Kesombongan: Musuh yang Tumbuh dari Amal Baik

KHAMENEI.ID– Ada ironi yang kerap luput disadari manusia. Semakin banyak kebaikan yang dilakukan, semakin besar pula peluang lahirnya penyakit yang paling sulit dikenali: merasa lebih baik daripada orang lain. Kesombongan tidak selalu tumbuh dari dosa. Ia justru sering muncul dari ibadah, pengabdian, dan deretan amal yang semula diniatkan untuk mendekat kepada Tuhan.

Itulah sebabnya para ulama sejak dahulu tidak hanya memperingatkan manusia agar menjauhi maksiat, tetapi juga mengawasi hati ketika sedang berada di puncak kebaikan. Sebab, setan tidak selalu menggoda seseorang untuk berhenti berbuat baik. Kadang ia hanya membisikkan satu kalimat sederhana, “Engkau lebih baik daripada mereka.”

Di situlah bahaya sesungguhnya bermula.

Semakin seseorang dikenal saleh, dermawan, aktif dalam dakwah, atau mengabdikan dirinya untuk masyarakat, semakin besar godaan untuk memandang orang lain dengan ukuran yang berbeda. Tanpa disadari, penghargaan dari manusia berubah menjadi cermin yang menampilkan bayangan diri secara berlebihan. Dari sana lahir rasa istimewa, lalu perlahan menjelma menjadi sikap meremehkan mereka yang dianggap belum sampai pada tingkat yang sama.

Padahal, ukuran kemuliaan di hadapan manusia tidak pernah identik dengan kemuliaan di sisi Allah.

Sejarah orang-orang saleh justru memperlihatkan kenyataan yang bertolak belakang. Mereka yang paling dekat kepada Allah adalah mereka yang paling sedikit menganggap dirinya mulia. Semakin tinggi derajat spiritual seseorang, semakin dalam ia merasakan kekurangan dirinya sendiri.

Fenomena itu tampak jelas dalam doa-doa para imam Ahlul Bait. Bila dibandingkan dengan doa kebanyakan orang, ada jurang yang terasa begitu lebar. Kita sering beristigfar sekadar sebagai rutinitas. Sementara mereka menangis dalam istigfar, seolah-olah sedang memikul dosa yang tak sanggup ditanggung.

Baca Juga  Imam Khomeini qs: Ketika Kepemimpinan Bertemu Ketakwaan

Padahal, siapakah yang lebih suci daripada mereka?

Dalam Sahifah Sajadiyah, Imam Sajjad a.s mengajarkan sebuah doa yang hingga kini menjadi cermin paling jujur bagi siapa pun yang sedang meniti jalan kebaikan.

اللَّهُمَّ … وَأَعِزَّنِي وَلَا تَبْتَلِيَنِي بِالْكِبْرِ، وَعَبِّدْنِي لَكَ وَلَا تُفْسِدْ عِبَادَتِي بِالْعُجْبِ … وَاعْصِمْنِي مِنَ الْفَخْرِ … وَلَا تَرْفَعْنِي فِي النَّاسِ دَرَجَةً إِلَّا حَطَطْتَنِي عِنْدَ نَفْسِي مِثْلَهَا…

“Ya Allah, muliakanlah aku, tetapi jangan Engkau uji aku dengan kesombongan. Jadikan aku hamba-Mu, dan jangan rusakkan ibadahku dengan rasa bangga terhadap diri sendiri. Karuniakan kepadaku akhlak yang luhur serta lindungilah aku dari sikap membanggakan diri. Janganlah Engkau mengangkat derajatku di mata manusia kecuali Engkau jadikan aku memandang diriku lebih rendah dengan kadar yang sama”

Doa ini terasa paradoks. Bukankah setiap orang berharap dihormati? Bukankah manusia ingin namanya dikenang dan jasanya diakui?

Namun Imam Sajjad a.s justru memohon sesuatu yang berbeda. Beliau tidak meminta agar orang lain berhenti menghormatinya. Yang beliau pinta adalah agar setiap kali penghormatan itu datang, Allah menanamkan kerendahan hati yang lebih dalam di dalam dirinya.

Di sinilah letak pelajaran yang sering terlupakan. Kerendahan hati bukan berarti menolak penghargaan. Ia adalah kemampuan menjaga hati agar tidak ikut naik ketika nama sedang diangkat.

Dalam konteks yang lebih luas, penyakit ini tidak hanya mengintai para tokoh agama. Ia bisa menjangkiti siapa saja. Seorang aktivis merasa paling peduli. Seorang relawan merasa paling tulus. Seorang akademisi merasa paling berilmu. Seorang pemimpin merasa paling berjasa. Bahkan seseorang yang rajin beribadah dapat merasa lebih dekat kepada surga daripada orang lain.

Padahal, setiap rasa “aku lebih baik” adalah retakan kecil yang perlahan merusak bangunan keikhlasan.

Baca Juga  Amanah yang Akan Dipertanyakan Allah

Karena itu, orang-orang besar justru semakin sibuk melihat kekurangan dirinya sendiri. Mereka tidak memiliki banyak waktu untuk menghitung kelemahan orang lain. Semakin luas ilmu yang dimiliki, semakin sadar mereka bahwa masih banyak yang belum diketahui. Semakin banyak amal yang dilakukan, semakin besar rasa takut kalau-kalau semua itu tidak diterima.

Di titik ini, kebesaran seseorang tidak lagi diukur dari seberapa tinggi posisinya, melainkan dari seberapa rendah ia menempatkan dirinya di hadapan Allah.

Kita menemukan teladan serupa pada doa-doa para kekasih Allah. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s, yang keberanian dan ketakwaannya diakui sepanjang sejarah, justru menangis dalam Doa Kumail karena takut terhadap azab Allah. Imam Husain a.s, yang seluruh hidupnya menjadi simbol pengorbanan, merendahkan dirinya dalam Doa Arafah dengan kepasrahan yang nyaris tak terlukiskan.

Semakin dekat kepada Allah, ternyata seseorang tidak semakin percaya diri terhadap amalnya. Ia justru semakin khawatir bahwa seluruh amal itu belum cukup.

Barangkali inilah perbedaan paling mendasar antara orang yang mengejar citra dan orang yang mengejar ridha. Yang pertama sibuk memastikan dirinya terlihat mulia di mata manusia. Yang kedua sibuk memastikan hatinya tetap kecil di hadapan Tuhan.

Maka, ukuran keberhasilan bukanlah banyaknya pujian yang diterima, melainkan kemampuan menjaga hati agar tidak berubah setelah pujian itu datang. Sebab tidak sedikit orang yang gagal bukan ketika berada di bawah, melainkan ketika berada di atas.

Kesombongan memang jarang datang dengan suara keras. Ia hadir perlahan, menyelinap melalui prestasi, pengaruh, popularitas, bahkan amal saleh. Ketika seseorang mulai merasa dirinya berbeda dari orang lain, saat itulah ia perlu kembali bercermin pada doa Imam Sajjad a.s.

Baca Juga  Tauhid: Benteng Kehidupan yang Menyelamatkan Manusia

Mungkin kita tidak mampu mencapai maqam para wali Allah. Namun setidaknya kita dapat meniru kegelisahan mereka. Semakin tinggi manusia mengangkat nama kita, semakin dalam kita memohon agar Allah merendahkan ego di dalam dada. Sebab hati yang tetap tunduk di hadapan Tuhan adalah kemenangan yang jauh lebih besar daripada semua penghormatan yang diberikan manusia.

Bagikan:
Terkait
Komentar