KHAMENEI.ID – Ada bentuk kelengahan yang lebih berbahaya daripada tidak mengetahui adanya ancaman: mengetahui bahwa ancaman itu ada, tetapi perlahan berhenti melihatnya.
Sebuah masyarakat bisa sibuk menghitung kesalahannya sendiri, memperdebatkan kelemahan pemerintah, mencaci buruknya keadaan, atau saling menyalahkan atas berbagai krisis. Semua itu mungkin benar. Bahkan, sebagian besar persoalan memang lahir dari dalam. Tetapi di tengah kesibukan melihat ke dalam, ada satu pertanyaan yang mudah terlepas: siapa yang berada di luar, dan apa yang sedang mereka kerjakan terhadap kita?
Di sinilah persoalan musuh menjadi penting. Bukan untuk menjadikan segala kesalahan sebagai akibat ulah orang lain, melainkan agar sebuah masyarakat tidak kehilangan kemampuan membaca ancaman.
Al-Qur’an sendiri memberikan ukuran yang cukup jernih tentang tanggung jawab manusia:
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ
“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari kesalahan dirimu sendiri” (QS. An-Nisa: 79).
Ayat itu tidak memberi ruang untuk kebiasaan melemparkan seluruh kegagalan kepada pihak lain. Kesalahan internal tetap harus diakui. Sebuah bangsa yang korup tidak dapat menyalahkan musuh atas korupsinya. Masyarakat yang terpecah tidak dapat menjadikan pihak luar sebagai alasan tunggal atas perpecahan itu. Kelemahan dari dalam tetaplah kelemahan dari dalam.
Namun ada sisi lain yang tak kalah penting: kelemahan internal tidak otomatis menghapus keberadaan musuh eksternal.
Perang Uhud memberi gambaran yang keras tentang hal ini. Kekalahan kaum Muslim terjadi setelah kesalahan dari dalam barisan mereka sendiri. Tetapi adanya kesalahan internal tidak berarti pasukan lawan tiba-tiba kehilangan peran. Musuh tetap ada, tetap menyerang, dan tetap memanfaatkan celah yang terbuka.
Di titik ini, persoalannya bukan sekadar siapa yang salah. Persoalannya adalah apakah kita cukup jernih untuk melihat seluruh medan.
Sebab musuh tidak selalu datang dengan wajah yang mudah dikenali. Ia dapat hadir melalui propaganda, pembentukan opini, penguatan konflik, atau bahkan dengan membuat sebuah masyarakat sibuk bertengkar tentang dirinya sendiri. Ketika perhatian publik terus-menerus diarahkan pada pertengkaran internal, keberadaan pihak yang memanfaatkan pertengkaran itu bisa menghilang dari pandangan.
Yang lebih berbahaya, pengaburan semacam ini justru dapat menyentuh mereka yang dianggap paling mampu berpikir: kaum terdidik, tokoh masyarakat, dan para elite.
Salah satu cara paling sederhana untuk mengalihkan perhatian dari ancaman adalah membuat setiap pembicaraan tentang musuh terdengar berlebihan. Begitu seseorang menyebut adanya campur tangan pihak luar, segera muncul tuduhan: mengapa semua kesalahan dibebankan kepada musuh?
Pertanyaan itu sekilas terdengar masuk akal. Masalahnya, ia sering kali membuat dua hal yang berbeda seolah-olah bertentangan. Mengakui kesalahan sendiri dianggap berarti tidak boleh membicarakan musuh. Membicarakan musuh dianggap berarti menolak mengakui kesalahan sendiri.
Padahal keduanya dapat benar pada saat yang sama.
Sebuah rumah dapat memiliki fondasi yang rapuh, sementara pada saat yang sama ada orang di luar yang sengaja mengguncang pintunya. Memperbaiki fondasi tidak berarti kita harus membiarkan pintu terbuka. Sebaliknya, mengawasi orang di luar juga tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan keretakan di dalam.
Dalam konteks yang lebih luas, kemampuan membedakan dua hal inilah yang menentukan kedewasaan sebuah masyarakat.
Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan asing tidak selalu berbicara dengan bahasa permusuhan. Kadang-kadang justru sebaliknya. Mereka datang dengan bahasa yang terdengar akrab: kami bersama rakyat, kami peduli pada kebebasan, kami menginginkan kesejahteraan masyarakat. Kalimat-kalimat seperti itu mudah diterima karena menyentuh sesuatu yang universal.
Tetapi politik tidak pernah hanya hidup dari kata-kata. Di belakang pernyataan resmi, ada kepentingan, strategi, dan kalkulasi.
Karena itu, sebuah bangsa perlu belajar membaca bukan hanya apa yang dikatakan, tetapi juga apa yang dilakukan; bukan hanya siapa yang dipuji, tetapi mengapa seseorang dipuji; bukan hanya siapa yang diberi dukungan, tetapi dukungan itu hendak dibawa ke mana.
Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang jauh lebih halus: bagaimana kita bisa menjadi bagian dari strategi pihak lain tanpa pernah merasa sedang bekerja untuk mereka?
Jawabannya mungkin sederhana, tetapi konsekuensinya besar. Kita dapat menjadi bagian dari sebuah rancangan tanpa mengetahui keseluruhan gambarnya.
Bayangkan sebuah puzzel. Seseorang menyusun kepingan-kepingan kecil untuk membentuk gambar tertentu. Setiap keping, jika dilihat sendiri, tampak tidak berbahaya. Bahkan mungkin terlihat benar. Tetapi ketika kepingan-kepingan itu disatukan, terbentuklah gambar yang sebelumnya tidak terlihat.
Begitu pula sebuah konflik sosial. Satu pernyataan mungkin hanya sebuah pernyataan. Satu pertengkaran mungkin hanya pertengkaran. Satu kampanye mungkin tampak seperti kampanye biasa. Satu tindakan mungkin terlihat sebagai ekspresi kekecewaan. Namun ketika semuanya diletakkan berdampingan, barangkali muncul pola yang lebih besar.
Di sinilah kewaspadaan dibutuhkan.
Bukan kewaspadaan yang membuat seseorang melihat musuh di setiap sudut, melainkan kewaspadaan yang membuatnya tidak mudah menjadi kepingan dalam permainan yang tidak ia pahami.
Sebab ancaman terbesar terkadang bukan ketika musuh berhasil memukul kita, melainkan ketika kita membantu menyusun pukulan itu sendiri tanpa menyadarinya.
Masyarakat yang sehat tentu harus berani mengoreksi dirinya. Ia harus mampu mengakui kegagalan, membongkar kelemahan, dan memperbaiki kesalahan yang lahir dari dalam. Tetapi pada saat yang sama, ia juga perlu mempertahankan kemampuan untuk melihat tangan-tangan yang mungkin sedang bekerja dari luar.
Menutup mata terhadap kesalahan sendiri adalah kebutaan. Menutup mata terhadap musuh juga kebutaan.
Dan di antara keduanya, mungkin terdapat satu bentuk kejernihan yang paling sulit: berani melihat ke dalam tanpa kehilangan pandangan ke luar.
Sebab pada akhirnya, sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh bagaimana ia menghadapi pukulan. Ia juga ditentukan oleh apakah ia mampu memahami dari mana pukulan itu datang, dan yang lebih penting, apakah ia sadar bahwa sebagian keping yang membuat gambar itu lengkap mungkin justru sedang ia letakkan dengan tangannya sendiri.







