KHAMENEI.ID– Ada kesedihan yang tak dapat dihibur oleh kata-kata manusia. Ada pula duka yang justru disentuh oleh langit.
Begitulah tradisi Islam menggambarkan hari-hari terakhir kehidupan Sayidah Fatimah a.s setelah wafatnya Rasulullah saw. Putri tercinta Nabi saw itu hanya hidup sekitar 75 hari setelah kepergian ayahnya. Hari-hari itu dipenuhi kesedihan yang begitu dalam. Namun, di tengah kesunyian duka itulah sebuah peristiwa luar biasa disebutkan dalam riwayat-riwayat sahih: Malaikat Jibril datang berulang kali untuk menghiburnya.
Riwayat dari Imam Ja’far ash-Shadiq a.s menyebutkan bahwa Jibril a.s mendatangi Fatimah a.s, menyampaikan belasungkawa atas wafat Rasulullah saw, menenangkan hatinya, mengabarkan kedudukan Nabi a.s di sisi Allah, bahkan menyampaikan berbagai peristiwa yang kelak akan dialami keturunannya. Semua itu kemudian ditulis oleh Imam Ali a.s. Peristiwa ini bukan sekadar kisah spiritual. Ia membuka jendela tentang betapa agung kedudukan Fatimah a.s dalam pandangan langit.
Riwayat tersebut berbunyi:
وَكَانَ يَأْتِيهَا جَبْرَئِيلُ فَيُحْسِنُ عَزَاءَهَا عَلَى أَبِيهَا وَيُطَيِّبُ نَفْسَهَا وَيُخْبِرُهَا عَنْ أَبِيهَا وَمَكَانِهِ وَيُخْبِرُهَا بِمَا يَكُونُ بَعْدَهَا فِي ذُرِّيَّتِهَا
“Jibril datang kepadanya, menghiburnya atas wafat ayahnya, menenangkan jiwanya, mengabarkan keadaan dan kedudukan ayahnya, serta memberitahukan apa yang akan terjadi pada keturunannya di masa depan”
Di sinilah letak keistimewaannya. Dalam Al-Qur’an, kedatangan Jibril a.s kepada selain nabi saw hanya disebut secara eksplisit ketika Maryam a.s menerima kabar kelahiran Nabi Isa a.s.
فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا
“Lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya, maka ia menampakkan diri di hadapannya sebagai seorang manusia yang sempurna” (QS. Maryam: 17)
Bila “ruh” dalam ayat ini dipahami sebagai Jibril a.s, maka Maryam a.s menjadi satu-satunya perempuan yang secara eksplisit disebut Al-Qur’an menerima kedatangannya. Namun riwayat-riwayat Ahlulbait menambahkan sebuah kenyataan yang tak kalah mengagumkan: Jibril tidak hanya datang sekali kepada Fatimah a.s, tetapi berkali-kali setelah wafat Rasulullah saw.
Ini tentu bukan berarti Fatimah a.s menerima wahyu kenabian. Kenabian telah berakhir pada Muhammad saw. Kedatangan Jibril justru dipahami sebagai bentuk pemuliaan ilahi sekaligus penghiburan kepada seorang perempuan yang menjadi poros keluarga kenabian. Kehadiran malaikat itu menjadi isyarat bahwa kesucian dan kedekatan seseorang kepada Allah tidak selalu identik dengan kenabian.
Namun jika ditarik lebih jauh, keagungan Fatimah a.s sesungguhnya tidak hanya ditopang oleh riwayat. Al-Qur’an sendiri berkali-kali mengabadikan kemuliaannya.
Salah satu yang paling terkenal terdapat dalam Surah Al-Insan, ketika keluarga Ali a.s, Fatimah a.s, Hasan a.s, dan Husain a.s memilih memberikan makanan yang mereka miliki kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan, meskipun mereka sendiri sedang membutuhkannya.
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
“Kami memberi makan kepada kalian semata-mata karena mengharap wajah Allah. Kami tidak menghendaki balasan maupun ucapan terima kasih dari kalian” (QS. Al-Insan: 9)
Kalimat itu terasa sederhana, tetapi sesungguhnya memuat revolusi moral yang besar. Berbuat baik tanpa menunggu pengakuan. Memberi tanpa menghitung keuntungan. Menolong tanpa berharap nama dikenang.
Di zaman ketika hampir setiap kebaikan ingin dipamerkan, ayat ini terdengar semakin relevan. Fatimah a.s memperlihatkan bahwa nilai sebuah amal justru terletak pada kebebasannya dari kepentingan diri.
Gagasan ini kemudian menyentuh dimensi lain dari kehidupan Fatimah a.s, yakni keberaniannya berdiri di pihak kebenaran. Hal itu tercermin dalam peristiwa mubahalah yang direkam Al-Qur’an.
فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ
“Katakanlah, marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kalian” (QS. Ali ‘Imran: 61)
Yang menarik, ketika ayat itu turun, Rasulullah saw tidak membawa seluruh perempuan yang berada di sekitarnya. Beliau hanya mengajak Fatimah a.s. Seakan Al-Qur’an sedang menunjukkan bahwa dalam pertarungan antara kebenaran dan kebatilan, kualitas lebih penting daripada jumlah. Kehadiran satu pribadi yang benar dapat mewakili seluruh barisan.
Belum lagi Ayat Tathir yang menegaskan kesucian Ahlulbait, termasuk Fatimah a.s, dari segala noda. Keseluruhan ayat-ayat itu membentuk gambaran yang utuh: Fatimah a.s bukan sekadar putri Nabi saw, melainkan simbol kesucian, pengabdian, dan keberanian moral.
Karena itulah Rasulullah saw memberikan penghormatan yang luar biasa kepadanya. Beliau bersabda bahwa Fatimah a.s adalah “Sayyidatu Nisa’ al-‘Alamin”, pemimpin seluruh perempuan di alam semesta. Dalam riwayat lain beliau menyebutnya sebagai “Sayyidatu Nisa’ Ahlil Jannah”, pemimpin seluruh perempuan penghuni surga.
Gelar itu tidak sekadar menunjukkan kemuliaan pribadi, tetapi juga menegaskan bahwa keagungan seorang manusia diukur oleh kualitas ruhani dan pengabdiannya kepada Allah, bukan oleh kekuasaan, keturunan, ataupun kemegahan dunia.
Dalam konteks yang lebih luas, warisan terbesar Fatimah a.s mungkin bukan hanya kisah-kisah luar biasa tentang dirinya, melainkan teladan hidup yang terus melintasi zaman. Ketika masyarakat bergerak membantu korban bencana tanpa berharap pujian, ketika para relawan mengabdikan tenaga di pelosok negeri, ketika ilmuwan bekerja diam-diam demi kemaslahatan banyak orang, atau ketika seseorang memilih tetap berbuat baik meski tak pernah disebut namanya, di sanalah semangat Fatimah a.s hidup.
Barangkali itulah sebabnya Al-Qur’an tidak hanya memuji Fatimah a.s melalui kedudukannya, tetapi juga melalui amalnya. Langit tidak mengangkat namanya karena ia putri seorang nabi semata, melainkan karena ia menjadikan hidupnya sebagai persembahan yang tulus kepada Allah.
Kisah tentang Jibril a.s yang datang menghiburnya setelah wafat Rasulullah saw akhirnya bukan sekadar cerita tentang malaikat yang turun dari langit. Ia adalah simbol bahwa hati yang paling dekat kepada Allah tidak pernah benar-benar dibiarkan sendiri. Duka boleh menyelimuti kehidupan, tetapi rahmat Tuhan selalu menemukan jalannya untuk hadir.
Dan mungkin, di situlah letak pelajaran terdalam dari Fatimah a.s: kemuliaan bukanlah tentang seberapa tinggi seseorang dipandang manusia, melainkan seberapa dekat ia dengan Tuhan hingga langit sendiri datang menenangkan hatinya.







