KHAMENEI.ID— Ada masyarakat yang hancur bukan karena perang. Bukan pula karena kemiskinan. Mereka runtuh perlahan dari dalam: ketika manusia mulai iri pada kebahagiaan sesamanya, rakus terhadap dunia, dan terbiasa memelintir kebenaran.
Barangkali itulah sebabnya Nabi Muhammad saw memberi peringatan yang sangat tajam kepada Imam Ali a.s. Dalam sebuah wasiat yang diriwayatkan dalam berbagai kitab klasik Islam, Nabi berkata:
يَا عَلِيُّ أَنْهَاكَ عَنْ ثَلَاثِ خِصَالٍ عِظَامٍ: الْحَسَدِ وَالْحِرْصِ وَالْكَذِبِ
“Wahai Ali, aku melarangmu dari tiga sifat buruk yang besar: hasad, kerakusan, dan dusta.”
Pesan itu tampak sederhana. Hanya tiga kata. Namun jika diperhatikan lebih dalam, hampir seluruh kerusakan sosial hari ini dapat dilacak pada tiga penyakit tersebut. Pertengkaran keluarga, persaingan politik yang kotor, korupsi, fitnah media sosial, bahkan runtuhnya persahabatan, semuanya sering bermula dari salah satu dari tiga hal itu: iri, rakus, atau bohong.
Yang menarik, Nabi tidak menyebut tiga dosa besar yang bersifat ritual. Tidak berbicara tentang ibadah yang kurang atau amalan yang sedikit. Yang disentuh justru watak batin manusia. Sebab dari sanalah masyarakat dibentuk atau dihancurkan.
Hasad adalah racun pertama. Ia bekerja diam-diam, sering tanpa suara. Orang yang hasad tidak selalu menyerang secara terbuka. Kadang ia hanya merasa gelisah melihat orang lain bahagia. Hatinya sempit ketika melihat saudaranya berhasil, kawannya dipuji, atau tetangganya lebih beruntung.
Dan anehnya, hasad paling sering muncul bukan kepada orang jauh, melainkan kepada mereka yang dekat. Saudara kepada saudara. Teman kepada teman. Rekan kerja kepada rekan kerja. Semakin dekat hubungan emosional, kadang semakin besar potensi iri yang tersembunyi.
Di sinilah hasad menjadi berbahaya. Ia merusak hubungan tanpa perlu alasan yang nyata. Orang yang tadinya ingin membantu berubah dingin. Yang semula akrab mulai menjauh. Dari hati yang iri lahir gosip, fitnah, sabotase, bahkan kegembiraan diam-diam saat orang lain gagal.
Padahal sebuah masyarakat sehat dibangun di atas rasa saling mencintai dan saling percaya. Ketika hasad tumbuh, kehangatan sosial perlahan mati. Orang tidak lagi melihat keberhasilan orang lain sebagai inspirasi, tetapi ancaman.
Media sosial memperlihatkan fenomena ini dengan sangat telanjang. Kita hidup di zaman ketika kehidupan orang lain dipamerkan setiap hari: pencapaian, kekayaan, liburan, penghargaan, wajah bahagia. Dan manusia modern, tanpa sadar, menjadi penonton permanen keberhasilan orang lain. Dari situlah iri sering tumbuh secara halus. Bukan karena hidup kita buruk, tetapi karena kita terlalu sibuk membandingkan.
Racun kedua adalah hirsh kerakusan atau ketamakan. Dalam penjelasan para ulama klasik, rakus bukan sekadar ingin memiliki sesuatu. Rakus adalah ketika keinginan membuat manusia kehilangan kendali moral.
Gambaran yang digunakan sangat menarik: seperti anak kecil yang berlari menuju benda yang ia inginkan tanpa peduli apa yang ditabrak di sepanjang jalan. Gelas pecah, makanan tumpah, orang tersenggol, semua tidak penting baginya selain mencapai apa yang diinginkan.
Begitulah kerakusan bekerja dalam diri manusia dewasa.
Ketika seseorang terlalu rakus terhadap uang, jabatan, popularitas, atau kenikmatan dunia, ia mulai kehilangan kemampuan untuk berhenti dan mempertimbangkan akibat. Ia tidak lagi peduli siapa yang terluka. Yang penting target tercapai.
Dari kerakusan lahir banyak tragedi modern. Korupsi yang menghancurkan rakyat kecil. Persaingan bisnis yang mengorbankan kemanusiaan. Eksploitasi alam yang merusak masa depan. Bahkan hubungan cinta pun sering berubah menjadi transaksi karena manusia terlalu lapar memiliki.
Yang membuat kerakusan berbahaya adalah sifatnya yang tidak pernah selesai. Semakin banyak diperoleh, semakin besar rasa kurangnya. Dunia modern justru memelihara rasa lapar ini. Kita didorong untuk terus membeli, terus mengejar, terus merasa belum cukup.
Akibatnya, manusia modern tampak sibuk, tetapi kehilangan ketenangan. Memiliki banyak hal, tetapi sulit merasa cukup.
Lalu datang racun ketiga: dusta.
Barangkali inilah penyakit paling mengerikan hari ini. Sebab dusta bukan hanya ucapan palsu. Ia adalah upaya membalikkan kenyataan. Menampilkan yang salah seolah benar, dan yang benar seolah salah.
Al-Qur’an berkali-kali memuji orang-orang yang jujur ash-shadiqin. Karena kejujuran bukan hanya etika pribadi, melainkan fondasi peradaban. Tanpa kepercayaan, tidak ada keluarga yang utuh, bisnis yang sehat, hukum yang adil, atau negara yang stabil.
Namun kita hidup di era ketika kebohongan justru diproduksi secara massal. Informasi dipelintir, citra direkayasa, fakta dipilih sesuai kepentingan. Di media sosial, manusia sering lebih sibuk terlihat benar daripada benar-benar jujur.
Kebohongan modern bahkan lebih rumit daripada sekadar ucapan palsu. Kadang ia hadir dalam bentuk pencitraan. Menampilkan kesalehan yang tidak nyata. Menjual kepedulian untuk popularitas. Memainkan emosi publik demi keuntungan politik atau ekonomi.
Dan semakin sering dusta dilakukan, semakin manusia kehilangan sensitivitas terhadap kebenaran. Kebohongan yang diulang terus-menerus akhirnya terasa normal.
Di titik inilah pesan Nabi saw kepada Ali a.s terasa sangat relevan untuk zaman sekarang. Tiga penyakit itu ternyata bukan masalah moral pribadi semata. Mereka adalah sumber kerusakan sosial yang sistemik.
Hasad menghancurkan cinta. Rakus menghancurkan keadilan. Dusta menghancurkan kebenaran.
Dan ketika tiga hal ini berkumpul dalam sebuah masyarakat, yang lahir adalah dunia penuh kecurigaan, persaingan brutal, dan kehilangan makna.
Mungkin karena itu agama tidak hanya berbicara tentang surga dan neraka di akhirat, tetapi juga tentang kesehatan jiwa manusia di dunia. Sebab masyarakat yang dipenuhi iri, kerakusan, dan kebohongan sebenarnya sedang menciptakan nerakanya sendiri di sini, sekarang, dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan Nabi saw itu singkat, tetapi seperti cermin yang memantulkan wajah zaman modern. Dan mungkin pertanyaan terpentingnya bukan lagi apakah tiga penyakit itu ada di sekitar kita, melainkan: seberapa jauh ia sudah tumbuh diam-diam di dalam diri kita sendiri?
hasad dalam Islam, bahaya kerakusan dan ketamakan, dampak dusta dalam kehidupan sosial, pesan Nabi kepada Imam Ali, penyakit hati manusia modern, krisis moral masyarakat modern







