KHAMENEI.ID– Ada masa ketika ancaman terhadap agama tidak datang dalam bentuk larangan beribadah. Tidak ada pintu masjid yang ditutup, tidak ada kitab yang dibakar, tidak pula azan yang dilarang terdengar. Ancaman justru datang lebih halus: agama tetap ada, tetapi kehilangan daya untuk menerangi pikiran dan membentuk watak.
Di situlah persoalan dakwah menjadi jauh lebih rumit.
Agama dapat diwariskan sebagai nama, identitas, bahkan kebiasaan. Tetapi tanpa pengetahuan yang benar dan akhlak yang hidup, ia mudah berubah menjadi sekadar bunyi. Orang mengenal istilah-istilah agama, tetapi tidak memahami maknanya. Mereka rajin berbicara tentang kebaikan, tetapi tidak selalu mampu menghidupkannya dalam perilaku.
Karena itu, tugas mereka yang berbicara atas nama agama bukan sekadar membuat orang tahu bahwa agama itu penting. Tugas yang lebih berat adalah membuat agama menjadi cahaya yang bekerja di dalam kesadaran manusia.
Gagasan itu tampak kuat dalam pidato Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs kepada para rohaniwan dan para pendidik dari berbagai kalangan: masyarakat perlu dibimbing, pikirannya diterangi, didorong untuk mempelajari agama, diperkenalkan kepada ajaran yang benar dan bersih dari penyimpangan. Tetapi pengetahuan saja belum cukup. Agama harus turun menjadi keutamaan dan akhlak.
Di titik ini, dakwah berhenti menjadi pekerjaan menyampaikan ceramah. Ia berubah menjadi pekerjaan membentuk manusia.
Sebab manusia tidak hanya membutuhkan jawaban tentang apa yang benar. Ia juga membutuhkan kekuatan untuk menjalankan kebenaran itu. Ia perlu belajar membedakan antara kesalehan yang hanya tampak di permukaan dan iman yang benar-benar mengubah cara seseorang memperlakukan orang lain.
Maka bahasa agama, dalam gagasan ini, memiliki dua sisi yang harus berjalan bersama: peringatan dan harapan.
Manusia perlu diingatkan tentang akibat dari kesalahan, tentang pertanggungjawaban, tentang kemungkinan tersesat ketika hidup kehilangan arah. Al-Quran sendiri berulang kali mempertemukan kata inzar peringatan dengan busyra, kabar gembira. Peringatan tanpa harapan dapat membuat agama terasa seperti ancaman. Sebaliknya, harapan tanpa peringatan dapat membuat manusia lupa bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Keduanya diperlukan karena manusia adalah makhluk yang mudah lupa.
Ia perlu diingatkan tentang bahaya, tetapi juga perlu diyakinkan bahwa jalan pulang selalu mungkin. Mereka yang beriman, berbuat baik, tulus, dan berusaha menjalankan kebaikan tidak hanya diberi peringatan, tetapi juga kabar tentang rahmat Tuhan.
Di situlah dakwah memperoleh wajah kemanusiaannya.
Namun ada satu lapisan lain yang sering luput. Masyarakat tidak hidup di ruang kosong. Mereka hidup di tengah perubahan politik, ekonomi, budaya, teknologi, dan berbagai persoalan yang membentuk cara berpikir mereka. Karena itu, berbicara tentang agama tanpa memahami dunia tempat manusia hidup dapat membuat agama terdengar jauh dari kenyataan.
Seorang rohaniawan, dalam pidato tersebut, tidak hanya diminta mengajarkan persoalan keagamaan. Ia juga perlu membantu masyarakat memahami persoalan penting dunia Islam dan keadaan negaranya. Artinya, pengetahuan agama tidak dimaksudkan untuk menjauhkan manusia dari realitas, melainkan memberinya kemampuan membaca realitas dengan lebih jernih.
Dalam konteks yang lebih luas, inilah yang membuat kesadaran menjadi penting.
Masyarakat yang sadar tidak mudah digerakkan oleh kabar palsu, propaganda, fanatisme buta, atau emosi sesaat. Ia tidak menerima setiap informasi hanya karena datang dari orang yang mengaku berbicara atas nama agama. Ia belajar bertanya, menimbang, memahami, lalu menentukan sikap.
Karena itu, salah satu bentuk dakwah yang paling penting mungkin bukan menambah jumlah orang yang berbicara, melainkan menyalakan lebih banyak manusia yang mampu berpikir.
Pesan tersebut menggambarkannya dengan metafora yang sederhana: sebuah pelita. Setiap orang yang membawa pelita dan menyalakannya di suatu tempat akan membuat hati menjadi terang. Dari terang itu lahir kesadaran; dari kesadaran lahir gerak; dan dari gerak yang dituntun iman, kehidupan memperoleh arah.
Metafora itu terasa semakin relevan di tengah zaman yang dipenuhi cahaya, tetapi tidak selalu menghasilkan terang.
Layar ponsel menyala sepanjang hari. Informasi datang tanpa henti. Orang dapat mengetahui peristiwa di belahan dunia lain dalam hitungan detik. Namun kelimpahan informasi tidak otomatis menghasilkan kejernihan. Manusia modern justru dapat tenggelam dalam informasi dan kehilangan kemampuan membedakan mana pengetahuan, mana propaganda; mana kebenaran, mana sekadar kebisingan.
Karena itu, persoalan dakwah hari ini bukan hanya bagaimana membuat agama terdengar. Tantangannya adalah bagaimana membuat agama mampu menerangi.
Dan cahaya itu tidak akan lahir dari kata-kata semata.
Pesan kepada para rohaniwan tersebut menempatkan teladan sebagai bagian penting dari pekerjaan itu. Keutamaan moral tidak cukup diajarkan dengan bahasa. Ia harus diperlihatkan melalui tindakan. Kejujuran lebih mudah dipahami ketika seseorang melihat orang jujur. Kesederhanaan lebih meyakinkan ketika dipraktikkan oleh orang yang mengajarkannya. Ketulusan kehilangan makna jika hanya menjadi slogan.
Pada akhirnya, masyarakat akan lebih mudah membaca agama melalui perilaku para pembawanya daripada melalui panjang pendek ceramah mereka.
Karena itu pula, perjuangan keagamaan yang paling kuat bukanlah perebutan kekuasaan atau pengejaran kemewahan. Pesan itu mengutip sebuah ungkapan yang menggambarkan perjuangan tanpa ambisi terhadap kekuasaan dan tanpa kerakusan terhadap kenikmatan dunia yang berlebihan.
Ada sesuatu yang penting di sana: ikhlas.
Tanpa ketulusan, dakwah mudah berubah menjadi panggung. Pengetahuan dapat menjadi alat untuk mencari pengaruh. Mimbar dapat menjadi tempat membangun popularitas. Bahkan agama dapat dipakai untuk mendapatkan sesuatu yang justru bertentangan dengan pesan moralnya.
Di sinilah paradoks itu muncul. Orang dapat berbicara tentang Tuhan sambil diam-diam mengejar dirinya sendiri.
Maka tantangan terbesar dakwah barangkali bukan menemukan lebih banyak kata, melainkan menemukan lebih banyak ketulusan. Bukan sekadar membuat orang takut kepada neraka atau berharap kepada surga, tetapi membantu manusia menjadi lebih jernih pikirannya, lebih baik akhlaknya, lebih peka terhadap penderitaan, dan lebih bertanggung jawab terhadap kehidupan.
Sebab agama yang benar-benar menjadi cahaya tidak berhenti di kepala.
Ia turun ke hati, lalu bergerak menjadi tindakan.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin ramai oleh suara, yang paling dibutuhkan bukan suara agama yang lebih keras, melainkan cahaya yang lebih jernih, cahaya yang membuat manusia mampu melihat dirinya sendiri, melihat zamannya, dan akhirnya menemukan kembali jalan menuju kebaikan.







