Menjadi Merakyat: Ketika Kesederhanaan Nabi Lebih Nyata daripada Sekadar Slogan

KHAMENEI.ID– Ada banyak orang mengaku dekat dengan rakyat. Mereka berbicara atas nama masyarakat, tampil sederhana di depan kamera, atau sesekali turun ke jalan untuk menyapa orang-orang kecil. Namun, kedekatan dengan rakyat bukanlah perkara citra. Ia adalah cara hidup. Bukan sesuatu yang dipentaskan, melainkan kebiasaan yang lahir dari hati.

Di tengah budaya yang sering mengukur kehormatan dari jabatan, pakaian, atau fasilitas, kehidupan Nabi Muhammad saw justru memperlihatkan arah yang berlawanan. Beliau tidak membangun jarak dengan manusia. Sebaliknya, beliau menghapus sekat-sekat yang membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada yang lain.

Ibnu Abbas meriwayatkan sebuah hadis yang menggambarkan kesederhanaan itu:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَجْلِسُ عَلَى الْأَرْضِ، وَيَأْكُلُ عَلَى الْأَرْضِ، وَيَعْتَقِلُ الشَّاةَ، وَيُجِيبُ دَعْوَةَ الْمَمْلُوكِ عَلَى خُبْزِ الشَّعِيرِ

“Rasulullah  biasa duduk di atas tanah, makan di atas tanah, memegang sendiri kambingnya, dan memenuhi undangan seorang budak untuk menikmati roti gandum”

Hadis yang singkat ini menyimpan gambaran yang jauh lebih besar daripada sekadar kebiasaan hidup sederhana. Ia menunjukkan bagaimana seorang pemimpin memilih untuk tetap menjadi bagian dari masyarakat, bukan berdiri di atas mereka.

Bayangkan seorang pemimpin yang sedang berjalan, lalu dihentikan oleh seseorang di pinggir jalan hanya untuk berbincang beberapa saat. Tidak ada kursi istimewa yang diminta. Tidak ada protokol yang menciptakan jarak. Ia duduk begitu saja di atas tanah, sebagaimana orang lain duduk.

Kesederhanaan semacam ini bukan karena beliau tidak mampu hidup mewah. Justru karena beliau ingin menunjukkan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh kemasan lahiriahnya. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula godaan untuk menciptakan tembok yang memisahkannya dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Nabi saw memilih menghancurkan tembok itu.

Baca Juga  Jalan Menuju Bashirah di Tengah Banjir Informasi

Bahkan dalam urusan yang tampak sepele, beliau tidak merasa rendah ketika harus menggiring atau memegang sendiri kambing peliharaannya. Bagi sebagian orang, pekerjaan seperti itu mungkin dianggap tidak pantas dilakukan oleh tokoh besar. Namun Nabi saw tidak pernah membiarkan gengsi mengalahkan kemanusiaan.

Di titik ini, kita mulai memahami bahwa kerendahan hati bukanlah sikap pasif. Ia adalah keputusan sadar untuk tidak membangun identitas berdasarkan simbol-simbol kehormatan.

Pelajaran yang lebih menyentuh justru tampak ketika Nabi saw menerima undangan seorang budak  yang hanya memiliki roti jelai sebagai hidangan. Dalam masyarakat Arab saat itu, seorang budak berada pada lapisan sosial paling bawah. Menolak undangannya mungkin dianggap wajar menurut ukuran sosial. Namun Nabi saw justru duduk bersamanya dan menikmati makanan sederhana itu.

Beliau tidak bertanya siapa tuan orang tersebut, berapa kekayaannya, atau apakah jamuan itu layak bagi seorang pemimpin. Yang beliau lihat adalah manusia yang mengundang dengan tulus.

Inilah makna kedekatan yang sesungguhnya. Kedekatan bukan soal sering muncul di tengah keramaian, tetapi kesediaan menghargai setiap orang tanpa mempertimbangkan status sosialnya.

Dalam konteks yang lebih luas, pesan ini terasa semakin relevan hari ini. Kita hidup di zaman ketika relasi antarmanusia sering dibangun berdasarkan manfaat. Orang yang berpengaruh lebih mudah mendapatkan perhatian, sementara mereka yang miskin, lemah, atau tidak memiliki akses sering kali menjadi sosok yang nyaris tak terlihat.

Tanpa disadari, kita pun mudah terjebak dalam pola yang sama. Sambutan hangat diberikan kepada mereka yang terpandang. Pesan dari orang penting segera dibalas. Sebaliknya, permintaan bantuan dari orang kecil kerap ditunda, bahkan diabaikan.

Padahal, ukuran kemanusiaan justru tampak ketika kita memperlakukan orang yang tidak dapat memberi keuntungan apa pun kepada kita.

Baca Juga  Zuhud: Syarat Tuhan untuk Mengangkat Derajat Manusia

Menjadi merakyat, karena itu, bukan slogan politik dan bukan pula strategi komunikasi. Menjadi merakyat berarti bersedia memasuki kehidupan orang lain tanpa membawa perasaan lebih tinggi. Ia tampak dalam kesediaan mendengar, menyapa, duduk bersama, serta merasakan denyut kehidupan mereka yang selama ini berada di pinggir perhatian.

Bagi siapa pun yang memikul amanah, pemimpin, guru, ulama, pejabat, atau tokoh masyarakat, teladan Nabi saw menghadirkan standar moral yang tidak mudah dicapai, tetapi harus selalu menjadi arah perjalanan. Tidak ada yang berharap mampu menyamai kesempurnaan akhlak beliau. Namun, sebagaimana seorang pendaki yang terus menatap puncak gunung meski belum tentu berhasil mencapainya, manusia memerlukan tujuan yang tinggi agar langkahnya tidak kehilangan arah.

Gagasan ini kemudian menyentuh kehidupan setiap orang. Barangkali kita bukan pemimpin negara atau tokoh masyarakat. Namun setiap hari kita memiliki kesempatan memilih: apakah kita akan lebih ramah kepada orang kaya daripada kepada petugas kebersihan, lebih menghormati orang yang berjabatan daripada tetangga sederhana, atau lebih cepat menolong mereka yang menguntungkan daripada mereka yang benar-benar membutuhkan.

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kecil itu sesungguhnya membentuk kualitas kemanusiaan kita.

Kesederhanaan Nabi saw bukanlah romantisme masa lalu. Ia adalah kritik yang terus hidup terhadap kecenderungan manusia membangun hierarki semu. Bahwa seseorang menjadi mulia bukan karena kursi yang didudukinya, melainkan karena kemampuannya tetap membumi ketika semua alasan untuk merasa tinggi ada di tangannya.

Mungkin di situlah makna paling dalam dari menjadi dekat dengan rakyat: bukan turun sesekali ke tengah mereka, tetapi tidak pernah benar-benar meninggalkan mereka dalam cara berpikir, cara hidup, dan cara memandang sesama manusia.

Bagikan:
Terkait
Komentar