KHAMENEI.ID – Ada ironi besar yang sedang berlangsung di dunia Islam. Musuh-musuh Islam tidak selalu datang dengan bendera permusuhan yang jelas. Sebagian justru tampil dengan wajah yang tampak religius, mengutip ayat, mengangkat slogan-slogan Islam, bahkan mengklaim membela agama. Namun, di balik semua simbol itu, mereka justru melayani kepentingan yang berlawanan dengan ajaran Islam.
Fenomena inilah yang pernah diperingatkan oleh Imam Khomeini melalui istilah yang sangat terkenal: “Islam Amerika” (Islam-e Amrikayi), sebuah istilah yang dipertentangkan dengan Islam Muhammadi yang murni (Islam Nab Muhammad). Yang dimaksud bukanlah agama baru, melainkan cara beragama yang telah kehilangan ruhnya—Islam yang diperalat untuk melanggengkan kekuasaan para penindas dan kepentingan imperialis.
Ketika Agama Bersekutu dengan Kezaliman
Islam yang murni selalu berdiri di pihak keadilan, membela kaum tertindas, dan menolak dominasi para tiran. Sebaliknya, “Islam Amerika” adalah wajah agama yang rela berdamai dengan kezaliman, bersahabat dengan tirani, dan bahkan menjadi alat legitimasi bagi proyek-proyek kekuasaan global.
Dalam praktiknya, Islam semacam ini tidak segan bekerja sama dengan rezim-rezim zalim, mendukung kepentingan Zionisme, atau menyesuaikan diri dengan agenda kekuatan besar dunia. Secara lahiriah, mereka tetap membawa nama Islam. Ritual-ritual keagamaan mungkin masih dijalankan. Namun arah perjuangannya justru bergerak berlawanan dengan nilai-nilai Islam.
Inilah yang membuat penilaian terhadap sebuah gerakan tidak cukup hanya melihat simbol, pakaian, atau slogan yang digunakan. Yang jauh lebih penting adalah: siapa yang diuntungkan dari gerakan itu, siapa yang dirugikan, dan ke mana arah perjuangannya.
Atas Nama Islam, Tetapi Berjalan di Jalan Thaghut
Al-Qur’an memberikan ukuran yang sangat jelas:
“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, sedangkan orang-orang kafir berperang di jalan thaghut.”
Ayat ini bukan sekadar berbicara tentang peperangan fisik, tetapi tentang orientasi perjuangan. Setiap gerakan memiliki tujuan akhir. Jika sebuah kelompok mengatasnamakan Islam tetapi seluruh tindakannya justru menguntungkan kekuatan-kekuatan penindas, maka sudah seharusnya muncul pertanyaan besar: benarkah jalan yang ditempuh itu merupakan jalan Islam?
Islam tidak pernah membenarkan loyalitas kepada musuh-musuh agama ataupun tunduk kepada kekuatan arogan yang menindas bangsa-bangsa lain. Karena itu, ketika sebuah gerakan mengaku membawa panji Islam tetapi justru menjadi kendaraan kepentingan para penindas, ada sesuatu yang mendasar telah menyimpang.
Terorisme dan Permainan Intelijen
Dalam beberapa dekade terakhir, dunia menyaksikan munculnya kelompok-kelompok ekstrem yang mengatasnamakan Islam di berbagai wilayah, termasuk Irak dan sejumlah negara lainnya. Kekerasan brutal mereka kemudian dijadikan alasan untuk mencitrakan Islam sebagai agama teror.
Sulit mengabaikan kenyataan bahwa berbagai laporan dan bukti menunjukkan adanya keterlibatan—baik langsung maupun tidak langsung—dari jaringan intelijen dan lembaga keamanan negara-negara yang memusuhi Islam dalam membentuk, memelihara, atau memanfaatkan kelompok-kelompok semacam itu demi kepentingan geopolitik mereka.
Bukan berarti seluruh anggota kelompok tersebut adalah agen atau boneka. Namun permainan politik global sering kali memanfaatkan fanatisme, kebodohan, dan konflik internal umat Islam untuk menciptakan kekacauan yang pada akhirnya menguntungkan pihak luar.
Ketika umat saling bermusuhan, saling mengafirkan, dan saling mengangkat senjata, pihak yang paling diuntungkan justru mereka yang sejak awal ingin melihat dunia Islam tetap lemah dan terpecah.
Al-Qur’an sebagai Benteng Kesadaran
Lalu bagaimana jalan keluarnya?
Jawabannya bukan sekadar meningkatkan semangat keagamaan, melainkan memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur’an. Semakin akrab umat Islam dengan ajaran Al-Qur’an, semakin kecil peluang mereka menjadi korban propaganda, provokasi, maupun manipulasi politik yang mengatasnamakan agama.
Al-Qur’an mengajarkan keadilan, persatuan, kecerdasan, dan kewaspadaan terhadap tipu daya musuh. Ia tidak mengajarkan kebencian yang membabi buta ataupun fanatisme tanpa ilmu.
Lebih dari itu, hubungan spiritual yang kuat dengan Allah menjadi benteng utama agar hati manusia tidak mudah dikhianati oleh hawa nafsu, ambisi kekuasaan, maupun propaganda musuh. Hati yang hidup bersama Allah akan lebih sulit diarahkan untuk mengkhianati jalan-Nya.
Menjaga Kemurnian Islam
Sejarah menunjukkan bahwa ancaman terbesar terhadap Islam tidak selalu datang dari luar. Terkadang, ancaman itu muncul dari mereka yang membawa nama Islam tetapi mengosongkan substansinya.
Karena itu, setiap Muslim dituntut memiliki ukuran yang benar dalam menilai sebuah gerakan. Ukurannya bukan seberapa keras slogan yang diteriakkan, bukan pula seberapa religius penampilannya, melainkan apakah ia benar-benar berpihak kepada nilai-nilai Al-Qur’an: keadilan, kemerdekaan, persatuan umat, dan penolakan terhadap segala bentuk kezaliman.
Ketika hati terhubung dengan Allah swt dan akal dibimbing oleh Al-Qur’an, umat tidak akan mudah tertipu oleh agama yang hanya menjadi topeng bagi kepentingan para penindas. Sebab Islam sejati bukan sekadar identitas, melainkan jalan hidup yang selalu berdiri di pihak kebenaran dan menolak tunduk kepada segala bentuk thaghut.







