Tafsir Surah Al-Fatihah (Bag. 6): Ilusi Kepemilikan Manusia

KHAMENEI.ID –

Bagaimana iman kepada “Malik Yaumiddin” membebaskan manusia dari kesombongan dan ilusi kekuasaan

Apa yang benar-benar kita miliki dalam hidup ini?

Rumah yang kita tempati? Harta yang kita kumpulkan? Jabatan yang kita sandang? Atau bahkan tubuh yang setiap hari kita sebut sebagai “milik saya”?

Dalam lanjutan tafsir Malik Yaumiddin, Imam Ali Khamenei (qs) mengajukan renungan yang mengguncang. Menurut beliau, keyakinan bahwa Allah adalah Pemilik Hari Pembalasan bukan hanya berbicara tentang akhirat. Keyakinan itu juga membongkar ilusi terbesar manusia selama hidup di dunia: merasa memiliki.

Kita terbiasa menggunakan bahasa kepemilikan. Kita berkata, “rumah saya”, “mobil saya”, “uang saya”, bahkan “tubuh saya”. Padahal, menurut Imam Khamenei, seluruh kepemilikan manusia bersifat relatif dan bersandar pada kesepakatan yang berlaku di dunia. Tidak satu pun yang benar-benar mutlak.

Bahkan tubuh kita sendiri bukan sepenuhnya berada dalam kendali kita.

Kita tidak dapat memerintahkan rambut agar tidak memutih. Kita tidak mampu menghentikan penuaan, mengusir penyakit hanya dengan kehendak, atau mencegah kematian ketika waktunya tiba. Sedikit demi sedikit, tubuh yang kita anggap milik sendiri berubah tanpa pernah meminta izin kepada kita.

Al-Qur’an mengingatkan kenyataan itu dengan sangat sederhana:

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“…dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisa’ [4]: 28).

Kelemahan ini tidak berarti manusia tidak memiliki kebebasan sama sekali. Allah menganugerahkan akal, ilmu, dan kehendak agar manusia dapat memilih jalannya. Namun kebebasan itu tetap berada dalam lingkup kehendak Allah swt.

Sebagaimana firman-Nya:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. At-Takwir [81]: 29).

Baca Juga  Menjaga Istiqomah di Tengah Arus Penyimpangan

Dalam pandangan Imam Khamenei, ayat ini bukan untuk melemahkan ikhtiar manusia, melainkan untuk mengajarkan kerendahan hati. Semua kemampuan yang kita banggakan sejatinya adalah amanah. Kita diperintahkan menggunakannya dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak boleh menganggapnya sebagai milik mutlak.

Kesadaran itu akan mencapai puncaknya pada Hari Pembalasan.

Di sana, seluruh ilusi kepemilikan runtuh. Jabatan tidak lagi memiliki arti. Kekayaan tidak dapat ditebuskan. Pengaruh sosial tidak lagi menjadi pelindung. Bahkan anggota tubuh yang dahulu mengikuti kehendak manusia akan menjadi saksi atas apa yang pernah dilakukannya.

Imam Ali Khamenei qs kemudian mengutip sebuah syair Persia yang penuh makna:

“Wahai engkau yang telah merobek jubah Yusuf, bangkitlah dari tidurmu yang panjang sebagai serigala.”

Syair ini menggambarkan bahwa manusia akan tampil sesuai hakikat batinnya. Mereka yang sepanjang hidup memelihara sifat rakus, zalim, dan buas tidak lagi dapat menyembunyikan wataknya di balik topeng kesalehan atau kedudukan. Seluruh potensi yang selama ini tersembunyi akan tampak sebagaimana adanya.

Inilah yang dimaksud Imam Khamenei ketika menyebut Hari Pembalasan sebagai saat “seluruh potensi menjadi nyata”. Dunia adalah tempat menanam karakter, sedangkan akhirat adalah tempat karakter itu menampakkan buahnya.

Karena itu, ketika sebagian manusia memohon kesempatan untuk kembali ke dunia, permintaan itu tidak lagi dikabulkan. Al-Qur’an menggambarkan jawaban yang akan mereka terima:

أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ

“Bukankah Kami telah memberikan umur kepadamu, dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir?” (QS. Fatir [35]: 37).

Ayat ini mengandung pesan yang sangat relevan bagi manusia modern. Kita sering merasa kekurangan waktu untuk memperbaiki diri, padahal yang kerap kurang bukanlah waktu, melainkan kesadaran tentang ke mana hidup ini sedang menuju.

Baca Juga  Kekuatan yang Tak Bisa Dibom: Mengapa Budaya dan Narasi Lebih Menentukan daripada Senjata

Di tengah budaya yang mengukur keberhasilan melalui kepemilikan, jabatan, dan pencapaian materi, tafsir Imam Khamenei mengajak kita memandang semuanya secara proporsional. Islam tidak melarang manusia memiliki harta atau meraih prestasi. Yang dikritik adalah ketika kepemilikan itu dianggap mutlak hingga melahirkan kesombongan dan membuat manusia lupa bahwa semua hanyalah titipan.

Karena itu, iman kepada Malik Yaumiddin bukan sekadar keyakinan tentang kehidupan setelah mati. Ia adalah cara memandang dunia. Semakin kuat keyakinan bahwa seluruh kepemilikan akan kembali kepada Allah, semakin kecil kemungkinan seseorang diperbudak oleh harta, kekuasaan, atau dirinya sendiri.

Barangkali di situlah hikmah mengapa Surah Al-Fatihah mengajarkan kita menyebut Malik Yaumiddin setiap hari. Bukan agar kita hidup dalam ketakutan terhadap akhirat, melainkan agar kita menjalani dunia dengan kesadaran bahwa tidak ada yang benar-benar kita miliki selain kesempatan untuk beramal sebelum Hari Pembalasan tiba.

Bagikan:
Terkait
Komentar