KHAMENEI.ID– Di tengah derasnya arus informasi, ada satu kebiasaan yang semakin menguat: melihat kesalahan lebih cepat daripada menemukan kebaikan. Satu kasus korupsi membuat seluruh lembaga dianggap busuk. Seorang hakim yang menyimpang seolah menjadi wajah seluruh peradilan. Seorang pejabat yang rakus dianggap cukup untuk menyimpulkan bahwa tak ada lagi orang jujur di pemerintahan. Kita hidup di zaman ketika generalisasi lebih mudah daripada keadilan.
Padahal, kenyataan hampir selalu lebih rumit daripada prasangka.
Dalam sebuah nasihat, ditegaskan bahwa mengetahui kelemahan sebuah lembaga bukan berarti menutup mata terhadap kelebihan yang masih dimilikinya. Bahkan seseorang yang mengetahui lebih banyak tentang berbagai persoalan di dalam institusi negara tetap dituntut untuk melihat sisi terang yang masih bertahan. Kritik memang perlu, tetapi kejujuran intelektual mengharuskan kita mengakui bahwa di balik setiap kerusakan, masih ada orang-orang yang bekerja menjaga harapan.
Pandangan seperti ini lahir dari sebuah doa yang sangat indah dalam Ziarah Aminullah, doa yang dinukil dari Imam Ali Zainal Abidin a.s ketika berziarah ke makam Imam Ali a.s. Di antara untaian munajat itu terdapat kalimat:
ذَاكِرَةً لِسَوَابِغِ آلَائِكَ
“(Jadikanlah aku) orang yang selalu mengingat limpahan nikmat-Mu.”
Kalimat itu tampak sederhana. Namun jika direnungkan, ia mengajarkan cara memandang kehidupan. Manusia diminta untuk tidak kehilangan kemampuan melihat nikmat, bahkan ketika sedang berhadapan dengan kekurangan. Mengingat karunia bukan berarti menolak kenyataan pahit, melainkan menjaga agar kenyataan pahit tidak menghapus seluruh kenyataan yang baik.
Di titik ini, doa tidak lagi sekadar rangkaian kata, melainkan pendidikan cara berpikir.
Kita memang memiliki hakim yang korup. Tetapi kita juga memiliki hakim-hakim yang menjaga integritasnya dengan penuh keberanian. Kita memiliki pejabat yang menjadikan jabatan sebagai jalan memperkaya diri. Namun pada saat yang sama, masih ada aparatur yang bekerja hingga larut malam, mengurus masyarakat tanpa sorotan kamera dan tanpa penghargaan.
Kesalahan terbesar bukan hanya ketika seseorang berbuat zalim, melainkan ketika masyarakat kehilangan kemampuan membedakan antara pelaku kesalahan dan keseluruhan sistem. Ketika semua dipukul rata, orang-orang baik ikut menjadi korban. Mereka yang selama ini bekerja dengan jujur kehilangan penghargaan karena tertutup oleh kebisingan berita buruk.
Inilah yang disebut ketidakadilan dalam cara berpikir.
Psikologi modern mengenal kecenderungan manusia untuk lebih mudah mengingat pengalaman negatif dibandingkan pengalaman positif. Satu berita buruk dapat menghapus puluhan kabar baik dalam ingatan. Media sosial memperkuat kecenderungan itu. Algoritma lebih menyukai kemarahan daripada ketenangan, lebih menyebarkan skandal daripada keteladanan. Akibatnya, persepsi kita terhadap dunia sering kali menjadi lebih gelap daripada kenyataan yang sesungguhnya.
Namun agama mengajarkan keseimbangan. Kita diperintahkan menegakkan amar makruf nahi mungkar, tetapi juga diperintahkan berlaku adil. Adil bukan hanya dalam keputusan hukum, melainkan juga dalam cara memandang manusia.
Doa Ziarah Aminullah menggambarkan keseimbangan itu secara indah. Di dalamnya terdapat permohonan agar hati menjadi tenang menerima ketentuan Allah, ridha terhadap keputusan-Nya, tekun berzikir, mencintai para kekasih-Nya, bersabar menghadapi ujian, dan bersyukur atas limpahan nikmat-Nya.
Di antara penggalan doa itu disebutkan:
اللَّهُمَّ فَاجْعَلْ نَفْسِي مُطْمَئِنَّةً بِقَدَرِكَ، رَاضِيَةً بِقَضَائِكَ، شَاكِرَةً لِفَوَاضِلِ نَعْمَائِكَ، ذَاكِرَةً لِسَوَابِغِ آلَائِكَ
“Ya Allah, jadikanlah jiwaku tenteram terhadap ketetapan-Mu, ridha atas keputusan-Mu, bersyukur atas limpahan nikmat-Mu, dan selalu mengingat karunia-karunia-Mu yang melimpah”
Perhatikan bahwa syukur ditempatkan setelah kesabaran. Seolah doa itu mengingatkan bahwa orang yang mampu melihat nikmat bukanlah orang yang hidup tanpa masalah, melainkan orang yang tidak membiarkan masalah menghapus rasa syukurnya.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, pelajaran ini terasa sangat relevan. Kritik kepada pemerintah, lembaga hukum, birokrasi, atau institusi publik adalah bagian dari tanggung jawab warga negara. Namun kritik yang sehat tidak berubah menjadi sinisme. Ia tidak menghapus pengakuan terhadap mereka yang masih bekerja dengan bersih. Sebab jika semua dianggap sama buruknya, motivasi untuk tetap jujur akan semakin melemah.
Harapan sebuah bangsa sering kali tidak diselamatkan oleh sistem yang sempurna, melainkan oleh orang-orang baik yang bertahan di dalam sistem yang belum sempurna.
Gagasan ini kemudian menyentuh kehidupan pribadi kita. Bukankah kita juga sering melakukan hal yang sama terhadap keluarga, teman, atau rekan kerja? Satu kesalahan membuat seluruh kebaikan mereka terlupakan. Satu kekecewaan menghapus bertahun-tahun pengorbanan. Kita menjadi hakim yang terlalu cepat menjatuhkan vonis.
Padahal Allah sendiri mengajarkan keseimbangan antara keadilan dan kasih sayang. Dia mengetahui seluruh dosa manusia, tetapi tetap membuka pintu ampunan. Dia melihat kelemahan hamba-Nya, tetapi juga menghargai setiap amal baik yang dilakukan, sekecil apa pun.
Mungkin karena itulah doa Ziarah Aminullah tidak hanya meminta perlindungan, melainkan juga meminta cara pandang yang benar. Sebab dunia tidak berubah hanya karena kita menemukan lebih banyak kesalahan. Dunia menjadi lebih baik ketika kita mampu memperbaiki yang salah tanpa kehilangan kemampuan menghargai yang benar.
Di zaman yang gemar menghakimi, kemampuan melihat kebaikan adalah bentuk keberanian. Ia bukan sikap naif, apalagi pembenaran terhadap keburukan. Sebaliknya, ia adalah kejujuran untuk mengakui bahwa cahaya masih ada, meski kadang kalah mencolok dibanding gelap.
Dan mungkin, harapan selalu lahir dari mereka yang masih sanggup melihat cahaya itu.







