Pidato Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs. dalam Pertemuan dengan Para Penyelenggara Haji
9 Oktober 2010
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Dengan penuh kerendahan kita memohon kepada Allah Swt. agar senantiasa memberikan taufik kepada satu per satu para penanggung jawab dan pelaksana gerakan agung ini serta kewajiban yang membanggakan ini, untuk menunaikan hak-hak dan tugas-tugas yang telah dibebankan kepada pundak setiap Muslim khususnya kepada para pengelola.
Yang penting adalah bahwa setiap orang, setiap penanggung jawab, setiap individu yang melaksanakan urusan haji, harus memandang dirinya bertanggung jawab di hadapan gerakan agung kolektif dunia Islam dan umat Islam ini. Jika gerakan kesatuan agung dari umat Islam ini terlaksana secara sehat, sempurna, dan tanpa cacat, maka dampak dan berkahnya pada setiap tahun akan memberi manfaat dan kenikmatan kepada seluruh dunia Islam . bahkan dalam satu makna, kepada seluruh umat manusia
لِیَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ
“agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka” (QS. Al-Hajj 27)
Sesuai dengan apa yang telah kami dengar, apa yang disampaikan dan dilaporkan oleh para penanggung jawab yang terhormat di kantor perwakilan (ba‘tsah) dan di organisasi haji, serta berbagai persiapan yang telah mereka pikirkan dan jelaskan, adalah hal-hal yang sangat perlu dan bermanfaat. semua pokok bahasan ini menurut kami penting; akan tetapi poinnya di sini adalah bahwa para pengelola dan penanggung jawab di berbagai tingkatan harus memperhatikan bahwa apa yang telah mereka rancang, apa yang telah mereka anggap perlu dan apa yang mereka kehendaki untuk terlaksana, harus benar-benar terlaksana dalam praktik dan terwujud.
Perancangan dan perencanaan adalah separuh dari persoalan; separuh yang lebih penting adalah memperhatikan agar pekerjaan-pekerjaan yang telah diputuskan untuk dilakukan itu benar-benar terwujud di luar; kemudian hasil dari apa yang telah dilakukan itu diperhatikan; jika dalam kualitas perancangan dan perencanaan atau dalam kualitas pelaksanaan terdapat kekurangan dan cacat, maka hal itu harus diamati dan dilihat dengan teliti serta dengan mata yang tajam, dan harus diupayakan untuk menghilangkannya. Hal-hal ini diperlukan.
Mengapa kami begitu menekankan hal ini? Karena haji itu penting. Haji berada di puncak perhatian Syari‘ (Pembuat syariat yang suci). Khususnya hari ini, ketika Anda mengamati, Anda melihat seakan-akan haji lebih penting daripada sebelumnya, lebih diperlukan dan lebih dibutuhkan. Dari dua sisi, haji itu penting; baik untuk diri kita sendiri, umat Islam, maupun dari sisi internasional. Umat Islam selama berabad-abad, selama bertahun-tahun yang panjang, dibuat lumpuh, dihinakan, diremehkan, dibuat tidak bersemangat, diputuskan harapannya, dan dengan alat-alat baru mereka ingin melemahkan spiritualitas, melemahkan sistem keulamaan, juga melemahkan perhatian dan kerendahan hati di dalamnya.
Ibadah Haji dapat memperbaiki seluruh kesulitan ini, memberi kemuliaan kepada setiap individu umat Islam, memberi kekuatan dan harapan; seperti inilah haji yang benar. Pengaruh pertama haji berada di dalam umat Islam sendiri, di dalam hati kita sendiri. Kita membutuhkan haji; agar kita memperkuat semangat kita, memperbaikinya, merasakan bahwa kita bertawakal kepada Allah, bersandar kepada Allah, bahwa kita agung, kita adalah satu umat yang besar. Dari sisi ini pengaruh internal penting, dan dari sisi lain pengaruh internasional juga penting; hal ini dapat berbalik melemahkan musuh, menghancurkan semangat musuh, memperlihatkan keagungan Islam di hadapan musuh, menampakkan persatuan umat Islam di hadapan musuh. Hal inilah yang kita membutuhkan
Hari ini sebuah front besar telah terbentang dalam menghadapi Islam; mengapa kita tidak melihatnya? Mengapa sebagian orang tidak melihat front besar ini? Ini seperti Perang Ahzab (perang Rasulullah saw melawan sejumlah suku kaum kafir Quraisy dan dan sekutunya). Berbagai kelompok anti-Islam, anti-spiritualitas, anti-kebenaran, telah bergandengan tangan menghadapi Islam; mereka meneliti secara rinci untuk menemukan titik-titik lemah dalam Islam, agar mereka memanfaatkan titik-titik lemah itu; mereka mencari titik-titik infiltrasi, agar dari titik-titik infiltrasi itu mereka memukul kita. Namun perlu diketahui Ibadah Haji ini dapat menghalangi mereka.
Sebagaimana juga disebutkan dalam penjelasan para bapak yang terhormat ini, Salah satu pekerjaan penting yang harus diselesaikan adalah persoalan perpecahan di tengah umat Islam. Mereka bekerja dengan teliti. Mereka menonjolkan perbedaan-perbedaan. Mereka memperkuat kecenderungan-kecenderungan menyimpang, baik di pihak Syiah maupun di pihak Sunni. Di pihak Syiah, dengan nama Syiah, mereka memperkuat kecenderungan Qaramithah (Qaramithisme) seperti kaum Qaramithah dan membuat kerusakan. Di pihak Sunni, mereka memperkuat kecenderungan Nashibi (permusuhan terhadap Ahlulbait) mereka melakukan kerusakan atas nama Sunni, tetapi tetap dengan batin Nashibi, dan mereka menempatkan kedua pihak (Syiah dan Sunni) saling berhadapan. Olehnya kita harus waspada, harus sadar, harus melihat, harus memahami hal ini. Inilah dasar persoalan-persoalan yang hari ini dibutuhkan oleh dunia Islam.
Dunia Islam membutuhkan sikap saling pengertian, rasa senasib, dan kerja sama. Mengapa mereka begitu giat menimbulkan perpecahan di antara negara-negara Islam? Mengapa dalam satu persoalan umum yang menyentuh semua pihak seperti masalah Palestina, negara-negara Islam tidak bersedia menyepakati satu jalan dan satu titik yang sama serta mengambil keputusan atasnya? Apakah masalah Palestina masalah kecil? Sekelompok manusia yang jauh dari agama apa pun, mereka ini bahkan bukan Yahudi (bahkan orang-orang Yahudi yang beriman dan taat kepada agama mereka sendiri berlepas diri dari partai politik Zionisme) kelompok ini telah bangkit dan bertindak melawan agama-agama tauhid dan melawan setiap spiritualitas; mereka merampas sebidang tanah Islam, kiblat pertama kaum Muslimin, pusat-pusat suci spiritual Islam; mereka mengusir penduduk pemilik rumah itu dari rumah mereka sendiri dan setiap hari menekan mereka.
Kini lebih dari enam puluh tahun dunia Islam tertimpa bencana ini. Baiklah, untuk suatu masa orang-orang Palestina sendiri lalai, diam; namun hari ini ketika mereka bangkit, hari ini ketika mereka meminta pertolongan, hari ini ketika mereka meminta bantuan dunia Islam; mengapa dunia Islam diam terhadap mereka? Bukankah Nabi bersabda:
مَن أَصبَحَ وَلَم یَهتَمَّ بِأُمورِ المُسلِمینَ فَلَیسَ بِمُسلِم
“Barang siapa memasuki pagi hari dan tidak memperhatikan urusan kaum Muslimin, maka ia bukan Muslim”
Apakah memberi perhatian pada perkara Palestina tidak termasuk dalam perhatian terhadap urusan kaum Muslimin? Dalam persoalan yang sedemikian jelas ini, begitu banyak kezaliman dilakukan terhadap kaum Muslimin di Palestina, kezaliman telah menimpa terhadap orang-orang Palestina baik Muslim maupun Kristen dilakukan, tetapi dunia Islam tidak memiliki satu sikap yang sama; mengapa? Dari mana datangnya perpecahan ini? perkara ini merupakan persoalan-persoalan (yang dapat diselesaikan dengan) haji.
Haji harus menjadi manifestasi persatuan, harus menjadi manifestasi saling pengertian, harus menjadi manifestasi dialog, harus menjadi manifestasi empati, kerja sama, dan kedekatan kaum Muslimin satu sama lain; haji harus dijalankan dengan cara seperti ini, harus digerakkan seperti ini. Sekarang, di dalam haji yang merupakan pusat persatuan dan kesepakatan, sebagian orang mulai menciptakan perpecahan, baik di Mekah maupun di Madinah.
Sebagian mulai melakukan aktivitas melawan Syiah; kelompok ini kerap mengganggu proses ziarah kau Syi’ah, menghalangi pekerjaan mereka, juga menghalangi pelaksanaan tugas-tugas dan keyakinan-keyakinan mereka, menghina mereka. (kami) telah mendapatkan laporan-laporan mengenai hal ini dan sebagian gangguan lain juga berasal dari pihak ini sebagai reaksi dari tindakan-tindakan salah lainnya. Baiklah, ini benar-benar kebalikan dari maslahat haji; kebalikan dari falsafah haji.
Haji harus diselenggarakan dengan benar. Hari ini dibanding tiga puluh tahun lalu, gerakan haji kita berbeda bagaikan bumi dan langit (telah mengalami perkembangan signifikan); tetapi itu belum cukup dan kita harus melangkah lebih jauh lagi, harus bergerak lebih baik lagi dari ini. Perilaku jamaah haji Iran harus menunjukkan seluruh karakteristik yang menjadi tugas kaum Muslimin dalam haji dan yang menjadi kewajiban di pundak mereka.
Dari sisi spiritual: kerendahan hati dalam doa, tawassul, perhatian, keakraban dengan Al-Qur’an, dzikir kepada Allah, mendekatkan hati kepada Allah, menjadikan diri memiliki kualitas spiritual dan bercahaya, serta kembali ke rumah dengan capaian spiritual. Dari sisi sosial dan politik: kerja sama dengan dunia Islam. Hari ini salah satu persoalan penting dan mendesak dunia Islam adalah persoalan saudara-saudara kita di Pakistan. Tentu rakyat kita telah membantu, pemerintah telah membantu (semoga Allah menerima amal dan memberi kebaikan kepada masyarakat dan pemerintah Iran) tetapi itu belum cukup.
Para jamah haji, terutama jamaah dariIran yang pada dasarnya bertetangga, dekat, dan menyaksikan kesulitan mereka (jamaah atau peziarah Pakistan), dapat menghapus banyak biaya tambahan dan yang tidak perlu dari mereka, demi menghibur seorang saudara atau saudari Muslim di Pakistan; hal ini di sisi Allah Swt. memiliki pahala yang besar; hal ini juga dapat menjadi sebuah latihan, sebuah pengalaman (juga contoh) hingga kemudian juga para peziarah dan jamaah dari negara-negara Islam lainnya dapat melakukan hal yang sama. Sampaikan pesan ini kepada mereka juga, dorong dan anjurkan mereka untuk lebih memperhatikan makna ini.
Persoalan persatuan harus dianggap sangat serius. Hari ini di pusat-pusat pemikiran, perencanaan dan konspirasi dilakukan secara teliti agar dunia Islam saling dibenturkan; mereka menggunakan cara tersendiri dan berbeda dalam membenturkan negara satu dengan yang lain juga cara tersendiri dalam membenturkan satu bangsa dengan bangsa lain. Setiap kali di antara negara-negara Islam muncul bisikan atau pembicaraan yang menunjukkan tanda-tanda kedekatan, tiba-tiba kita melihat satu faktor asing, satu faktor Zionis, satu faktor Amerika masuk ke dalam persoalan dan menghalangi kedekatan itu.
Ketika negara-negara Islam baik satu sama lain dan saling dekat, di sana pun mereka sibuk menimbulkan fitnah. Di tengah bangsa-bangsa pun demikian. Pada dasarnya setiap bangsa tidak memiliki pemicu atau dorongan untuk saling memusuhi; karena itu mereka memasukkan motif mazhab, motif etnis, dan fanatisme nasionalisme ke dalam arena agar mereka saling dibenturkan. Inilah hal-hal yang jika kita tidak memperhatikannya, kita akan dipukul oleh musuh. Jika kita tidak waspada, Islam akan ditampar.
Hari ini permusuhan terhadap Islam di dalam sistem istikbar (arogansi global/hegemoni) telah menjadi terang-terangan. Walaupun mereka masih mengingkarinya dengan lisan, tetapi jelas dan nyata bahwa mereka memusuhi Islam dan menentang Islam. Hal ini membuat tugas kita menjadi sangat berat.
Kami berharap Allah Swt. memberikan taufik kepada kalian semua, kepada seluruh jamaah haji yang terhormat dan kepada seluruh jamaah haji dari negara-negara Islam, agar insyaallah setiap tahun melangkah satu langkah lebih jauh menuju haji yang luhur dan sempurna.
Dan salam atas kalian serta rahmat Allah dan berkah-Nya.







