KHAMENEI.ID— Manusia modern hidup dengan paradoks yang aneh: semakin banyak fasilitas, semakin mudah gelisah. Teknologi memendekkan jarak, tetapi tidak otomatis mendekatkan hati pada ketenangan. Orang bisa memiliki pekerjaan mapan, rumah nyaman, dan akses pada hampir segala hal, tetapi tetap merasa cemas menghadapi hidup. Seolah-olah ada sesuatu yang bocor di dalam batin manusia hari ini, sesuatu yang tidak bisa ditambal hanya dengan uang, hiburan, atau motivasi.
Dalam situasi seperti itu, sebuah hadis dari Imam Ja’far ash-Shadiq a.s terasa seperti petunjuk yang sederhana sekaligus dalam. Beliau berkata:
ثَلاثٌ لا یَضُرُّ مَعَهُنَّ شَیءٌ
“Ada tiga hal yang bila dimiliki seseorang, tidak ada sesuatu pun yang benar-benar membahayakannya.”
Kalimat ini bukan berarti hidup orang tersebut akan bebas masalah. Bukan berarti ia tidak akan sakit, gagal, kehilangan, atau berhadapan dengan kesulitan hidup. Maksud hadis ini lebih dalam: ada kekuatan batin yang membuat seseorang tidak runtuh oleh berbagai peristiwa yang menimpanya.
Lalu Imam Shadiq a.s menyebut tiga hal itu: doa saat kesulitan, istighfar ketika berbuat dosa, dan syukur saat menerima nikmat.
Tiga hal yang tampaknya sederhana, tetapi justru sering hilang dari kehidupan modern.
Yang pertama adalah:
اَلدُّعَاءُ عِندَ الکُرُبات
“Berdoa ketika berada dalam kesulitan.”
Hari ini manusia diajarkan untuk tampak kuat sepanjang waktu. Menangis dianggap lemah. Mengaku tidak mampu dianggap memalukan. Bahkan dalam urusan spiritual, sebagian orang merasa doa hanyalah pelarian emosional bagi mereka yang kalah menghadapi kenyataan.
Padahal tradisi Islam justru menunjukkan hal sebaliknya. Nabi Muhammad saw sendiri, ketika berada di tengah perang dan dikepung berbagai ancaman, tetap mengangkat tangan dan berdoa dengan penuh tangis kepada Tuhan. Beliau tetap menyusun strategi, tetap berpikir matang, tetap berjuang secara nyata, tetapi tidak pernah merasa cukup hanya mengandalkan dirinya sendiri.
Di sinilah letak kesalahpahaman manusia modern tentang doa.
Sebagian orang membenturkan doa dengan usaha, seolah keduanya bertentangan. Padahal dalam pengalaman spiritual Islam, doa bukan pengganti usaha. Doa adalah pengakuan bahwa manusia, sehebat apa pun dirinya, tetap memiliki keterbatasan.
Al-Qur’an sendiri menggambarkan:
فَلَولا اِذ جاءَهُم بَأسُنا تَضَرَّعوا
“Mengapa ketika kesulitan datang kepada mereka, mereka tidak merendahkan diri dan memohon kepada Tuhan?” (QS. al-An’am 43)
Ada sesuatu yang perlahan mati dalam kehidupan manusia hari ini: kemampuan untuk bersimpuh dengan tulus di hadapan Allah swt.
Kita lebih mudah curhat di media sosial daripada berdoa dalam kesunyian. Lebih cepat mencari validasi manusia daripada mencari pertolongan langit. Padahal doa sering kali bukan pertama-tama mengubah keadaan, melainkan mengubah manusia yang sedang menghadapi keadaan itu.
Yang kedua adalah:
وَ الِاستِغفارُ عِندَ الذَّنب
“Memohon ampun ketika melakukan dosa.”
Ini mungkin salah satu kemampuan yang paling hilang dari zaman sekarang: kemampuan mengakui kesalahan.
Orang lebih sibuk membenarkan diri daripada memperbaiki diri. Bahkan dosa pun kini sering dibungkus dengan istilah-istilah yang membuatnya terdengar normal. Kesalahan dianggap bagian dari “kebebasan personal”. Kebohongan disebut strategi. Kesombongan disebut percaya diri.
Padahal Imam Shadiq a.s mengingatkan bahwa setiap manusia pasti jatuh dalam kesalahan, baik yang disadari maupun yang tidak. Yang menentukan bukan apakah manusia pernah berdosa, tetapi apakah ia masih punya keberanian untuk meminta maaf kepada Tuhan.
Dan istighfar bukan sekadar ucapan otomatis “astaghfirullah”.
Istighfar adalah kesadaran yang jujur: bahwa ada sesuatu dalam diri kita yang salah dan perlu dibersihkan.
Dalam Doa Kumail ada penggalan yang sangat terkenal:
اَللّهُمَّ اغفِر لِیَ الذُّنوبَ الَّتی تَحبِسُ الدُّعاء
“Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang menghalangi doa”
Kalimat itu menyiratkan sesuatu yang penting: dosa bukan hanya pelanggaran moral, tetapi juga bisa menjadi penghalang batin manusia dengan Tuhannya. Hati yang dipenuhi kesombongan, kebencian, atau kelalaian perlahan kehilangan kejernihannya untuk berdoa dengan tulus.
Karena itu istighfar sebenarnya bukan ritual rasa bersalah semata. Ia adalah proses membersihkan ruang batin agar manusia tetap bisa kembali kepada Tuhan tanpa topeng.
Lalu yang ketiga adalah:
وَ الشُّکرُ عِندَ النِّعمَة
“Bersyukur ketika mendapatkan nikmat.”
Ini terdengar paling mudah, tetapi justru paling sering gagal dilakukan manusia.
Sebab manusia punya kecenderungan aneh: cepat terbiasa dengan nikmat. Setelah mendapatkan sesuatu, ia berhenti mensyukurinya dan mulai menganggapnya biasa. Rumah yang dulu diimpikan kini terasa sempit. Pekerjaan yang dulu diperjuangkan kini terasa membosankan. Tubuh sehat yang setiap hari dipakai berjalan, melihat, dan bernapas hampir tidak pernah disadari sebagai karunia.
Padahal Al-Qur’an menjanjikan:
لَئِن شَکَرتُم لَاَزیدَنَّکُم
“Jika kalian bersyukur, Aku akan menambah nikmat kepada kalian” (QS. Ibrahim 7)
Tambahan nikmat bukan selalu berarti tambahan materi. Kadang yang bertambah adalah ketenangan, keberkahan, rasa cukup, atau kemampuan menikmati hidup yang sederhana.
Dalam riwayat disebutkan bahwa bahkan ketika seseorang tiba-tiba teringat sebuah nikmat di tengah jalan, ia dianjurkan mengucap:
اَلحَمدُ لِلهِ رَبِّ العالَمین
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”
Ada pesan halus di sana: syukur bukan seremoni besar. Ia adalah kesadaran kecil yang terus hidup dalam keseharian.
Mungkin itulah sebabnya orang yang pandai bersyukur biasanya lebih tenang. Bukan karena hidup mereka tanpa masalah, tetapi karena mereka masih mampu melihat cahaya di tengah kekurangan.
Pada akhirnya, tiga hal yang disebut Imam Shadiq a.s ini sesungguhnya membentuk tiga hubungan paling penting dalam hidup manusia.
Doa menjaga hubungan manusia dengan harapan ketika kesulitan datang.
Istighfar menjaga hubungan manusia dengan dirinya sendiri ketika ia jatuh dalam kesalahan.
Dan syukur menjaga hubungan manusia dengan nikmat agar ia tidak berubah menjadi makhluk yang selalu merasa kurang.
Mungkin dunia memang tidak akan pernah benar-benar tenang. Masalah akan tetap datang silih berganti. Tetapi manusia yang tahu kapan harus berdoa, kapan harus meminta ampun, dan kapan harus bersyukur, biasanya memiliki sesuatu yang lebih kuat daripada sekadar rasa aman: ia memiliki ketenangan yang tidak mudah dihancurkan keadaan.







