Ketegasan Rasulullah: Ketika Kasih Sayang Tidak Berarti Lemah

KHAMENEI.ID– Kasih sayang sering disalahpahami sebagai kelembutan tanpa batas. Seolah-olah orang yang penuh belas kasih harus selalu mengalah, memaafkan apa pun, bahkan ketika kezaliman terus merampas hak manusia. Padahal, dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad saw menunjukkan wajah kasih sayang yang jauh lebih dewasa: lembut kepada manusia, tetapi tegas terhadap siapa pun yang menghalangi jalan kebenaran.

Di sinilah banyak orang keliru membaca kehidupan Rasulullah saw. Mereka melihat peperangan yang beliau pimpin, tetapi mengabaikan tujuan di baliknya. Yang diperangi bukanlah manusia semata, melainkan penindasan yang menghalangi manusia menemukan kebebasan, keadilan, dan petunjuk Ilahi. Ketegasan Rasulullah saw bukan lahir dari dendam, melainkan dari tanggung jawab moral untuk menjaga agar jalan menuju kebaikan tidak ditutup oleh kekuasaan yang zalim.

Perjuangan Nabi saw tidak pernah didorong oleh kebencian pribadi. Bahkan ketika peperangan menjadi pilihan yang tak terelakkan, beliau tetap menetapkan batas-batas kemanusiaan yang sangat jelas. Begitu musuh gugur di medan perang, permusuhan pun berhenti. Tidak ada ruang bagi balas dendam.

Pada masa itu, tradisi Arab mengenal praktik mutilasi terhadap mayat musuh. Tubuh lawan yang telah tewas sering dicabik: mata dicungkil, hidung dipotong, telinga dan bibir dirusak sebagai pelampiasan amarah. Rasulullah a.s justru melarang praktik itu. Bagi beliau, seseorang yang telah berhenti memerangi tidak lagi menjadi sasaran kebencian. Tujuan peperangan telah selesai ketika ancaman telah disingkirkan.

Pesan moralnya sangat jelas. Keadilan tidak boleh berubah menjadi pelampiasan dendam. Ketegasan tidak boleh kehilangan kemanusiaannya.

Dalam konteks yang lebih luas, inilah pembeda antara perjuangan yang berlandaskan nilai dengan peperangan yang didorong hawa nafsu. Yang pertama berakhir ketika kezaliman berhenti. Yang kedua terus mencari alasan untuk membalas, sekalipun lawan telah jatuh.

Baca Juga  Percaya Janji Allah swt di Tengah Ketakutan Global: Pelajaran Revolusi dari Imam Ali Khamenei

Prinsip itu juga tampak dalam sikap Rasulullah saw terhadap keluarga sendiri. Islam tidak mengenal keberpihakan karena hubungan darah. Ukuran yang dipakai adalah kebenaran.

Imam Ali a.s menggambarkan suasana itu dalam Nahj al-Balaghah ketika mengenang masa-masa bersama Rasulullah saw:

وَلَقَدْ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ نَقْتُلُ آبَاءَنَا وَأَبْنَاءَنَا وَإِخْوَانَنَا وَأَعْمَامَنَا، مَا يَزِيدُنَا ذَلِكَ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا وَمُضِيًّا عَلَى اللَّقَمِ وَصَبْرًا عَلَى مَضَضِ الْأَلَمِ

“Sungguh kami pernah bersama Rasulullah, sehingga kami harus menghadapi bahkan ayah, anak, saudara, dan paman kami sendiri di medan perang. Hal itu tidak menambah apa pun pada diri kami selain keimanan, ketundukan kepada Allah, keteguhan di jalan-Nya, dan kesabaran menghadapi pedihnya perjuangan”

Ungkapan itu mungkin terdengar keras bagi pembaca masa kini. Namun, yang hendak ditekankan bukanlah keberanian mengangkat pedang terhadap keluarga, melainkan kemampuan menempatkan prinsip di atas ikatan primordial. Dalam masyarakat yang sangat menjunjung kesukuan, sikap seperti ini merupakan revolusi moral. Kebenaran tidak boleh dikalahkan oleh loyalitas keluarga, suku, atau kepentingan pribadi.

Rasulullah saw sendiri memberikan teladan itu. Pamannya, Abbas, pernah menjadi tawanan perang ketika berada di pihak yang memusuhi kaum Muslim. Paman beliau yang lain gugur dalam peperangan karena memilih berdiri di barisan yang memerangi dakwah Islam. Hubungan keluarga tidak pernah menjadi alasan untuk membengkokkan keadilan.

Namun menariknya, ketegasan yang sama sekali tidak mengenal kompromi terhadap kebatilan justru berjalan beriringan dengan kerendahan hati yang luar biasa.

Di titik ini, wajah Rasulullah saw tampak utuh.

Beliau bisa sangat tegas terhadap orang-orang yang menghalangi jalan Allah, tetapi amat rendah hati kepada siapa saja yang tulus mencari kebenaran, sekalipun mereka bukan orang Arab, bukan berasal dari suku terpandang, bahkan datang dari negeri yang jauh. Kemuliaan seseorang tidak diukur dari nasab, warna kulit, atau kebangsaannya, melainkan dari ketulusan iman dan pengorbanannya.

Baca Juga  Tangan-Tangan yang Tak Pernah Masuk Sejarah, Tapi Menopang Peradaban 

Karena itu, Rasulullah saw tidak segan merendahkan diri di hadapan orang-orang beriman. Beliau duduk bersama mereka, mendengarkan keluhan mereka, menyapa anak-anak, menghormati perempuan, memperhatikan orang tua, dan menunjukkan kasih sayang kepada seluruh lapisan masyarakat. Tidak ada jarak antara pemimpin dan umatnya.

Di sinilah tampak keseimbangan akhlak Nabi saw yang sering hilang dalam berbagai pembacaan ekstrem. Sebagian hanya melihat kelembutan beliau, seolah Islam tidak mengenal ketegasan. Sebagian lain hanya menyoroti peperangan, seakan Islam dibangun di atas kekerasan. Padahal, kehidupan Rasulullah saw justru memperlihatkan perpaduan yang sangat seimbang: kasih sayang kepada manusia, tetapi tanpa kompromi terhadap kezaliman.

Keseimbangan inilah yang terasa semakin relevan pada masa sekarang. Kita hidup di zaman ketika ketegasan sering berubah menjadi kebencian, sementara toleransi kerap dimaknai sebagai sikap yang kehilangan prinsip. Akibatnya, masyarakat mudah terpecah antara dua kutub: keras tanpa belas kasih atau lembut tanpa keberanian mempertahankan kebenaran.

Rasulullah saw menawarkan jalan yang berbeda. Beliau mengajarkan bahwa seseorang dapat bersikap tegas tanpa menjadi pendendam. Ia dapat membela prinsip tanpa kehilangan kemanusiaan. Ia dapat mengalahkan musuh tanpa merendahkan martabat orang yang telah kalah.

Barangkali, di situlah letak kebesaran akhlak Nabi Muhammad saw. Beliau tidak pernah menjadikan kekuatan sebagai alat untuk memuaskan ego, melainkan sebagai amanah untuk menjaga kehidupan manusia tetap berada di jalan yang benar. Ketika ketegasan lahir dari cinta kepada kebenaran, bukan dari kebencian kepada manusia, maka bahkan di tengah medan perang sekalipun, kemanusiaan tetap memiliki tempat.

Bagikan:
Terkait
Komentar