KHAMENEI.ID– Di tengah jutaan manusia yang bergerak mengelilingi Ka’bah, perbedaan sebenarnya tampak begitu kecil. Bahasa berbeda, warna kulit berbeda, mazhab berbeda, bahkan tradisi keagamaan yang dibawa dari kampung halaman pun beragam. Namun ketika azan berkumandang di Masjidil Haram, seluruh perbedaan itu seharusnya melebur dalam satu gerakan yang sama: berdiri, rukuk, dan sujud menghadap Tuhan yang satu.
Sayangnya, tidak semua orang memahami bahwa haji bukan hanya ibadah individual. Haji juga merupakan panggung terbesar bagi umat Islam untuk memperlihatkan persatuan. Di tempat itulah dunia menyaksikan bagaimana umat Islam mampu hidup berdampingan meski berasal dari latar belakang yang berbeda.
Karena itu, perilaku seorang jamaah haji tidak pernah menjadi urusan pribadi semata. Di Masjidil Haram, di Masjid Nabawi, di kompleks pemakaman Baqi, di kawasan para syuhada Uhud, di Mina, maupun di Arafah, setiap tindakan seorang Muslim sesungguhnya sedang berbicara kepada dunia. Ia membawa citra Islam yang lebih luas daripada dirinya sendiri.
Seorang jamaah yang dibentuk oleh nilai-nilai Al-Qur’an akan terlihat dari sikapnya. Ia tidak mudah merendahkan orang lain. Ia tidak sibuk mencari perbedaan. Ia tidak menjadikan ibadah sebagai alasan untuk menciptakan jarak dengan sesama Muslim. Sebaliknya, ia hadir dengan kerendahan hati, kasih sayang, dan semangat kebersamaan. Dalam ruang yang dipenuhi jutaan manusia, akhlak seperti itulah yang menjadi bahasa universal yang dapat dipahami siapa saja.
Di sinilah menariknya perhatian para Imam Ahlul Bait terhadap persoalan persatuan umat. Dalam berbagai riwayat, terdapat penekanan yang sangat kuat agar kaum Muslim tetap menjaga kebersamaan dengan umat Islam lainnya, termasuk dengan menghadiri shalat berjamaah yang dipimpin oleh kaum Sunni.
Salah satu riwayat dari Imam Ja’far ash-Shadiq a.s bahkan menggunakan ungkapan yang sangat mengesankan:
مَنْ صَلَّى مَعَهُمْ فِی الصَّفِّ الْأَوَّلِ كَانَ كَمَنْ صَلَّى خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ ص فِی الصَّفِّ الْأَوَّلِ
“Barang siapa shalat bersama mereka di saf pertama, maka ia seperti orang yang shalat di saf pertama di belakang Rasulullah”
Tentu saja, ungkapan ini tidak dimaksudkan untuk menyamakan imam shalat mana pun dengan Nabi Muhammad saw. Imam Shadiq a.s tidak sedang membandingkan kualitas spiritual seorang imam masjid dengan Rasulullah saw. Pesan yang ingin disampaikan jauh lebih dalam daripada itu.
Yang sedang ditekankan adalah nilai persatuan.
Dalam situasi ketika perpecahan dapat merusak tubuh umat, hadir bersama dalam satu saf memiliki makna yang sangat besar. Shalat berjamaah bukan sekadar ritual ibadah, tetapi juga simbol sosial. Ia menunjukkan bahwa umat Islam mampu berdiri berdampingan meskipun memiliki perbedaan pandangan dalam beberapa persoalan fikih maupun sejarah.
Makna ini pada era modern semakin menemukan tempatnya. Kita hidup di zaman ketika perbedaan mudah berubah menjadi konflik. Media sosial memberi ruang yang luas bagi pertengkaran identitas. Orang sering kali lebih bersemangat memperbesar perbedaan daripada mencari titik temu. Akibatnya, energi umat habis untuk saling menyalahkan, sementara tantangan yang lebih besar justru datang dari luar.
Dalam konteks seperti itu, haji mengajarkan pelajaran yang sangat berharga. Ketika jutaan Muslim berkumpul dari berbagai mazhab dan negara, yang ditonjolkan bukanlah identitas kelompok, melainkan identitas keislaman yang lebih luas. Tidak ada papan nama yang memisahkan jamaah berdasarkan aliran. Tidak ada saf khusus yang menandai perbedaan mazhab. Yang terlihat hanyalah lautan manusia yang bergerak menuju arah yang sama.
Kesadaran inilah yang pernah ditekankan oleh Imam Khomeini qs kepada jamaah haji Iran. Ia berulang kali mengingatkan agar para jamaah ikut menghadiri salat berjamaah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Menurutnya, kehadiran itu bukan sekadar mengikuti sebuah kegiatan ibadah, melainkan memperlihatkan secara nyata wajah persatuan umat Islam.
Pesannya sederhana tetapi kuat: jangan sampai ketika ribuan orang sedang berdiri dalam shalat berjamaah, justru terlihat ada jamaah yang sibuk berjalan sendiri membawa barang-barangnya menuju penginapan. Pemandangan seperti itu mungkin tampak sepele, tetapi dapat mengirim pesan yang salah. Seolah-olah kebersamaan tidak penting dan persatuan tidak memiliki nilai.
Padahal, dalam kehidupan sosial, simbol sering kali berbicara lebih keras daripada kata-kata.
Hari ini, umat Islam menghadapi banyak tantangan global. Kemiskinan, ketimpangan pendidikan, konflik politik, perang informasi, hingga berbagai bentuk islamofobia memerlukan respons yang matang dan kolektif. Tantangan sebesar itu tidak mungkin dihadapi oleh kelompok-kelompok kecil yang sibuk mempertahankan batas identitasnya masing-masing.
Persatuan tentu bukan berarti menghapus seluruh perbedaan. Islam sejak awal tumbuh bersama keragaman pandangan. Yang dituntut adalah kemampuan untuk menjadikan perbedaan sebagai kekayaan, bukan sebagai alasan permusuhan. Shalat berjamaah dalam ibadah haji menjadi salah satu simbol paling konkret dari gagasan tersebut.
Di hadapan Ka’bah, semua orang berdiri sejajar. Tidak ada keistimewaan karena kebangsaan, warna kulit, atau mazhab. Yang membedakan hanyalah kualitas ketakwaan yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia.
Mungkin itulah sebabnya para Imam memberikan perhatian besar pada simbol-simbol persatuan. Mereka memahami bahwa umat yang terpecah akan mudah dilemahkan, sedangkan umat yang mampu berdiri dalam satu saf akan memiliki kekuatan moral yang jauh lebih besar.
Pada akhirnya, haji mengajarkan bahwa persatuan bukan sekadar slogan yang diucapkan dalam pidato atau ditulis dalam spanduk. Persatuan harus tampak dalam tindakan nyata. Kadang-kadang, ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: berdiri bersama saudara seiman dalam satu barisan salat, mengesampingkan perbedaan, lalu menghadap Tuhan yang sama.
Dari saf-saf itulah dunia seharusnya melihat wajah Islam yang sesungguhnya: agama yang mengajarkan persaudaraan, kerendahan hati, dan kemampuan untuk bersatu di tengah keragaman.







