Tafsir Al-Fatihah (Bag. 1): Mengapa Islam Memulai Segalanya dengan Nama Allah swt?

KHAMENEI.ID –

Tafsir Imam Ali Khamenei tentang Makna “Bismillahirrahmanirrahim” sebagai Arah, Identitas, dan Tujuan Kehidupan

Ada kebiasaan yang sering kita lakukan tanpa lagi menyadari kedalamannya. Sebelum makan, menulis, bekerja, bepergian, bahkan ketika hendak memulai membaca Al-Qur’an, kita mengucapkan, “Bismillahirrahmanirrahim.” Kalimat itu terasa begitu akrab hingga terkadang hanya menjadi pembuka formal yang meluncur dari bibir. Padahal, di balik rangkaian kata yang singkat itu tersimpan sebuah pandangan hidup yang sangat mendasar: tentang kepada siapa manusia mengaitkan setiap langkahnya, dan ke mana seluruh perjalanan hidup itu diarahkan.

Imam Ali Khamenei (qs) mengajak kita melihat bahwa Bismillah bukan sekadar pembuka bacaan. Ia adalah deklarasi orientasi hidup. Kalimat yang tampak sederhana ini menentukan identitas sebuah pekerjaan, arah sebuah perjuangan, sekaligus tujuan akhir dari setiap tindakan manusia.

Menariknya, hampir seluruh surah dalam Al-Qur’an diawali dengan بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), kecuali Surah At-Taubah. Menurut Imam Ali Khamenei, pengecualian ini bukan tanpa alasan.

Bismillah adalah simbol rahmat, kasih sayang, dan kelembutan Ilahi. Sementara pembukaan Surah At-Taubah berbicara tentang pemutusan hubungan dengan kaum musyrik yang mengkhianati perjanjian, serta memuat peringatan keras dan manifestasi keadilan Allah swt terhadap kezaliman. Karena itu, nuansa rahmat yang terkandung dalam Bismillah tidak selaras dengan tema pembukaan surah tersebut. Pembahasan mengenai hikmah ini, menurut beliau, akan menjadi lebih utuh ketika menafsirkan Surah At-Taubah secara khusus.

Namun, justru dari pengecualian itulah kita memahami sebuah kaidah penting: setiap kali Al-Qur’an memulai pembicaraan dengan nama Allah, yang sedang ditegaskan bukan sekadar tradisi membaca, melainkan arah dari seluruh pesan yang akan disampaikan.

Baca Juga  Ketika Universitas Mengubah Arah Masa Depan Bangsa

Mengapa Islam mengajarkan agar setiap pekerjaan dimulai dengan nama Allah swt?

Imam Ali Khamenei menjelaskan bahwa memulai sesuatu dengan menyebut nama seseorang selalu menunjukkan hubungan dan keterkaitan dengan nama tersebut. Ketika sebuah aktivitas diawali dengan nama Allah, itu berarti pekerjaan tersebut dinyatakan sebagai milik Allah. Lebih jauh lagi, bukan hanya berasal dari Allah, tetapi juga kembali menuju-Nya.

Di sinilah letak kedalaman makna Bismillah. Kalimat ini bukan hanya menyatakan sumber, tetapi juga tujuan. Ia menjadi penanda bahwa seluruh aktivitas seorang mukmin berada dalam orbit ketuhanan.

Dalam kehidupan modern, manusia sering mendefinisikan dirinya melalui pekerjaan, jabatan, organisasi, bahkan ideologi. Banyak tindakan dilakukan demi pencapaian pribadi, pengakuan sosial, atau kepentingan ekonomi. Di tengah orientasi yang beragam itu, Bismillah hadir sebagai pengingat bahwa ada arah yang lebih tinggi daripada sekadar keuntungan duniawi.

Seseorang bisa mengerjakan pekerjaan yang sama, tetapi dengan orientasi yang sangat berbeda. Dua orang membangun sekolah, misalnya. Yang satu mengejar popularitas, sementara yang lain benar-benar ingin mengabdi kepada Allah swt melalui pendidikan. Secara lahiriah keduanya melakukan hal serupa, tetapi makna spiritualnya sangat berbeda. Perbedaan itu bermula dari niat dan orientasi yang bahkan sudah diumumkan sejak kalimat pertama: Bismillah.

Imam Ali Khamenei kemudian menguraikan makna linguistik dari kata bism. Huruf ب (ba’) dalam bahasa Arab menunjukkan makna “dengan”. Artinya, seseorang memulai pekerjaannya dengan pertolongan Allah swt, bersama nama-Nya, atau dengan menghadirkan perhatian kepada-Nya.

Makna ini jauh lebih luas daripada sekadar menerjemahkan Bismillah sebagai “dengan nama Allah”. Ada dimensi ketergantungan yang sangat kuat. Seorang hamba mengakui bahwa dirinya tidak berdiri sendiri. Ia membutuhkan pertolongan, bimbingan, dan keberkahan dari Allah dalam setiap langkahnya.

Baca Juga  Pembentukan Budaya Terkait Konsep Mendasar dan Utama Ibadah Haji

Di sinilah Bismillah menjadi latihan kerendahan hati. Semakin sering seseorang mengucapkannya dengan penuh kesadaran, semakin kecil ruang bagi kesombongan untuk tumbuh dalam dirinya.

Imam Ali Khamenei juga menyinggung makna kata Allah itu sendiri. Sebagian ulama berpendapat bahwa lafaz Allah berasal dari kata al-ilah, yakni “sesembahan”. Seiring perjalanan bahasa, kata tersebut mengalami penyatuan hingga menjadi lafaz khusus, Allah. Pendapat lain menyatakan bahwa Allah sejak awal memang merupakan nama khusus bagi Zat Yang Mahasuci dan bukan hasil perkembangan kata lain.

Apa pun penjelasan etimologisnya, yang terpenting adalah memahami bahwa nama-nama Allah yang lain—seperti Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Hakim, atau Al-‘Alim—merupakan sifat-sifat-Nya. Sedangkan lafaz Allah adalah nama yang menunjuk langsung kepada Zat Tuhan Yang Maha Esa.

Karena itu, ketika seorang mukmin mengucapkan Bismillah, ia sedang menyandarkan seluruh aktivitasnya kepada Tuhan semesta alam, bukan sekadar kepada salah satu sifat-Nya.

Al-Qur’an sendiri mengajarkan pentingnya menghadirkan nama Allah dalam setiap aktivitas yang bernilai ibadah. Firman-Nya:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1).

Ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad saw. ternyata juga diawali dengan perintah membaca atas nama Tuhan. Artinya, bahkan aktivitas intelektual seperti membaca dan mencari ilmu pun tidak dipisahkan dari orientasi ketuhanan.

Di era ketika produktivitas sering dijadikan ukuran utama keberhasilan, pandangan Imam Ali Khamenei menghadirkan perspektif yang menyegarkan. Islam tidak hanya bertanya, “Apa yang sedang kamu kerjakan?” tetapi juga, “Atas nama siapa pekerjaan itu dilakukan?”

Pertanyaan kedua inilah yang sering terlupakan.

Barangkali karena itu, Bismillah tidak pernah kehilangan relevansinya. Ia bukan sekadar lafaz pembuka, melainkan kompas spiritual yang terus mengarahkan manusia agar tidak tersesat dalam kesibukan dunia. Ia mengingatkan bahwa setiap langkah memiliki identitas, setiap usaha mempunyai arah, dan setiap perjalanan semestinya berakhir pada Allah swt.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Fatihah (Bag. 10): Siapa Orang-Orang yang Diberi Nikmat Allah swt?

Pada akhirnya, mengucapkan Bismillah bukan hanya memulai sebuah pekerjaan. Ia adalah keputusan sadar untuk menempatkan Allah swt sebagai pusat kehidupan. Ketika orientasi itu terjaga, pekerjaan sekecil apa pun dapat bernilai ibadah. Sebaliknya, aktivitas sebesar apa pun dapat kehilangan maknanya jika terlepas dari arah menuju-Nya.

Mungkin itulah sebabnya Islam mengajarkan agar hampir setiap permulaan diawali dengan satu kalimat yang sederhana, tetapi sarat makna: Bismillahirrahmanirrahim.

Bagikan:
Terkait
Komentar