KHAMENEI.ID – Ada kekalahan yang baru terasa setelah uang dalam jumlah besar habis dibelanjakan. Ada pula kekuasaan yang baru menyadari kegagalannya setelah bertahun-tahun menanam pengaruh, mengatur arah politik, dan mengerahkan segala macam kekuatan. Pada titik tertentu, angka-angka yang semula dimaksudkan untuk menunjukkan keperkasaan justru berubah menjadi bukti bahwa sebuah ambisi telah gagal.
Itulah yang menarik dari pengakuan seorang presiden Amerika Serikat tentang ongkos yang telah dikeluarkan negaranya di kawasan Asia Barat. Tujuh triliun dolar, katanya, telah dibelanjakan di kawasan itu. Bukan tujuh juta, bukan tujuh miliar, melainkan tujuh triliun. Tetapi setelah semua uang itu keluar, hasil yang diharapkan tak kunjung datang.
Angka sebesar itu akhirnya tidak lagi berbicara tentang kekuatan. Ia berbicara tentang kegagalan.
Di sinilah sebuah pertanyaan yang lebih besar muncul: apakah kekuatan benar-benar dapat membeli kemenangan?
Dalam khutbah Idulfitri Jumat, 15 Juni 2018 – 1 Syawal 1439 H, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs melihat persoalan tersebut dari sudut yang berbeda. Dalam pandangannya, kekuatan-kekuatan besar terus menyusun rencana dan konspirasi terhadap Iran bukan semata karena alasan politik praktis. Ada sesuatu yang lebih mendasar yang membuat mereka gelisah: sebuah bangsa yang berdiri, mempertahankan kedaulatan, dan berusaha menentukan sendiri jalan hidupnya.
Kemerdekaan semacam itu memang mengandung ancaman bagi setiap kekuasaan yang terbiasa menentukan nasib bangsa lain. Sebab sebuah bangsa yang mampu berdiri sendiri tidak mudah diarahkan. Ia tidak selalu tunduk pada peta yang dibuat dari luar. Ia mempunyai pikiran sendiri tentang bagaimana kehidupan nasionalnya harus dibangun.
Karena itu, konflik antara sebuah bangsa dan kekuatan besar sering kali tidak sesederhana pertarungan senjata atau perebutan pengaruh. Di baliknya terdapat pertarungan yang lebih sunyi: siapa yang berhak menentukan masa depan?
Namun jika ditarik lebih jauh, sejarah menunjukkan bahwa kekuasaan yang besar pun memiliki batas. Ia bisa memiliki pesawat, pangkalan militer, jaringan ekonomi, teknologi, dan uang dalam jumlah yang sulit dibayangkan. Tetapi semua itu tidak otomatis menghasilkan kemenangan. Kekuatan material memiliki kemampuan untuk menekan, tetapi tidak selalu mampu mengubah kehendak manusia.
Di titik ini, ayat Al-Qur’an yang dikutip dalam khutbah tersebut menjadi menarik:
فَسَيُنفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ
“Mereka akan menginfakkan harta itu, kemudian harta tersebut menjadi penyesalan bagi mereka, lalu mereka akan dikalahkan”
(QS. Al-Anfal: 36)
Ayat itu berbicara tentang harta yang dikeluarkan untuk menghalangi jalan kebenaran. Yang menarik bukan hanya soal uang yang dihabiskan, melainkan perubahan makna uang itu sendiri. Sesuatu yang pada mulanya dianggap sebagai modal untuk meraih kemenangan justru dapat berubah menjadi sumber penyesalan.
Gagasan tersebut terasa semakin relevan dalam dunia modern, ketika hampir segala sesuatu diukur dengan angka. Besarnya anggaran pertahanan dianggap sebagai ukuran kekuatan. Nilai investasi menjadi simbol pengaruh. Jumlah senjata, luas jaringan aliansi, dan besarnya belanja militer sering diperlakukan seolah-olah semuanya dapat menjelaskan siapa yang akan menang.
Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan sebaliknya.
Uang dapat membeli senjata, tetapi tidak selalu dapat membeli keberanian. Teknologi dapat menghancurkan sebuah kota, tetapi tidak otomatis dapat menghapus sebuah gagasan. Kekuasaan dapat mengganti pemerintahan, tetapi tidak selalu mampu mengubah kesadaran sebuah bangsa.
Karena itu, ketika sebuah kekuatan besar menghabiskan triliunan dolar tetapi mengakui bahwa hasil yang diperolehnya tidak sebanding dengan pengorbanan tersebut, persoalannya bukan sekadar pemborosan anggaran. Ada sesuatu yang lebih dalam: kegagalan membaca kenyataan.
Kekuatan dari luar mungkin dapat masuk ke sebuah wilayah. Ia dapat membangun pangkalan, mengirim pasukan, menyusun strategi, bahkan menentukan siapa yang harus menjadi sekutu. Tetapi kehidupan sebuah bangsa jauh lebih rumit daripada peta operasi militer. Di dalamnya ada ingatan, harga diri, keyakinan, pengalaman sejarah, dan keinginan untuk menentukan nasib sendiri.
Semua itu tidak mudah dibeli.
Gagasan ini kemudian menyentuh dunia yang lebih luas. Setiap zaman memiliki kekuatan yang merasa dirinya terlalu besar untuk dikalahkan. Mereka datang dengan keyakinan bahwa sumber daya yang mereka miliki cukup untuk memaksa dunia mengikuti kehendaknya. Tetapi kekuasaan sering kali lupa bahwa manusia bukan sekadar objek yang bisa dipindahkan seperti bidak.
Ada kehendak yang tidak bisa dihitung dengan dolar.
Ada martabat yang tidak bisa ditukar dengan bantuan.
Ada kemerdekaan yang justru menjadi semakin mahal ketika seseorang mencoba membelinya dengan tekanan.
Mungkin karena itu, pengakuan tentang tujuh triliun dolar tadi menjadi lebih dari sekadar angka. Ia seperti cermin yang memperlihatkan wajah kekuasaan ketika ambisi bertemu kenyataan. Uang yang begitu banyak ternyata tidak selalu mendekatkan seseorang kepada tujuan. Dalam keadaan tertentu, ia justru menjadi ukuran betapa jauhnya seseorang dari tujuan tersebut.
Pada akhirnya, persoalan kemenangan bukan hanya tentang siapa yang memiliki lebih banyak uang, senjata, atau kekuatan. Ia juga tentang siapa yang mampu bertahan pada keyakinannya, membaca zamannya, dan menjaga kemampuan untuk menentukan arah hidupnya sendiri.
Sebab ada kekuatan yang terlihat dari luar, dan ada kekuatan yang tumbuh diam-diam di dalam diri sebuah bangsa.
Yang pertama dapat dihitung.
Yang kedua sering baru terlihat setelah semua yang lain gagal.
Dan barangkali, di situlah sebuah kekuasaan besar mulai menyadari bahwa tidak semua kemenangan dapat dibeli bahkan dengan tujuh triliun dolar.







