“Jahiliyah Modern”: Kritik Imam Ali Khamenei atas Modernitas dan Peradaban Barat

KHAMENEI.ID – Di tengah gemerlap kemajuan teknologi dan sains, muncul sebuah pertanyaan yang mengusik: apakah dunia modern benar-benar lebih beradab? Dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs mengajukan kritik tajam yang menggugah: banyak penyakit moral yang dulu dihadapi Nabi Muhammad saw di Mekah, kini muncul kembali dalam skala global—lebih terorganisir, lebih luas, dan jauh lebih kuat. Ia menyebut fenomena ini sebagai bentuk “jahiliyah modern”.

Pandangan ini bukan sekadar retorika. Ia berangkat dari perbandingan historis yang berani: masyarakat Arab pra-Islam dikenal sebagai masyarakat jahiliyah—era kegelapan moral, keserakahan, ketimpangan sosial, dan kekacauan nilai. Nabi Muhammad saw hadir untuk menantang struktur sosial tersebut. Namun, menurut Imam Khamenei, apa yang dulu dilawan Nabi kini hadir kembali dalam wajah baru: modern, canggih, dan terlegitimasi secara sistemik.

Dalam kerangka pemikirannya, fondasi utama peradaban Barat modern adalah keserakahan. Beliau menggambarkan kehidupan modern sebagai sistem yang berdiri di atas “haris dan tamak”—keinginan tak terbatas untuk memiliki dan menguasai. Segala sesuatu diukur dengan uang: nilai moral, spiritualitas, bahkan kemanusiaan. Ketika uang menjadi ukuran utama, nilai-nilai lain perlahan kehilangan makna.

Kritik ini menyentuh inti sistem ekonomi dan politik global. Dalam ceramah tersebut, Imam Khamenei menilai bahwa banyak kebijakan dan sistem pemerintahan modern bergerak untuk melayani kepentingan korporasi besar dan kartel ekonomi. Ketimpangan bukan lagi efek samping, melainkan konsekuensi logis dari sistem yang memuja akumulasi kapital. Dunia, dalam gambaran ini, bergerak menuju konsentrasi kekayaan yang semakin sempit, sementara jurang sosial melebar.

Sains dan teknologi—dua simbol kebanggaan peradaban modern—tak luput dari sorotan. Imam Khamenei mengakui bahwa ilmu pengetahuan mampu menyelamatkan manusia, misalnya melalui penemuan vaksin dan obat-obatan. Namun, ia menegaskan sisi gelapnya: teknologi yang sama juga melahirkan senjata pemusnah massal, senjata kimia, dan bom atom yang mampu memusnahkan manusia dalam skala jauh lebih besar. Sains, dalam konteks ini, menjadi pedang bermata dua—penyelamat sekaligus penghancur.

Baca Juga  Islamofobia dan “Islam Sejati”: Mengapa Serangan terhadap Islam Justru Memicu Kebangkitan Generasi Muda

Gagasan tersebut mengingatkan pada pesan Al-Qur’an tentang bahaya keserakahan yang tak terkendali:

“أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ” — “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsur: 1).

Ayat singkat ini seolah menjadi refleksi atas dunia yang terobsesi pada pertumbuhan tanpa batas, pada angka dan statistik yang terus meningkat, namun sering kali mengabaikan kualitas kemanusiaan.

Imam Khamenei juga menyoroti apa yang ia sebut sebagai “kekacauan moral global”. Ia melihat fenomena dekadensi moral sebagai gejala yang semakin meluas dan bahkan dilegitimasi melalui argumentasi intelektual. Dalam pandangannya, berbagai bentuk penyimpangan moral kini tidak hanya terjadi, tetapi juga diberi pembenaran filosofis dan ideologis. Inilah yang membuatnya menilai bahwa kerusakan moral masa kini lebih sistematis dibanding masa lalu.

Perbandingan dengan era jahiliyah menjadi semakin jelas. Dahulu, keburukan moral terjadi dalam lingkup lokal dan terbatas. Kini, melalui media, teknologi, dan globalisasi, nilai-nilai tersebut menyebar lintas batas negara. Apa yang dulu merupakan kebiasaan lokal kini menjadi arus global. Dalam perspektif Khamenei, perbedaannya bukan pada jenis kerusakan, melainkan pada skala dan intensitasnya.

Konsep “jahiliyah modern” kemudian muncul sebagai metafora besar. Ia bukan sekadar kritik terhadap Barat, melainkan peringatan bagi dunia Islam agar tidak terjebak dalam euforia modernitas tanpa kritik. Dalam kerangka ini, modernitas tidak otomatis berarti kemajuan moral. Kemajuan teknologi bisa berjalan beriringan dengan kemunduran etika.

Di sinilah relevansi pidato tersebut terasa bagi pembaca modern. Dunia hari ini memang menyaksikan paradoks: kemajuan teknologi yang luar biasa, namun disertai krisis kepercayaan, kesenjangan ekonomi, konflik global, dan kegelisahan spiritual. Banyak orang hidup lebih nyaman secara material, tetapi merasa semakin kosong secara makna.

Imam Ali Khamenei tampaknya ingin mengajak audiensnya melihat modernitas dengan kacamata kritis. Ia tidak menolak kemajuan, tetapi mempertanyakan arah dan fondasinya. Jika peradaban dibangun semata di atas keserakahan, ia mengingatkan, maka hasilnya bukanlah peradaban yang memanusiakan, melainkan sistem yang memperbesar kerusakan dalam skala global.

Baca Juga  Bukan Dunia yang Tenang, Tetapi Hati yang Ditenangkan

Pada akhirnya, istilah “jahiliyah modern” bukan sekadar label polemis. Ia adalah peringatan reflektif bahwa kemajuan tanpa nilai dapat membawa manusia kembali pada lingkaran lama—lingkaran keserakahan, ketimpangan, dan kekacauan moral—hanya saja kali ini dengan teknologi yang jauh lebih canggih.

Dan mungkin di sinilah ironi terbesar zaman kita: ketika manusia berhasil menaklukkan ruang angkasa, tetapi masih berjuang menaklukkan dirinya sendiri.

Bagikan:
Terkait
Komentar