KHAMENEI.ID– Di mata banyak orang, kekuatan sering diukur dari kemampuan mengalahkan lawan. Seorang pemimpin dipuji karena ketegasannya, seorang panglima dikenang karena kemenangan di medan perang. Namun sejarah memperlihatkan ukuran yang lain: seorang pemimpin justru mencapai puncak kemuliaannya ketika ia mampu bersikap lembut kepada mereka yang tidak berdaya. Di titik itulah sosok Imam Ali bin Abi Thalib a.s menghadirkan teladan yang terasa langka, bahkan untuk ukuran zaman modern.
Sulit menemukan tokoh yang dalam satu waktu mampu berdiri seteguh gunung menghadapi kebatilan, tetapi sekaligus selembut embun ketika berhadapan dengan anak yatim, janda, dan kaum tertindas. Dua sifat yang tampak bertolak belakang itu justru berpadu sempurna dalam dirinya.
Ketegasan Imam Ali a.s bukanlah kemarahan yang lahir dari ambisi pribadi. Ia berdiri tanpa kompromi menghadapi kelompok Khawarij, orang-orang yang mengaku paling religius tetapi justru memelintir ajaran agama demi kepentingan sendiri. Mereka melawan pemimpin yang oleh sejarah Islam dipandang sebagai tolok ukur keadilan dan kebenaran. Kepada kelompok semacam itu, Imam Ali a.s tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. Kebenaran, baginya, tidak boleh dikorbankan demi popularitas atau kenyamanan politik.
Namun jika pandangan diarahkan kepada masyarakat kecil, kita menemukan wajah Imam Ali a.s yang sama sekali berbeda.
Ada sebuah kisah yang terus hidup selama berabad-abad. Suatu hari ia melihat seorang perempuan memikul kendi air yang berat. Tanpa memperkenalkan diri, ia mengambil beban itu dan mengantarnya sampai ke rumah sang perempuan. Dalam perjalanan, ia mengetahui bahwa perempuan tersebut adalah istri seorang prajurit yang gugur di medan tugas. Sang suami meninggalkan anak-anak yatim, sementara kemiskinan memaksanya bekerja melayani orang lain agar keluarganya tetap bertahan hidup.
Malam itu Imam Ali a.s tidak dapat tidur dengan tenang. Kegelisahan mengusik hatinya. Pagi-pagi sekali ia memikul sendiri sekeranjang makanan menuju rumah perempuan tersebut. Ketika ada orang yang menawarkan diri membawa beban itu, ia menjawab dengan kalimat yang menggetarkan, “Siapa yang akan memikul tanggung jawabku pada Hari Kiamat?”
Kalimat itu memperlihatkan cara pandang seorang pemimpin yang nyaris terlupakan hari ini. Kekuasaan bukanlah hak istimewa, melainkan amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan. Semakin besar jabatan seseorang, semakin berat pula beban moral yang dipikulnya.
Sesampainya di rumah itu, Imam Ali a.s menawarkan diri membantu pekerjaan keluarga tersebut. Ia mempersilakan sang ibu memilih: apakah akan membuat adonan roti sementara dirinya menghibur anak-anak, atau sebaliknya. Sang ibu memilih membuat roti. Maka Imam Ali a.s memasak daging, menyuapi anak-anak yang kelaparan, bercanda dengan mereka, dan setiap kali memberikan makanan ia berkata lirih, “Anakku, maafkan Ali bin Abi Thalib a.s atas kekurangannya terhadap kalian”
Kalimat itu terasa begitu mengharukan. Ia tidak sedang menyalahkan keadaan, tidak pula menyalahkan bawahan atau sistem pemerintahan. Justru dirinya sendiri yang merasa belum cukup menjalankan tanggung jawab kepada rakyat.
Ketika api tungku menyala dan panasnya menyentuh wajahnya, Imam Ali a.s berkata kepada dirinya sendiri, “Rasakanlah, wahai Ali a.s. Inilah balasan bagi orang yang melalaikan para janda dan anak-anak yatim”
Perempuan itu baru mengetahui bahwa tamunya adalah pemimpin tertinggi kaum Muslimin setelah seorang tetangga mengenalinya. Dengan malu ia meminta maaf. Namun Imam Ali a.s justru menjawab bahwa dialah yang seharusnya merasa malu karena belum mengetahui keadaan keluarga tersebut lebih awal.
Di sinilah kepemimpinan memperoleh makna yang sesungguhnya. Seorang pemimpin bukan hanya hadir ketika rakyat bersorak, melainkan ketika mereka menangis dalam kesunyian.
Namun kelembutan itu tidak membuat Imam Ali a.s kehilangan keberanian. Justru karena kasih sayangnya kepada kaum lemah, ia menjadi sangat keras terhadap setiap bentuk kezaliman.
Hal itu tampak jelas ketika pasukan Syam menyerbu wilayah Anbar. Mereka membunuh pejabat yang ditugaskan Imam Ali a.s, memasuki rumah-rumah penduduk, meneror perempuan dan anak-anak, bahkan merampas perhiasan mereka tanpa perlawanan berarti.
Peristiwa itu melahirkan salah satu pernyataan paling menyentuh dalam Nahjul Balaghah. Imam Ali a.s berkata:
فَلَوْ أَنَّ امْرَأً مُسْلِماً مَاتَ مِنْ بَعْدِ هٰذَا أَسَفًا مَا كَانَ بِهِ مَلُومًا
“Seandainya setelah peristiwa ini ada seorang Muslim meninggal karena begitu dalam kesedihannya, maka ia tidak layak dicela”
Bagi Imam Ali a.s, penderitaan orang yang tak berdaya bukanlah berita biasa. Itu adalah luka yang semestinya dirasakan seluruh masyarakat. Jika hati seseorang tidak lagi terusik melihat perempuan dipermalukan, anak-anak kehilangan rasa aman, atau hak-hak orang kecil dirampas, maka ada sesuatu yang mati di dalam dirinya.
Gagasan ini terasa sangat relevan hari ini. Kita hidup di tengah banjir informasi. Setiap hari layar telepon menghadirkan gambar kemiskinan, pengungsian, peperangan, kekerasan terhadap perempuan, atau anak-anak yang kehilangan masa depan. Ironisnya, semakin sering melihat penderitaan, semakin mudah pula kita menjadi kebal terhadapnya.
Empati berubah menjadi sekadar reaksi beberapa detik sebelum jari menggulir layar ke berita berikutnya.
Imam Ali a.s menawarkan standar yang jauh lebih tinggi. Kepedulian bukanlah rasa iba sesaat, melainkan tindakan nyata. Seorang pemimpin harus turun langsung. Seorang yang mampu harus berbagi. Seorang yang memiliki kekuasaan harus menjadi pelindung bagi mereka yang tidak memiliki siapa pun.
Dalam sosoknya, ketegasan dan kelembutan tidak saling bertentangan. Ia keras terhadap kebatilan justru karena lembut kepada manusia. Ia berani menghunus pedang demi menghentikan kezaliman, tetapi tangan yang sama juga mengusap kepala anak yatim dengan penuh kasih.
Barangkali itulah pelajaran terbesar yang diwariskan Imam Ali a.s kepada dunia: ukuran kemuliaan seseorang tidak terletak pada seberapa banyak orang yang tunduk kepadanya, melainkan pada seberapa banyak orang lemah yang merasa aman karena kehadirannya.
Sebab sebuah masyarakat tidak diukur dari megahnya bangunan atau tingginya kekuasaan, melainkan dari cara mereka memperlakukan mereka yang paling rapuh. Dan sejarah selalu mengingat pemimpin yang menjadikan air mata rakyat sebagai urusan pribadinya.







