Kemajuan Ilmu, Kemerosotan Moral: Mengapa Dunia Hari Ini Mirip Zaman Kelahiran Nabi Muhammad?

KHAMENEI.ID– Ada satu ironi yang terus berulang dalam sejarah manusia. Ketika ilmu pengetahuan mencapai puncak, akhlak justru sering terjun ke titik terendah. Peradaban tumbuh megah, teknologi berkembang pesat, tetapi hati manusia kehilangan arah. Yang berubah hanyalah alat; watak dasarnya tetap sama.

Karena itulah, kelahiran Nabi Muhammad saw bukan sekadar peristiwa keagamaan yang diperingati setiap tahun. Ia adalah sebuah cermin sejarah. Sebuah pengingat bahwa manusia pernah berada pada masa ketika kecerdasan berkembang luar biasa, tetapi kebijaksanaan nyaris lenyap. Dan, mungkin tanpa disadari, kita sedang berjalan di jalan yang sama.

Banyak orang membayangkan dunia sebelum Islam sebagai zaman yang sepenuhnya gelap dan primitif. Gambaran itu tidak sepenuhnya benar. Justru ketika Nabi Muhammad saw lahir, dunia sedang menikmati kemajuan yang mengagumkan. Kekaisaran Romawi membangun sistem administrasi yang rumit. Persia mengembangkan pemerintahan yang kuat. Peradaban Cina dan Mesir telah melahirkan berbagai pencapaian besar. Para filsuf, matematikawan, tabib, dan insinyur telah meletakkan fondasi ilmu yang mengagumkan.

Semua itu menunjukkan bahwa manusia telah mencapai tingkat perkembangan intelektual yang tinggi. Namun di balik kemegahan tersebut, ada sesuatu yang membusuk.

Ilmu berkembang, tetapi tidak diikuti kematangan moral.

Manusia tetap diperbudak fanatisme, takhayul, keserakahan, dan kekuasaan yang menindas. Jurang sosial menganga. Penindasan menjadi wajah kekuasaan. Kekuatan militer dipuja, sementara martabat manusia diinjak.

Dalam salah satu khutbahnya, Imam Ali a.s menggambarkan kondisi dunia sebelum risalah Nabi dengan bahasa yang sangat puitis sekaligus menggetarkan. Ia berkata bahwa manusia saat itu hidup di tengah badai fitnah yang menghantam mereka dari segala arah, hingga agama kehilangan pegangan dan keyakinan terguncang. Mereka hidup dalam kebingungan, sementara malam-malam mereka dipenuhi kegelisahan.

Baca Juga   Panggilan Haji Nabi Ibrahim: Seruan yang Tak Pernah Berhenti untuk Seluruh Umat Manusia

فِي فِتَنٍ دَاسَتْهُمْ بِأَخْفَافِهَا وَوَطِئَتْهُمْ بِأَظْلَافِهَا… نَوْمُهُمْ سُهُودٌ وَكُحْلُهُمْ دُمُوعٌ

“Mereka hidup dalam berbagai fitnah yang menginjak-injak mereka. Tidur mereka dipenuhi kegelisahan, dan mata mereka basah oleh air mata”

Kalimat itu terasa seperti sedang melukiskan dunia modern.

Di abad ke-21, manusia mampu mengirim wahana ke Mars, menciptakan kecerdasan buatan, memetakan genom, dan menghubungkan miliaran orang hanya melalui sebuah layar kecil. Namun, pada saat yang sama, perang masih berkobar, kelaparan tetap menghantui jutaan manusia, dan ketimpangan ekonomi semakin melebar.

Kemajuan teknologi ternyata tidak otomatis menghasilkan kemajuan kemanusiaan.

Dalam konteks yang lebih luas, persoalan terbesar bukan lagi kurangnya informasi. Dunia hari ini justru tenggelam dalam limpahan informasi. Yang langka adalah kebijaksanaan untuk menggunakannya.

Media sosial memungkinkan manusia berbicara kepada seluruh dunia, tetapi juga mempermudah penyebaran kebencian. Teknologi memungkinkan penyembuhan penyakit, tetapi juga melahirkan senjata yang semakin mematikan. Ilmu memperpanjang usia, tetapi tidak selalu membuat hidup lebih bermakna.

Di titik inilah, misi Nabi Muhammad saw menjadi sangat relevan. Beliau tidak datang untuk menghancurkan ilmu pengetahuan atau peradaban. Sebaliknya, beliau membersihkan ilmu dari kesombongan, memisahkan peradaban dari penindasan, dan mengembalikan manusia kepada tujuan keberadaannya.

Tradisi Islam memang mencatat berbagai tanda simbolik ketika Nabi saw lahir: retaknya istana Kisra di Persia, padamnya api penyembahan yang telah menyala berabad-abad, dan runtuhnya sebagian simbol-simbol kemusyrikan. Terlepas dari bagaimana riwayat-riwayat itu dipahami, pesan yang dibawanya tetap sama: sebuah era baru sedang dimulai. Era ketika fondasi kezaliman mulai digoyahkan oleh cahaya wahyu.

Namun Nabi saw tidak datang untuk menciptakan masyarakat sempurna dalam sekejap. Beliau menghadirkan teladan, bukan utopia instan. Islam menawarkan model kehidupan yang adil, bermartabat, dan berkeadaban, lalu menyerahkan kepada setiap generasi untuk terus memperjuangkannya.

Baca Juga  Istigfar: Saat Hati Perlu Dibersihkan, Bukan Sekadar Bibir Bergerak

Karena itu, keberhasilan risalah Nabi saw tidak diukur dari apakah seluruh dunia langsung berubah, melainkan dari hadirnya jalan yang benar bagi siapa pun yang ingin menempuhnya.

Persoalan yang justru terasa paling mengusik adalah kenyataan bahwa dunia modern mulai mengalami pembalikan nilai.

Rasulullah saw pernah mengingatkan tentang suatu masa ketika manusia tidak lagi sekadar meninggalkan amar makruf dan nahi mungkar, tetapi justru membalik keduanya.

كَيْفَ بِكُمْ إِذَا أَمَرْتُمْ بِالْمُنْكَرِ وَنَهَيْتُمْ عَنِ الْمَعْرُوفِ… وَرَأَيْتُمُ الْمَعْرُوفَ مُنْكَرًا وَالْمُنْكَرَ مَعْرُوفًا

“Bagaimana keadaan kalian ketika kalian justru menyuruh kepada kemungkaran dan melarang dari kebaikan… hingga kalian memandang yang baik sebagai keburukan dan yang buruk sebagai kebaikan”

Hadis ini tidak sedang berbicara tentang kesalahan individu semata. Ia menggambarkan sebuah krisis peradaban, ketika standar moral dibentuk oleh kekuatan, bukan oleh kebenaran.

Bukankah gejala itu semakin mudah ditemukan hari ini? Kebohongan dapat dipoles menjadi kebenaran melalui propaganda. Penindasan dibungkus atas nama keamanan. Korban justru dipersalahkan, sementara pelaku dipuji sebagai penyelamat. Ukuran benar dan salah perlahan bergeser mengikuti kepentingan politik, ekonomi, dan media.

Ketika keadaan seperti itu terjadi, sesungguhnya yang sedang runtuh bukan hanya moral individu, melainkan nurani sebuah peradaban.

Itulah sebabnya peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw selalu memiliki makna yang melampaui romantisme sejarah. Ia mengajak manusia bertanya kembali: untuk apa ilmu diciptakan? Untuk siapa kekuasaan digunakan? Dan kepada siapa kemajuan teknologi akhirnya diabdikan?

Tanpa akhlak, ilmu hanya akan mempercepat kerusakan. Tanpa keadilan, kemajuan hanya akan memperbesar jurang ketimpangan. Tanpa nilai-nilai kenabian, peradaban dapat menjadi megah dari luar, tetapi rapuh dari dalam.

Barangkali, inilah pelajaran terbesar dari sejarah kelahiran Nabi Muhammad saw. Yang paling dibutuhkan manusia bukan sekadar kecerdasan yang lebih tinggi, melainkan hati yang lebih bersih. Sebab sejarah telah berkali-kali membuktikan bahwa sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan ilmu, melainkan karena kehilangan kompas moral yang mengarahkan ilmu itu menuju kemaslahatan.

Baca Juga  Ketegasan dan Kasih Sayang Imam Ali: Harmoni Dua Sifat yang Tampak Bertentangan
Bagikan:
Terkait
Komentar