Kekuasaan yang Kehilangan Jiwa 

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika agama begitu mudah dibicarakan sebagai urusan pribadi. Ia ditempatkan di ruang yang sunyi: masjid, rumah, hati manusia. Sementara kekuasaan, pemerintahan, ekonomi, dan urusan masyarakat dianggap berada di wilayah lain yang lebih “realistis”. Seolah-olah keduanya memang harus dipisahkan.

Sejarah Islam justru bermula dari kegelisahan yang berbeda.

KetikaRasulullah Muhammad saw menerima wahyu pertama di Gua Hira, yang lahir bukan sekadar tradisi ibadah baru. Dari sana tumbuh sebuah proyek kemanusiaan: membentuk manusia, membangun masyarakat, dan menghadirkan keadilan. Karena itu, salah satu sabda Nabi saw yang paling dikenal berbunyi:

بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak”

Kalimat itu pendek, tetapi cakupannya luas. Misi kenabian bukan pertama-tama tentang bagaimana manusia menguasai dunia, melainkan bagaimana manusia tidak kehilangan dirinya ketika memperoleh kekuasaan atas dunia.

Di situlah persoalan kepemimpinan moral bermula.

Sebelum menerima wahyu, Muhammad saw telah melewati proses panjang pembentukan diri. Ia dikenal sebagai manusia yang matang dalam pertimbangan dan luhur dalam perilaku. Dalam kesendirian di Hira, ia memandang langit, bintang-bintang, bumi, dan kehidupan manusia. Alam baginya bukan sekadar pemandangan, melainkan tanda-tanda yang mengantarkan hati kepada Tuhan.

Ada sesuatu yang menarik dari proses itu: wahyu datang setelah manusia yang menerimanya mencapai kesiapan batin. Ketika usia empat puluh tahun tiba, riwayat menggambarkan hati Muhammad saw sebagai salah satu hati yang paling bersih, paling tunduk, paling khusyuk, dan paling siap menerima pesan Ilahi. Barulah pintu-pintu langit dibukakan. Jibril datang dan berkata: Iqra’ bacalah.

Seolah-olah sejarah hendak mengatakan bahwa perubahan dunia selalu memiliki prasyarat yang sering dilupakan: perubahan manusia yang akan menggerakkannya.

Baca Juga  Jihad di Jalan Allah: Pintu Surga yang Dibuka untuk Para Pejuang

Dari sanalah perjuangan dimulai.

Dua puluh tiga tahun bukan waktu yang pendek. Nabi saw menghadapi masyarakat yang dibelit fanatisme, keserakahan, hawa nafsu, kekerasan, dan ketidakadilan. Yang dilawan bukan hanya berhala yang berdiri di sekitar Ka’bah, tetapi juga berhala yang bersemayam di dalam manusia: kesombongan, kepentingan, kekuasaan, dan kerakusan.

Maka revolusi yang dibawa Islam sejak awal sesungguhnya bukan hanya pergantian simbol. Ia adalah usaha membongkar susunan moral sebuah masyarakat.

Di Makkah, jumlah pengikut Nabi saw masih sedikit. Mereka hidup di tengah tekanan yang berat. Namun justru di sanalah fondasi masyarakat baru diletakkan. Manusia-manusia pertama yang menerima Islam ditempa menjadi pribadi yang memiliki keberanian, pengetahuan, kesabaran, dan keteguhan.

Seperti pohon liar yang tumbuh di antara bebatuan, mereka menjadi kuat karena akarnya menembus tanah yang keras.

Ketika hijrah membawa Nabi saw ke Madinah, pekerjaan itu memasuki tahap baru. Sebuah masyarakat dibangun. Pemerintahan dibentuk. Pertahanan disusun. Hubungan dengan kekuatan politik di luar Madinah dijalin. Tetapi Nabi saw tidak berhenti pada administrasi kekuasaan. Pada saat yang sama, ia terus mendidik manusia.

Al-Quran menggambarkan tugas itu dengan kata-kata yang penting:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ


“Dialah yang mengutus seorang rasul kepada kaum yang ummi, membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah” (QS. Al-Jumu’ah: 2)

Ada dua pekerjaan yang berjalan bersamaan: tazkiyah dan ta’lim penyucian jiwa dan pendidikan. Nabi saw membangun pemerintahan, tetapi juga membangun manusia. Ia mengatur masyarakat, sekaligus mengubah cara manusia memandang dirinya dan dunia.

Karena itu, memisahkan agama dari kehidupan publik bukan satu-satunya penyimpangan. Menjadikan agama semata-mata alat politik juga sama berbahayanya.

Baca Juga  Empati Imam Ali dan Rasulullah: Ketika Kepedulian Melampaui Batas Agama

Yang pertama mengosongkan agama dari tanggung jawab sosial. Yang kedua mengosongkan politik dari jiwa.

Keduanya dapat berujung pada hal yang sama: manusia kehilangan kompas moral.

Kekuasaan tanpa akhlak akan mudah berubah menjadi kesombongan yang dilembagakan. Pemerintahan yang mengatasnamakan agama tetapi dikuasai kerakusan, kemewahan, hawa nafsu, dan penumpukan kekayaan tidak otomatis menjadi pemerintahan yang bermoral. Sejarah dunia Islam pernah menyaksikan paradoks semacam itu: simbol-simbol agama tetap berkibar, sementara praktik kekuasaan justru menjauh dari keadilan.

Di titik ini, krisis politik sebenarnya sering kali bukan bermula dari buruknya sistem, melainkan dari rusaknya manusia yang menjalankan sistem.

Sebab pemerintahan pada akhirnya hanyalah cermin dalam skala besar. Jika keserakahan menjadi watak elite, ia akan menjelma kebijakan. Jika kesombongan menjadi karakter penguasa, ia akan menjelma penindasan. Jika rakyat kehilangan pengetahuan dan keberanian moral, mereka akan mudah diperlakukan sebagai angka dalam statistik kekuasaan.

Karena itu, Al-Quran tidak hanya berbicara tentang ibadah personal. Ia juga berbicara tentang qisth, keadilan yang harus hadir dalam kehidupan bersama. Para nabi tidak hanya mengajarkan manusia berdoa, tetapi juga mengajak mereka berdiri di atas keadilan.

Inilah yang membuat misi kenabian tetap relevan ketika dunia berubah.

Kita mungkin tidak lagi hidup di tengah gurun Arabia abad ketujuh. Namun manusia modern masih berhadapan dengan bentuk-bentuk lama dari penyakit yang sama: kerakusan ekonomi, penyalahgunaan kekuasaan, ketimpangan, manipulasi informasi, fanatisme, dan manusia yang diperlakukan sekadar sebagai alat.

Teknologi berubah. Negara berubah. Bahasa politik berubah. Tetapi godaan kekuasaan hampir selalu menemukan jalan yang sama menuju hati manusia.

Karena itu, persoalan terbesar sebuah masyarakat bukan hanya siapa yang memerintah, melainkan manusia seperti apa yang memegang kekuasaan.

Baca Juga  Ketika Pujian Menjadi Amanah: Tanggung Jawab Spiritual Para Pendakwah dan Seniman Religi

Di sinilah makna kepemimpinan moral menjadi penting. Pemimpin tidak cukup memiliki kemampuan mengendalikan institusi. Ia harus memiliki kemampuan mengendalikan dirinya sendiri. Ia harus tahu kapan kekuasaan digunakan untuk melindungi dan kapan ia berubah menjadi alat untuk memperbesar diri.

Nabi Muhammad saw memulai perubahan dari hati, tetapi tidak berhenti di sana. Ia membawa perubahan itu ke tengah masyarakat. Ia mendidik manusia, membangun institusi, menegakkan keadilan, dan menghadapi kekuatan yang menghalangi.

Mungkin karena itu, masalah terbesar umat manusia sampai hari ini bukan kekurangan kekuasaan. Kita justru memiliki terlalu banyak alat untuk menguasai orang lain.

Yang sering kurang adalah manusia yang mampu menguasai dirinya sendiri.

Dan mungkin di situlah pesan paling sunyi dari kenabian: sebuah masyarakat tidak akan benar-benar kuat hanya karena memiliki negara, tentara, kekayaan, atau teknologi. Ia menjadi kuat ketika kekuasaan masih mengenal batas, ketika ilmu masih tunduk kepada kebijaksanaan, dan ketika manusia yang memimpin tidak lupa bahwa sebelum menjadi penguasa, ia adalah manusia yang kelak dimintai pertanggungjawaban.

Sebab pada akhirnya, yang menentukan umur sebuah kekuasaan bukan seberapa keras tangannya menggenggam, melainkan seberapa dalam moral menahan tangannya agar tidak menyakiti.

Bagikan:
Terkait
Komentar