Ketika Keluarga Muda Berhenti Bertumbuh, Bangsa Kehilangan Masa Depan

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah bangsa sibuk menghitung pertumbuhan ekonomi, pembangunan gedung, panjang jalan, dan jumlah investasi. Hampir segala sesuatu diukur dengan angka. Namun ada satu angka yang sering luput dari perhatian: jumlah anak yang lahir dari sebuah keluarga.

Padahal, di balik angka kelahiran itu tersimpan pertanyaan yang jauh lebih besar. Apakah sebuah bangsa sedang menyiapkan masa depannya, atau perlahan-lahan mengurangi jumlah manusia yang kelak akan mengisinya?

Dalam sebuah pertemuan dengan sejumlah pasangan muda, Ayatollah sayyid Ali Khamenei qs mengutip sebuah hadis Nabi Muhammad:

 تَنَاكَحُوا تَنَاسَلُوا تَكَاثُرُوا

 “Menikahlah, berketurunanlah, dan perbanyaklah jumlah kalian” 

Pesan itu sekilas terdengar sederhana. Tetapi jika ditarik ke persoalan kehidupan sebuah bangsa, ia menyentuh sesuatu yang jauh lebih mendasar: manusia bukan sekadar penghuni sebuah negeri. Manusia adalah masa depan negeri itu sendiri.

Keluarga, dalam pengertian ini, bukan hanya ruang privat tempat dua orang membangun kehidupan bersama. Ia juga merupakan tempat sebuah masyarakat memperbarui dirinya. Di sanalah generasi baru lahir, tumbuh, memperoleh pendidikan pertama, mengenal nilai, dan perlahan belajar menjadi bagian dari dunia yang lebih luas.

Karena itu, pembicaraan tentang anak tidak semestinya berhenti pada urusan jumlah. Ada persoalan keberlanjutan sebuah bangsa di belakangnya.

Sebuah masyarakat dengan jumlah penduduk yang besar tentu menghadapi tantangan. Kebutuhan pangan bertambah, lapangan kerja harus diperluas, pendidikan mesti disiapkan, dan pelayanan publik membutuhkan kemampuan yang lebih besar. Tetapi jumlah manusia juga berarti bertambahnya kemungkinan. Lebih banyak anak berarti lebih banyak calon ilmuwan, guru, petani, dokter, pengusaha, seniman, pemimpin, dan pekerja yang kelak menggerakkan roda kehidupan.

Dengan kata lain, demografi bukan sekadar statistik. Ia adalah cadangan masa depan.

Baca Juga  Saat Identitas Tak Perlu Meminta Maaf 

Pengalaman sejumlah negara menunjukkan bagaimana jumlah penduduk dapat menjadi kekuatan strategis. Cina dan India, misalnya, memiliki populasi sangat besar dan menghadapi persoalan internal yang tidak ringan. Namun populasi yang besar juga memberi mereka pasar yang luas, tenaga manusia yang besar, serta daya tawar ekonomi dan politik yang tidak kecil di dunia.

Di titik ini, persoalan keluarga muda menjadi lebih luas daripada sekadar keputusan pribadi tentang berapa banyak anak yang ingin dimiliki. Ia bersinggungan dengan masa depan sosial, ekonomi, bahkan posisi sebuah bangsa dalam percaturan dunia.

Namun ada sesuatu yang sering dilupakan ketika masyarakat berbicara mengenai pertumbuhan penduduk: keluarga tidak dapat diminta memiliki lebih banyak anak sementara seluruh beban diletakkan di pundak mereka.

Membesarkan anak membutuhkan waktu, biaya, ruang, pendidikan, kesehatan, dan rasa aman. Karena itu, jika sebuah negara ingin mendorong pertumbuhan keluarga, ajakan saja tidak cukup. Kebijakan publik harus berjalan searah dengan pesan tersebut. Rumah yang ramah bagi keluarga, pekerjaan yang memungkinkan orang tua mengasuh anak, pendidikan yang terjangkau, perlindungan bagi ibu dan anak, serta lingkungan sosial yang tidak menjadikan anak sebagai beban semata, semuanya ikut menentukan keputusan sebuah keluarga.

Di sinilah kritik terhadap pemerintah memperoleh tempatnya. Seruan untuk memperbanyak anak akan kehilangan makna jika berhenti sebagai slogan. Negara perlu menciptakan kondisi yang membuat keluarga merasa bahwa memiliki anak bukan tindakan yang mempertaruhkan seluruh masa depan ekonomi mereka.

Sebab keputusan untuk memiliki anak selalu mengandung keberanian.

Ada malam-malam tanpa tidur. Ada biaya yang terus bertambah. Ada kecemasan tentang sekolah, kesehatan, pekerjaan, dan masa depan. Tetapi ada pula sesuatu yang tidak dapat dihitung dalam tabel ekonomi: kehadiran manusia baru yang membawa kemungkinan yang sama sekali belum diketahui.

Baca Juga  Saat Dunia Menjadi Asing: Menemukan Ketenteraman dalam Cinta kepada Allah

Ironisnya, modernitas kadang membuat keluarga memandang anak terutama sebagai biaya. Anak dihitung dari uang sekolah, harga susu, luas rumah, biaya kesehatan, hingga kemungkinan kehilangan waktu untuk bekerja. Semua perhitungan itu masuk akal. Tetapi apabila manusia hanya dilihat sebagai beban ekonomi, masyarakat bisa kehilangan kemampuan melihat anak sebagai investasi peradaban.

Persoalannya menjadi semakin menarik ketika kita melihat bagaimana budaya bekerja. Dalam teks tersebut, perhatian diarahkan pada kecenderungan sebagian masyarakat yang justru menganggap keluarga dengan banyak anak sebagai sesuatu yang tidak lazim, sementara keluarga kecil dipandang lebih ideal. Di sejumlah masyarakat lain, keluarga besar bahkan memperoleh penghargaan sosial.

Artinya, persoalan demografi pada akhirnya juga merupakan persoalan budaya.

Apa yang dipuji masyarakat akan memengaruhi pilihan masyarakat. Apa yang dianggap merepotkan akan perlahan dihindari. Jika memiliki anak dianggap sebagai hambatan bagi karier, kebebasan, kenyamanan, dan gaya hidup, keputusan untuk menunda atau membatasi kelahiran menjadi semakin mudah diterima. Sebaliknya, jika keluarga dan anak dipandang sebagai bagian penting dari kehidupan yang bermakna, perspektif masyarakat pun dapat berubah.

Namun perubahan budaya tidak berarti memaksa semua keluarga mengikuti satu ukuran. Setiap keluarga memiliki kondisi dan pertimbangannya sendiri. Yang lebih penting ialah menciptakan lingkungan sosial yang tidak memusuhi pilihan untuk membangun keluarga dan tidak membuat orang takut memiliki anak.

Dalam konteks yang lebih luas, inilah alasan mengapa pembicaraan tentang “keluarga muda” sesungguhnya merupakan pembicaraan tentang masa depan. Bangsa tidak hanya dibangun oleh gedung pemerintahan atau pertumbuhan produk domestik. Ia dibangun oleh manusia yang lahir hari ini dan kelak mengambil keputusan tentang hari esok.

Mungkin kita terlalu sering melihat anak sebagai seseorang yang membutuhkan masa depan. Padahal dari sudut pandang bangsa, anak juga adalah seseorang yang kelak menciptakan masa depan.

Baca Juga  Mengapa Barat Memusuhi Perempuan Iran? Perspektif Imam Khamenei tentang Peran Wanita, Revolusi, dan Standar Ganda Hak Asasi Manusia

Di situlah makna hadis tentang menikah, berketurunan, dan memperbanyak jumlah menjadi lebih dalam. Ia tidak semata-mata berbicara tentang banyaknya manusia. Ia berbicara tentang keberlanjutan kehidupan.

Sebuah bangsa boleh memiliki gedung tinggi, teknologi canggih, dan ekonomi yang kuat. Tetapi bila generasinya terus menyusut, pada suatu titik ia akan berhadapan dengan pertanyaan yang sunyi: siapa yang kelak meneruskan semua itu?

Masa depan, pada akhirnya, tidak lahir dari ruang rapat. Ia lahir dari rumah-rumah yang mungkin sederhana, dari pasangan yang berani membangun keluarga, dan dari anak-anak yang hari ini masih belajar berjalan.

Karena itu, ketika membicarakan pertumbuhan penduduk, barangkali yang sedang kita bicarakan sebenarnya bukan angka kelahiran. Kita sedang membicarakan apakah sebuah bangsa masih percaya bahwa hari esok layak dihuni.

Bagikan:
Terkait
Komentar