untuk membangkitkan harta karun akal yang terpendam dalam diri manusia.”

Kalimat itu menarik: para Nabi tidak datang untuk menciptakan akal manusia dari nol. Akal itu sudah ada. Ia hanya tertimbun. Terkubur oleh hawa nafsu, ketakutan, fanatisme, kebiasaan, dan propaganda.

Tugas kenabian adalah menggali kembali kesadaran itu.

Karena itu sejarah para nabi sebenarnya bukan hanya sejarah mukjizat, melainkan sejarah pembebasan cara berpikir manusia. Nabi Ibrahim a.s melawan penyembahan berhala bukan semata karena patung itu salah secara teologis, tetapi karena masyarakat telah kehilangan keberanian berpikir kritis. Nabi Musa a.s menghadapi Fir’aun bukan hanya untuk membebaskan budak, melainkan juga untuk menghancurkan sistem yang membuat manusia takut menggunakan akalnya. Dan Nabi Muhammad saw datang di tengah masyarakat yang tercerai-berai oleh fanatisme suku, lalu mengajarkan bahwa kemuliaan manusia ditentukan oleh kesadaran moral, bukan garis keturunan.

Pesan ini terasa sangat modern.

Hari ini, “berhala” tidak selalu berbentuk patung batu. Ia bisa berupa popularitas, algoritma media sosial, kultus tokoh, bahkan ideologi yang diterima mentah-mentah tanpa proses berpikir. Banyak orang mengira dirinya bebas, padahal pikirannya digiring setiap hari oleh arus informasi yang tidak pernah berhenti.

Baca Juga  Membangun Peradaban Islam Modern: Pertaruhan Besar pada Generasi Muda

Ada kritik yang terasa tajam terhadap kebiasaan masyarakat hanya menjadi konsumen pemikiran orang lain. Kita hidup dalam budaya “terjemahan”: ide terjemahan, gaya hidup terjemahan, bahkan kemarahan terjemahan. Orang mengulang slogan yang viral tanpa pernah benar-benar mengujinya dengan akal sehatnya sendiri.

Akibatnya, manusia kehilangan kemandirian berpikir.

Padahal Al-Qur’an berkali-kali menggunakan pertanyaan reflektif: afala ta‘qilun—“Tidakkah kalian berpikir?” Pertanyaan itu bukan sekadar retorika. Ia seperti tamparan lembut kepada manusia agar berhenti hidup secara otomatis.

Sebab hidup yang terlalu mudah dipengaruhi adalah hidup yang rapuh.

Orang yang tidak memakai akalnya mudah diprovokasi. Mudah membenci. Mudah memusuhi orang lain hanya karena berbeda kelompok. Bahkan dalam urusan agama, ia bisa merasa paling suci sambil kehilangan inti ajaran itu sendiri: kebijaksanaan.

Di sinilah akal menjadi penting bukan hanya secara intelektual, tetapi juga moral.

Akal membuat manusia mampu menahan diri sebelum menghakimi. Mampu mendengar sebelum menyerang. Mampu mempertanyakan dirinya sendiri sebelum sibuk menyalahkan dunia.

Dan mungkin itu sebabnya Islam tidak pernah memisahkan ilmu dari kedewasaan berpikir. Pengetahuan tanpa akal sehat bisa melahirkan manusia yang cerdas tetapi berbahaya. Ia tahu banyak hal, tetapi kehilangan kebijaksanaan.

Kita melihat gejalanya hari ini: teknologi berkembang sangat cepat, tetapi kecemasan manusia ikut meningkat. Informasi melimpah, tetapi kebingungan juga membesar. Orang bisa berbicara tentang moralitas sepanjang hari di internet, lalu menghancurkan orang lain hanya karena perbedaan pendapat.

Akal yang dimaksud para nabi tampaknya bukan sekadar kemampuan berpikir cepat, melainkan keberanian untuk mencari kebenaran secara jujur.

Dan itu tidak mudah.

Karena berpikir sering kali menuntut manusia melawan arus. Ia mengharuskan seseorang berhenti sejenak di tengah keramaian, lalu bertanya dengan sunyi: apakah yang saya yakini benar-benar hasil pemahaman, atau hanya hasil pengulangan?

Baca Juga  Tobat Bukan untuk Orang Jahat: Pesan Imam Sajjad a.s bagi Jiwa yang Lelah 

Pertanyaan semacam itu mungkin terasa tidak nyaman. Tetapi justru di sanalah martabat manusia dimulai.

Bahwa manusia tidak diciptakan hanya untuk ikut-ikutan. Ia diberi akal agar mampu menemukan jalan hidupnya sendiri dengan kesadaran, pertimbangan, dan tanggung jawab.

Mungkin itu sebabnya, di tengah begitu banyak nikmat dunia, Nabi saw menyebut akal sebagai yang paling berharga. Karena ketika akal tetap hidup, manusia masih punya peluang untuk menemukan dirinya kembali, bahkan di tengah zaman yang terus berusaha membuatnya berhenti berpikir.

Bagikan:
Terkait
Komentar