Dunia yang Bergeser dan Bangkitnya Kekuatan Baru

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika peta dunia seolah memiliki satu pusat gravitasi. Keputusan satu negara dapat mengguncang pemerintahan di negeri lain. Sebuah operasi intelijen bisa mengubah arah sejarah. Sebuah koper berisi uang dapat menjadi alat untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah. Banyak bangsa belajar, dengan cara yang pahit, bahwa kedaulatan di atas kertas tidak selalu berarti kedaulatan dalam kenyataan.

Kini zaman itu perlahan berubah.

Perubahan tersebut mungkin tidak selalu tampak dari hari ke hari. Ia tidak datang seperti ledakan yang segera mengubah seluruh lanskap. Namun tanda-tandanya mulai terlihat: kekuatan lama kehilangan sebagian pengaruhnya, sementara pusat-pusat kekuatan baru tumbuh di berbagai kawasan. Dunia sedang bergerak menuju susunan yang berbeda.

Dalam pandangan Pemimpin Iran Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs, inilah salah satu perubahan besar yang sedang berlangsung. Karena itu, masyarakat di kawasan, terutama generasi muda, diminta tidak mengulang kesalahan masa lalu: tertidur ketika sejarah sedang bergeser.

Pesannya sederhana, tetapi konsekuensinya besar: jangan menjadi bangsa yang terlambat menyadari bahwa dunia telah berubah.

Salah satu tanda terpenting dari perubahan itu adalah melemahnya kekuatan negara-negara yang selama puluhan tahun mendominasi politik internasional. Amerika Serikat, misalnya, pernah menikmati posisi yang memungkinkan pengaruhnya menjangkau hampir semua sudut dunia. Ekonominya menjadi salah satu fondasi kekuatan, sementara jaringan politik, militer, dan intelijennya memberi kemampuan untuk memengaruhi pemerintahan negara lain.

Namun kekuasaan, seperti segala sesuatu yang hidup, tidak pernah benar-benar abadi.

Imam Ali Khamenei qs mengingatkan sejarah Iran pada 1953. Ketika itu, pemerintahan Mohammad Mosaddegh dijatuhkan melalui kudeta yang melibatkan Amerika Serikat dan Inggris. Salah satu tokoh penting dalam operasi tersebut adalah Kermit Roosevelt, agen intelijen Amerika yang datang ke Iran dengan membawa uang untuk membiayai operasi politik. Kekuasaan asing ketika itu mampu bekerja dengan cara yang relatif langsung: memengaruhi kelompok-kelompok tertentu, menggerakkan massa, dan pada akhirnya mengubah pemerintahan.

Baca Juga  Imamah Imam Ali: Kepemimpinan Melampaui Kekuasaan

Sejarah tersebut penting bukan semata karena apa yang terjadi pada Iran. Ia memperlihatkan seperti apa dunia ketika kekuatan besar dapat mengatur nasib negara lain dengan tangan yang nyaris tak terlihat.

Pertanyaannya: apakah hal serupa masih mungkin dilakukan dengan mudah hari ini?

Jawabannya, menurut Imam Ali Khamenei qs, tidak.

Bukan berarti Amerika kehilangan kekuatan militernya atau tiba-tiba menjadi negara yang tidak berpengaruh. Yang berubah adalah kemampuan untuk menggunakan kekuatan tersebut secara efektif. Intervensi politik yang dahulu dapat dilakukan dengan relatif sederhana kini menghadapi masyarakat yang lebih sadar, jaringan informasi yang lebih kompleks, serta munculnya kekuatan-kekuatan lain yang membuat dunia tidak lagi sesederhana satu pusat dan banyak pinggiran.

Karena itu, perang pun berubah bentuk.

Alih-alih sekadar mengirim pasukan, kekuatan besar kini semakin sering menggunakan apa yang disebut perang hibrida: perpaduan tekanan ekonomi, propaganda, operasi informasi, diplomasi, sanksi, tekanan politik, dan berbagai bentuk intervensi lainnya. Tetapi perang semacam itu pun membutuhkan biaya besar dan tidak selalu menghasilkan kemenangan.

Suriah menjadi salah satu contoh yang disebut dalam salah satu pidato Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs. Selama bertahun-tahun berbagai tekanan dan operasi dilakukan untuk mengubah arah politik negara itu. Namun hasil akhirnya tidak sesuai dengan yang diharapkan para pihak yang menginginkan pergantian kekuasaan. Afghanistan bahkan memberikan gambaran yang lebih dramatis. Amerika Serikat menghabiskan dua dekade di negeri itu, mengerahkan kekuatan militer dan berbagai instrumen politik, sebelum akhirnya meninggalkan Afghanistan pada 2021.

Bagi Imam Ali Khamenei qs, peristiwa semacam itu bukan sekadar episode perang. Ia merupakan gejala dari perubahan struktur kekuasaan dunia.

Di tempat lain, terutama Afrika, tanda-tanda serupa juga terlihat. Negara-negara yang selama bertahun-tahun berada dalam lingkar pengaruh Prancis mulai mempertanyakan kembali hubungan lama tersebut. Pemerintahan yang dianggap dekat dengan Paris tumbang, sementara sentimen publik terhadap warisan kolonialisme semakin kuat.

Baca Juga  Shalat, Keikhlasan dan Kesombongan yang Diam-Diam Tumbuh

Afrika, dengan demikian, tidak lagi hanya menjadi halaman belakang kekuatan Eropa. Ada kesadaran baru bahwa hubungan internasional tidak harus selamanya mengikuti pola lama: satu pihak menentukan, pihak lain mengikuti.

Namun jika ditarik lebih jauh, perubahan dunia bukan hanya tentang siapa yang melemah dan siapa yang menguat. Persoalan yang lebih penting adalah apa yang dilakukan sebuah bangsa ketika keseimbangan kekuatan mulai bergeser.

Di titik ini, peringatan tentang “kewaspadaan” menjadi relevan. Sejarah kolonial menunjukkan bahwa bangsa-bangsa dapat kehilangan kesempatan bukan hanya karena mereka dikalahkan, tetapi karena mereka gagal membaca zaman. Ketika struktur lama runtuh dan struktur baru belum sepenuhnya terbentuk, ruang bagi bangsa-bangsa untuk menentukan masa depannya justru terbuka lebih lebar.

Tetapi ruang itu tidak otomatis menjadi kemandirian.

Sebuah bangsa yang hanya menunggu kekuatan lama runtuh tanpa membangun kekuatannya sendiri pada dasarnya tetap bergantung. Ia mungkin berganti tuan, tetapi belum tentu memperoleh kebebasan. Karena itu, kebangkitan kekuatan baru seharusnya tidak dipahami sekadar sebagai pergantian pemain dalam arena geopolitik. Ia mestinya menjadi kesempatan bagi negara-negara berkembang untuk memperkuat ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, pertahanan, kebudayaan, dan terutama kepercayaan pada kemampuan sendiri.

Di sinilah pesan kepada generasi muda memperoleh makna yang lebih luas. Perubahan dunia bukan tontonan. Ia bukan sekadar berita yang muncul di layar televisi lalu hilang bersama berita berikutnya.

Dunia sedang bergeser. Pertanyaannya bukan lagi apakah perubahan itu akan terjadi, melainkan siapa yang cukup sadar untuk membacanya.

Bangsa yang terlambat membaca perubahan biasanya hanya menjadi penonton sejarah. Sebaliknya, bangsa yang memahami arah zaman memiliki kesempatan untuk ikut menulisnya.

Mungkin itulah makna terdalam dari peringatan tentang dunia yang sedang berubah: ketika kekuatan lama mulai retak dan kekuatan baru bermunculan, sejarah sesungguhnya sedang membuka pintu. Tetapi pintu itu tidak akan menunggu selamanya. Yang menentukan bukan sekadar siapa yang masuk, melainkan siapa yang sejak awal cukup terjaga untuk menyadari bahwa pintu itu telah terbuka.

Baca Juga  Perang Ahzab, Pengkhianatan, dan Pelajaran Sejarah yang Tak Pernah Usai
Bagikan:
Terkait
Komentar