Merasa Sudah Dekat dengan Tuhan Adalah Cara Paling Halus Menjauh dari-Nya 

KHAMENEI.ID— Ada satu penyakit spiritual yang jarang disadari manusia religius: merasa sudah cukup baik di hadapan Tuhan. Ia tidak selalu muncul dalam bentuk kesombongan yang kasar. Kadang ia hadir diam-diam, tersembunyi di balik rutinitas ibadah, sedekah, ceramah agama, atau aktivitas sosial yang tampak saleh. Orang mulai merasa telah menjalankan “porsi minimal” sebagai hamba. Seolah ada titik tertentu ketika manusia bisa berkata: “Saya sudah melakukan kewajiban saya.”

Padahal dalam sebuah riwayat yang sangat kuat sanadnya, Imam Musa al-Kazim a.s memberi peringatan yang justru menghancurkan rasa aman palsu itu.

عَلَیکَ بِالجِدِّ

“Hendaklah engkau bersungguh-sungguh.”

Kalimatnya singkat, tetapi berat. Kesungguhan di sini bukan sekadar rajin atau sibuk. Dalam penjelasan para ulama, “jidd” bukan lawan dari bercanda, melainkan lawan dari kelalaian dan sikap setengah hati. Ia berarti mengerahkan tenaga sepenuh mungkin dalam menjalani hidup di hadapan Allah SWT.

Artinya, agama tidak pernah meminta manusia hidup asal-asalan.

Masalahnya, banyak orang hari ini ingin hasil spiritual tanpa keseriusan spiritual. Mereka ingin hati tenang tanpa perjuangan batin. Ingin dekat dengan Tuhan tanpa melawan ego sendiri. Ingin merasa religius hanya karena berada di lingkungan religius.

Padahal Imam Musa al-Kazim a.s justru memulai nasihatnya dengan dorongan untuk bersungguh-sungguh: serius dalam ibadah, serius dalam memperbaiki diri, serius dalam melawan kemalasan moral yang sering dibungkus dengan dalih “yang penting niatnya baik”.

Lalu datang bagian yang paling mengguncang:

وَ لا تُخرِجَنَّ نَفسَك مِن حَدِّ التَّقصیرِ فی عِبادَةِ اللهِ وَ طاعَتِهِ

“Jangan pernah keluarkan dirimu dari posisi sebagai orang yang masih kurang dalam beribadah dan taat kepada Allah.”

Di sinilah paradoks spiritual itu muncul. Agama meminta manusia bersungguh-sungguh, tetapi sekaligus melarang manusia merasa telah sempurna.

Baca Juga  Pendidikan, Teladan, dan Bahasa Moral: Pesan Imam Ali Khamenei untuk Masa Depan Generasi

Dengan kata lain: berusahalah semaksimal mungkin, tetapi jangan pernah merasa sudah sampai.

Ini bukan ajakan untuk rendah diri secara palsu. Bukan pula membuat manusia putus asa. Justru ini cara agama menjaga hati agar tidak membusuk oleh rasa puas diri.

Sebab ada momen yang sangat berbahaya dalam perjalanan spiritual seseorang: ketika ia mulai kagum kepada dirinya sendiri.

Ia merasa shalatnya sudah baik. Sedekahnya sudah banyak. Ilmunya sudah luas. Dakwahnya sudah besar. Di titik itu, ibadah perlahan berubah fungsi. Bukan lagi jalan menuju Tuhan, tetapi alat untuk memandang diri sendiri lebih tinggi daripada orang lain.

Karena itu Imam Musa al-Kazim a.s mengingatkan: jangan pernah keluar dari kesadaran bahwa diri ini selalu punya kekurangan di hadapan Allah.

Bahkan para Nabi dan orang-orang suci pun tidak pernah merasa ibadah mereka cukup.

Dalam doa yang sangat terkenal, Imam Ali Zainal Abidin a.s berkata:

ما عَبَدناك حَقَّ عِبادَتِك

“Kami tidak pernah menyembah-Mu sebagaimana seharusnya Engkau disembah.”

Kalimat ini luar biasa. Orang-orang yang hidupnya dipenuhi ibadah saja masih merasa belum pantas di hadapan Allah SWT. Lalu bagaimana dengan manusia biasa yang ibadahnya sering terganggu oleh distraksi, kemalasan, bahkan riya?

Tetapi justru di situlah letak keindahan spiritualitas Islam: semakin seseorang mengenal Tuhan, semakin ia sadar bahwa dirinya kecil.

Sebaliknya, semakin dangkal pemahaman seseorang terhadap agama, semakin mudah ia merasa sudah saleh.

Di zaman media sosial, penyakit ini menjadi semakin rumit. Kebaikan hari ini mudah dipertontonkan. Orang bisa membangun identitas religius hanya lewat potongan gambar, kutipan ayat, atau rekaman ibadah. Lambat laun, manusia bukan lagi sibuk memperbaiki batin, tetapi sibuk menjaga kesan saleh di mata publik.

Baca Juga  Jangan Takut Rebah: Bahkan Gandum Pun Menunduk Saat Badai Datang

Akibatnya, agama berubah menjadi panggung pencitraan spiritual.

Orang merasa cukup hanya karena dibandingkan dengan mereka yang tampak “lebih buruk”. Padahal ukuran spiritual dalam agama bukanlah perbandingan horizontal dengan manusia lain, melainkan kesadaran vertikal di hadapan Tuhan.

Dan di hadapan Yang Mahasempurna, manusia sesungguhnya selalu kurang.

Imam Musa al-Kazim lalu menjelaskan alasannya:

فَاِنَّ اللهَ تَعالىٰ لا یُعبَدُ حَقَّ عِبادَتِه

“Sesungguhnya Allah tidak pernah disembah sebagaimana hak penyembahan kepada-Nya.”

Ini bukan berarti ibadah manusia sia-sia. Maksudnya jauh lebih dalam: sebesar apa pun pengabdian manusia, Tuhan selalu lebih agung daripada kemampuan manusia untuk memuji-Nya.

Manusia terbatas, sementara Tuhan tidak terbatas.

Kita beribadah dengan tubuh yang mudah lelah, hati yang mudah lalai, dan pikiran yang mudah terpecah. Bahkan ketika sedang shalat pun, manusia masih bisa sibuk memikirkan pekerjaan, cicilan, notifikasi telepon, atau penilaian orang lain.

Karena itu, merasa telah menunaikan “hak Tuhan” secara sempurna sebenarnya adalah bentuk ketidaktahuan terhadap kebesaran Tuhan itu sendiri.

Ironisnya, justru orang yang sedikit amalnya sering paling cepat merasa cukup. Baru mulai rutin sedekah, sudah merasa dermawan. Baru beberapa kali bangun malam, sudah merasa ahli ibadah. Baru belajar sedikit ilmu agama, sudah sibuk menghakimi orang lain.

Padahal semakin tinggi kualitas ruhani seseorang, biasanya semakin besar rasa takutnya kepada Allah SWT dan semakin kecil penilaiannya terhadap dirinya sendiri.

Kesadaran sebagai “orang yang masih kurang” bukan membuat manusia berhenti beramal. Justru itu yang membuatnya terus bergerak. Ia sadar bahwa hidup spiritual bukan proyek yang selesai dalam satu malam.

Mungkin itulah yang hilang dari kehidupan modern yang serba instan: manusia ingin cepat merasa selesai, termasuk dalam urusan agama.

Baca Juga  Ketika “Aku” Menggeser “Tuhan”: Titik Paling Sunyi dari Sebuah Penyimpangan

Padahal iman bukan sertifikat kelulusan. Ia adalah perjalanan panjang melawan diri sendiri.

Karena itu, nasihat Imam Musa al-Kazim a.s terasa sangat relevan hari ini. Bersungguh-sungguhlah dalam hidup. Jangan malas dalam memperbaiki diri. Jangan setengah hati dalam menjalani tanggung jawab terhadap Allah SWT.

Tetapi setelah semua usaha itu, tetaplah simpan satu kesadaran sunyi di dalam hati: bahwa kita masih jauh dari sempurna.

Sebab mungkin yang paling berbahaya bukan dosa yang membuat manusia menangis, melainkan amal yang membuat manusia merasa dirinya suci.

Bagikan:
Terkait
Komentar