Kemajuan Tanpa Keadilan Adalah Jalan Buntu: Seruan Imam Khamenei untuk “Satu Langkah ke Depan”

KHAMENEI.ID – Kemajuan sering dipuja sebagai ukuran keberhasilan sebuah bangsa. Gedung-gedung tinggi berdiri, teknologi berkembang, produksi meningkat, angka ekonomi membaik. Tetapi ada pertanyaan yang lebih mengganggu: kemajuan itu dinikmati siapa?

Sebab kemajuan yang tidak berjalan bersama keadilan berisiko melahirkan paradoks. Sebuah negara bisa semakin kaya, tetapi kesenjangan semakin lebar. Pendidikan berkembang, tetapi akses tetap timpang. Industri tumbuh, tetapi pekerja tertinggal. Negara menjadi kuat, tetapi sebagian rakyat justru merasa semakin jauh dari hasil pembangunan.

Dari titik inilah gagasan Imam Ali Khamenei qs tentang “kemajuan bersama keadilan” menjadi menarik. Ia tidak menyebutnya sekadar program pemerintah, apalagi proyek satu tahun. Ia menyebutnya sebagai sebuah gerakan besar—sebuah nahdah (kebangkitan) yang harus melibatkan seluruh masyarakat.

Menurut Imam Khamenei, gerakan itu bahkan bukan sesuatu yang baru dimulai. Sejak awal Revolusi Islam, pemerintah dan masyarakat telah bergerak sesuai kemampuan masing-masing. Apa yang dicapai generasi sebelumnya menjadi modal bagi generasi berikutnya untuk melangkah lebih jauh.

Ada satu prinsip yang sederhana tetapi penting di sini: masa depan tidak pernah dibangun dari titik nol.

Keringat generasi sebelumnya menciptakan ruang bagi generasi sesudahnya. Jalan yang dibuka hari ini memungkinkan orang lain menempuh jarak yang lebih jauh besok. Karena itu, pembangunan bukan perlombaan satu pemerintahan atau satu generasi. Ia adalah estafet panjang.

Bukan Program Setahun

Ketika Imam Khamenei berbicara tentang “tahun Nabi Agung”, ia tidak bermaksud menjadikan kemajuan dan keadilan sebagai proyek yang selesai ketika kalender berganti.

Sebaliknya, momentum itu harus menjadi pemicu bagi sebuah lompatan bersama. Pemerintah bergerak, masyarakat bergerak. Mereka yang bekerja di sektor produksi bergerak. Para akademisi bergerak. Pelajar bergerak. Pegawai negeri bergerak. Buruh bergerak. Pengusaha bergerak.

Baca Juga  Wajah Asli Peradaban Barat di Gaza: Membaca Kritik Imam Ali Khamenei atas Krisis Kemanusiaan

Semua diminta melakukan hal yang sama: satu langkah lebih maju dari posisi sebelumnya.

Gagasan itu terdengar sederhana. Namun justru karena sederhana, ia menjadi sulit dihindari. Sebab ia tidak memberi ruang bagi seseorang untuk berkata bahwa perubahan hanya merupakan urusan orang lain.

Imam Khamenei kemudian mengutip kisah seorang ulama yang hendak memberikan ceramah di sebuah masjid. Masjid itu penuh. Sebagian jamaah bahkan tidak bisa masuk karena ruangan telah sesak. Seorang lelaki kemudian berdiri dan berkata kepada mereka agar siapa pun yang berada di tempatnya masing-masing bangkit dan maju satu langkah. Dengan begitu, orang-orang di luar dapat memperoleh ruang untuk masuk.

Sang ulama justru mengatakan bahwa ia tidak lagi memiliki banyak hal untuk disampaikan.

Pesan itu sudah cukup.

Bangkitlah dari tempatmu. Maju satu langkah.

Revolusi yang Dimulai dari Pekerjaan Sehari-hari

Dalam kerangka ini, perubahan tidak selalu berbentuk keputusan besar atau proyek monumental. Ia bisa dimulai dari pekerjaan yang tampak biasa.

Jika seseorang berada dalam dunia ibadah, ia diminta memperbaiki kualitas pengabdiannya. Jika seorang mahasiswa, ia diminta meningkatkan ilmunya. Jika seorang dosen, ia diminta menghasilkan pengetahuan yang lebih baik. Jika seorang peneliti, ia diminta menembus batas yang sebelumnya belum dicapai.

Buruh didorong bekerja lebih baik. Pengusaha dituntut bergerak lebih maju. Pegawai pemerintah dituntut meningkatkan pelayanan. Peneliti di lingkungan keagamaan maupun universitas juga tidak boleh berhenti.

Di sinilah gagasan “kemajuan bersama keadilan” memperoleh makna sosialnya. Kemajuan bukan hanya angka pertumbuhan ekonomi atau pencapaian teknologi. Ia adalah akumulasi dari jutaan langkah kecil yang dilakukan manusia dalam posisi masing-masing.

Tetapi ada syaratnya: langkah tersebut harus mengarah pada kebaikan bersama.

Baca Juga  Setiap Hari Adalah Saksi: Kesempatan yang Tak Pernah Datang Dua Kali

Kemajuan seorang individu tidak semestinya dibangun dengan menghancurkan kesempatan orang lain. Keuntungan perusahaan tidak semestinya lahir dari eksploitasi pekerja. Pertumbuhan ekonomi tidak semestinya menjadi alasan untuk mengabaikan kelompok yang lemah.

Karena itu, kemajuan harus berjalan bersama keadilan.

Nabi Muhammad dan Budaya yang Menolak Stagnasi

Menariknya, gagasan tersebut ditempatkan Imam Khamenei dalam kerangka kehidupan Nabi Muhammad.

Dalam tradisi kenabian, menurutnya, tidak ada tempat untuk berhenti ketika masih ada ruang untuk menjadi lebih baik. Tidak ada glorifikasi terhadap keterbelakangan. Tidak ada kebanggaan pada sikap beku yang menolak perubahan. Dan yang paling penting, tidak ada ruang bagi keputusasaan.

Nabi Muhammad justru digambarkan sebagai sosok yang melawan keputusasaan.

Kalimat ini memiliki konsekuensi yang besar. Sebab keputusasaan bukan sekadar perasaan pribadi. Dalam kehidupan sebuah bangsa, keputusasaan dapat berubah menjadi sikap politik dan sosial: merasa tidak mampu berubah, merasa keadaan sudah ditentukan, merasa keterbelakangan adalah nasib, atau menganggap ketidakadilan sebagai sesuatu yang harus diterima.

Masyarakat yang kehilangan harapan pada akhirnya kehilangan energi untuk bergerak.

Sebaliknya, masyarakat yang percaya bahwa masa depan masih dapat diperbaiki akan terus mencari jalan.

Itulah mengapa seruan “satu langkah ke depan” sebenarnya bukan sekadar ajakan bekerja lebih keras. Ia adalah ajakan untuk mempertahankan **harapan sebagai energi perubahan**.

Dari Satu Langkah Menjadi Gerakan Bangsa

Tantangan pembangunan sering kali terlalu besar jika dibebankan kepada satu orang. Kemiskinan, ketimpangan, keterbelakangan pendidikan, lemahnya produktivitas dan persoalan sosial tidak akan selesai hanya dengan satu kebijakan.

Tetapi sebuah bangsa juga tidak akan bergerak jika semua orang menunggu orang lain memulai.

Di sinilah metafora satu langkah menjadi penting.

Seorang mahasiswa mungkin hanya bisa memperbaiki satu mata kuliah. Seorang guru mungkin hanya mampu meningkatkan kualitas satu kelas. Seorang pekerja mungkin hanya dapat memperbaiki satu bagian dari proses produksi. Seorang birokrat mungkin hanya bisa memperbaiki satu layanan publik.

Baca Juga  Mereka yang Percaya bahwa Malam Akan Berakhir 

Satu langkah memang terlihat kecil.

Namun jika jutaan orang melakukan satu langkah pada saat yang sama, jaraknya tidak lagi kecil.

Bagi Imam Ali Khamenei, inilah semangat yang harus dibangun: tidak berhenti, tidak menyerah, tidak terjebak dalam romantisme masa lalu, dan tidak kehilangan keyakinan terhadap masa depan.

Pada akhirnya, ukuran sebuah masyarakat bukan hanya seberapa jauh ia telah berjalan, tetapi apakah ia masih memiliki keberanian untuk melangkah.

Sebab pembangunan yang sejati bukan perlombaan untuk meninggalkan orang lain di belakang. Ia adalah perjalanan untuk memastikan semakin banyak orang dapat ikut bergerak maju.

Dan mungkin karena itu pesan tersebut tetap sederhana: di mana pun kita berada, bangkitlah. Lalu ambil satu langkah ke depan.

Bagikan:
Terkait
Komentar