KHAMENEI.ID –
Imam Khamenei: Dunia Sedang Bergerak dari Tatanan Dominasi Menuju Tatanan Baru
Selama berabad-abad, dunia seolah menerima satu aturan tidak tertulis: ada negara yang berhak menguasai, dan ada negara yang ditakdirkan untuk dikuasai. Ada pusat kekuasaan yang menentukan arah politik, ekonomi, dan kebudayaan, sementara negara-negara lain ditempatkan sebagai pengikut.
Dalam kerangka pemikiran Imam Ali Khamenei qs, inilah yang disebut sistem dominasi (nizam al-sultah). Sebuah tatanan yang membagi dunia menjadi dua: dominan dan didominasi.
Persoalannya, sistem tersebut tidak hanya bekerja melalui kekuatan militer. Ia jauh lebih dalam. Negara yang dominan menentukan kebijakan politik, mengendalikan jalur ekonomi, bahkan ikut menentukan nilai budaya yang dianggap universal. Sementara negara yang berada di bawahnya perlahan dibiasakan untuk menerima posisi tersebut sebagai sesuatu yang normal.
Dan justru normalisasi itulah yang dipersoalkan.
Dunia yang Dibagi Menjadi Penguasa dan Pengikut
Menurut Imam Khamenei, tatanan internasional yang terbentuk setelah kebangkitan kekuatan Barat menjadikan dominasi sebagai semacam hukum alam politik.
Pada satu masa, dunia terbagi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Di bawah mereka terdapat kekuatan-kekuatan lain yang menjadi pengikut. Setelah runtuhnya Uni Soviet dan berakhirnya Perang Dingin, Amerika kemudian tampil sebagai kekuatan dominan dalam sistem unipolar.
Namun, di balik perubahan pusat kekuasaan tersebut, logikanya tetap sama: sebagian menentukan, sebagian mengikuti.
Imam Khamenei melihat Revolusi Islam Iran sebagai salah satu proyek politik yang sejak awal menolak logika tersebut.
Republik Islam, dalam perspektifnya, tidak sekadar mendirikan pemerintahan baru. Ia menolak asumsi bahwa sebuah negara harus memilih menjadi penguasa atau menjadi pengikut. Karena itu, benturan dengan kekuatan besar dunia dianggap bukan semata-mata akibat perbedaan kebijakan luar negeri.
Masalah dasarnya adalah kedaulatan.
Sebuah sistem yang tidak bersedia tunduk pada hierarki kekuasaan global akan selalu menjadi persoalan bagi sistem yang ingin mempertahankan hierarki tersebut.
Dari HAM hingga Rudal: Mengapa Selalu Ada Alasan Baru?
Di sinilah Imam Khamenei menawarkan pembacaan yang lebih struktural terhadap konflik Iran dengan negara-negara Barat.
Menurutnya, berbagai isu yang muncul dari waktu ke waktu—hak asasi manusia, program nuklir, kemampuan rudal, hingga kehadiran Iran di kawasan—sering kali diperlakukan sebagai alasan yang berubah-ubah.
Isunya dapat berganti. Narasinya dapat berubah. Tetapi, menurut Khamenei, inti persoalannya tetap sama: Iran tidak bersedia menjadi bagian dari sistem dominasi tersebut.
Ini adalah klaim yang perlu dibaca lebih jauh daripada sekadar pertentangan antara Iran dan Amerika.
Sebab, jika masalahnya hanya satu isu tertentu, penyelesaiannya semestinya dapat ditemukan melalui negosiasi atas isu tersebut. Namun jika isu terus berganti setelah satu persoalan selesai, pertanyaan yang lebih mendasar muncul: apakah sebenarnya yang dipertarungkan bukan kebijakan tertentu, melainkan posisi sebuah negara dalam struktur kekuasaan internasional?
Dalam pembacaan Imam Khamenei, jawabannya adalah yang kedua.
Kolonialisme Tidak Berakhir Bersama Pendudukan
Sistem dominasi juga tidak hanya berbentuk pendudukan wilayah.
Khamenei mengingatkan bahwa kolonialisme selama berabad-abad membentuk kebiasaan politik yang jauh lebih dalam: bangsa-bangsa yang dijajah dibiasakan untuk menganggap budaya, nilai, bahkan cara hidup negara kolonial sebagai standar kemajuan.
Dengan demikian, dominasi memiliki dua wajah.
Yang pertama adalah dominasi material: kekuatan militer, ekonomi, politik, dan teknologi.
Yang kedua adalah dominasi mental: keyakinan bahwa pihak yang lebih kuat memang secara alamiah lebih berhak menentukan arah dunia.
Yang kedua justru lebih sulit dihancurkan.
Sebab ketika sebuah bangsa telah menerima gagasan bahwa dirinya selalu membutuhkan persetujuan kekuatan besar, dominasi tidak lagi membutuhkan penjajahan secara langsung. Ketundukan dapat berlangsung melalui keputusan-keputusan politik yang dibuat secara sukarela.
Dalam konteks itulah gagasan perlawanan memperoleh makna yang lebih luas.
Resistensi sebagai Gangguan terhadap “Normalitas”
Menurut Imam Khamenei, Republik Islam Iran tidak hanya bertahan menghadapi tekanan, tetapi juga memperkenalkan gagasan jabhah al-muqawamah, atau Front Perlawanan, sebagai alternatif terhadap budaya tunduk.
Ia menyebut gagasan resistensi sebagai salah satu fenomena yang berpotensi berkembang seiring perubahan tatanan dunia.
Jika selama berabad-abad bangsa-bangsa dibiasakan percaya bahwa dominasi Barat merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari, maka munculnya negara dan gerakan yang menolak tunduk dapat mengubah persepsi tersebut.
Di sinilah resistensi menjadi lebih dari sekadar strategi pertahanan.
Ia menjadi pertanyaan terhadap aturan permainan.
Apakah dunia memang harus selalu memiliki negara yang menentukan dan negara yang mengikuti? Apakah kemajuan ekonomi harus dibayar dengan ketergantungan politik? Apakah hubungan internasional harus selalu disusun berdasarkan siapa yang memiliki kekuatan lebih besar?
Pertanyaan-pertanyaan itu mengusik fondasi sistem lama.
Tanda-Tanda Tatanan Baru
Khamenei melihat berbagai perubahan global sebagai indikasi bahwa tatanan lama sedang mengalami tekanan. Dunia, menurutnya, bergerak menuju konfigurasi baru.
Namun, tatanan baru tidak otomatis berarti tatanan yang lebih adil. Pergantian kekuatan besar tidak dengan sendirinya menghapus logika dominasi. Ia bisa saja hanya mengganti siapa yang berada di puncak.
Karena itu, gagasan yang ditawarkan Khamenei bukan sekadar mengganti satu hegemon dengan hegemon lainnya. Yang dipersoalkan adalah prinsip hegemoninya.
Jika dunia baru hanya melahirkan penguasa baru, maka sistem dominasi sebenarnya belum berakhir.
Sebaliknya, jika semakin banyak bangsa menolak ditempatkan sebagai objek keputusan kekuatan lain, maka struktur hubungan internasional dapat bergerak menuju sesuatu yang berbeda.
Di situlah makna strategis perlawanan yang ia tekankan.
Pertarungan Sesungguhnya Ada pada Cara Dunia Berpikir
Pada akhirnya, persoalan sistem dominasi bukan hanya tentang siapa yang memiliki kapal perang paling banyak, ekonomi terbesar, atau teknologi paling maju.
Pertarungan yang lebih panjang berlangsung dalam cara manusia memandang dunia.
Apakah kekuatan menentukan kebenaran?
Apakah bangsa yang lemah harus mengikuti bangsa yang kuat?
Apakah standar politik, budaya, dan ekonomi sebuah pusat kekuasaan harus menjadi ukuran seluruh dunia?
Imam Khamenei menolak ketiga asumsi tersebut.
Bagi beliau, perubahan tatanan global dimulai ketika bangsa-bangsa berhenti menganggap dominasi sebagai sesuatu yang normal. Ketika sebuah negara berani mengatakan bahwa hubungan internasional harus dibangun atas dasar kepentingan dan martabat yang setara, bukan ketundukan.
Revolusi Islam, dalam narasi tersebut, ingin menempatkan dirinya sebagai bagian dari proses itu.
Dan jika prediksi tentang lahirnya tatanan dunia baru benar, pertanyaan terpenting bukan sekadar siapa yang akan menjadi kekuatan terbesar berikutnya.
Pertanyaan yang jauh lebih menentukan adalah: apakah dunia baru itu akan mengulangi sistem lama dengan wajah berbeda, atau benar-benar meninggalkan logika penguasa dan yang dikuasai?







