KHAMENEI.ID– Ada masa ketika seseorang tidak kehilangan kecerdasannya, tetapi kehilangan arah. Ia masih mampu berpikir, membaca berita, menyampaikan pendapat, bahkan merasa sedang membela kebenaran. Namun tanpa disadari, langkahnya justru mengikuti arus yang menyesatkan. Di situlah fitnah bekerja: bukan selalu dengan kebohongan yang terang-terangan, melainkan dengan kabut yang mengaburkan batas antara benar dan salah.
Sejarah menunjukkan bahwa tidak semua orang yang terjerumus dalam sebuah kekacauan adalah orang jahat. Sebagian hanyalah orang-orang yang lengah. Mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka dukung, sebarkan, atau ulangi sebenarnya menjadi bagian dari sebuah gelombang yang lebih besar. Mereka mengira hanya sedang mengomentari sebuah peristiwa, padahal tanpa sadar sedang ikut memperkuat pusaran fitnah.
Karena itu, dalam pandangan Islam, ada perbedaan mendasar antara orang yang sengaja memusuhi kebenaran dengan mereka yang terseret karena kelalaian. Yang pertama melawan dengan kesadaran. Yang kedua jatuh karena kehilangan kewaspadaan. Keduanya memang sama-sama berada di dalam pusaran fitnah, tetapi tidak bisa dihakimi dengan ukuran yang sama. Orang yang lalai masih memiliki peluang untuk dibangunkan, diajak melihat kenyataan dengan lebih jernih.
Di titik ini, kelalaian bukan lagi sekadar lupa atau kurang informasi. Kelalaian adalah keadaan ketika seseorang berhenti menguji apa yang didengarnya. Ia cukup puas menjadi gema dari suara orang lain. Satu kalimat diucapkan seseorang, lalu diulang oleh ribuan orang tanpa proses berpikir. Akhirnya, kebohongan memperoleh kekuatan bukan karena ia benar, melainkan karena terlalu sering diulang.
Fenomena seperti ini terasa sangat dekat dengan kehidupan modern. Media sosial membuat setiap orang dapat menjadi penyebar informasi hanya dengan satu sentuhan jari. Kecepatan berbagi sering kali mengalahkan ketelitian memeriksa. Emosi mengalahkan akal sehat. Akibatnya, fitnah tidak lagi bergerak dengan langkah lambat, melainkan berlari mengikuti kecepatan jaringan digital.
Dalam salah satu khutbahnya setelah Perang Shiffin, Imam Ali a.s menggambarkan fitnah dengan bahasa yang sangat kuat:
فِي فِتَنٍ دَاسَتْهُمْ بِأَخْفَافِهَا وَوَطِئَتْهُمْ بِأَظْلَافِهَا وَقَامَتْ عَلَى سَنَابِكِهَا
“Mereka berada dalam berbagai fitnah yang menginjak mereka dengan telapak kakinya, mencengkeram mereka dengan kukunya, dan berdiri kokoh di atas mereka”
Perumpamaan itu menghadirkan gambaran yang menggetarkan. Fitnah bukan sekadar badai yang lewat. Ia digambarkan sebagai makhluk buas yang menggilas siapa saja yang berada di bawah pijakannya. Orang yang sudah berada di dalamnya kehilangan kemampuan melihat jalan keluar. Ia merasa sedang berjalan, padahal sesungguhnya sedang diinjak.
Namun jika ditarik lebih jauh, Imam Ali a.s tidak hanya berbicara tentang sebuah peristiwa politik. Beliau sedang menjelaskan sifat fitnah yang berlaku sepanjang zaman. Fitnah menghancurkan fondasi agama, mengguncang keyakinan, membuat manusia kehilangan pegangan, dan mengubah ukuran kebenaran. Orang yang seharusnya menjadi teladan dibungkam, sementara mereka yang tidak memiliki pengetahuan justru dielu-elukan.
Beliau menggambarkan keadaan itu dengan sangat menyedihkan: petunjuk menjadi redup, kebutaan menyelimuti masyarakat, setan ditaati, sementara iman ditinggalkan. Jalan-jalan kebenaran perlahan menghilang karena manusia lebih memilih mengikuti hawa nafsu dan propaganda daripada cahaya petunjuk.
Bukankah keadaan seperti ini sering berulang dalam berbagai zaman? Ketika popularitas dianggap lebih penting daripada integritas, ketika opini lebih dipercaya daripada fakta, ketika suara paling keras dianggap sebagai suara paling benar. Pada saat seperti itu, masyarakat tidak lagi kehilangan informasi, tetapi kehilangan kemampuan membedakan informasi yang benar dari yang menyesatkan.
Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang lebih mendasar: pentingnya bashirah, atau kejernihan hati dalam melihat kenyataan. Bashirah bukan sekadar kecerdasan intelektual. Banyak orang pintar yang tetap terseret fitnah. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk melihat sesuatu melampaui permukaan, tidak mudah hanyut oleh emosi massa, serta berani berhenti sejenak sebelum memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah.
Di tengah derasnya arus informasi, sikap kritis menjadi bagian dari ibadah. Seorang mukmin tidak cukup hanya menjadi orang yang cepat mengetahui berita, tetapi juga harus menjadi orang yang lambat dalam menghakimi. Sebab penyesalan sering lahir dari keputusan yang dibuat terlalu cepat.
Dalam konteks yang lebih luas, Al-Qur’an sendiri mengingatkan pentingnya memeriksa setiap berita sebelum mempercayainya. Sikap tabayun bukan sekadar etika sosial, melainkan benteng agar masyarakat tidak saling menghancurkan akibat kabar yang belum jelas kebenarannya. Banyak konflik besar dalam sejarah bermula dari informasi yang diterima tanpa verifikasi.
Karena itu, melawan fitnah tidak cukup dengan keberanian. Yang lebih penting adalah kesadaran. Orang yang sadar akan bertanya sebelum mempercayai, menimbang sebelum berbicara, dan memeriksa sebelum menyebarkan. Sebaliknya, orang yang lalai akan menjadi kendaraan bagi fitnah tanpa pernah merasa sedang diperalat.
Meski demikian, Islam tetap membuka ruang harapan. Orang yang lalai bukan musuh yang harus dimusnahkan, melainkan manusia yang perlu dibangunkan. Kesalahan karena ketidaktahuan masih dapat diperbaiki ketika hati bersedia menerima kebenaran. Yang berbahaya justru ketika kelalaian berubah menjadi kesombongan, sehingga seseorang menolak melihat kenyataan meski bukti telah terbentang di hadapannya.
Pada akhirnya, fitnah tidak selalu menang karena banyaknya orang jahat. Sering kali ia justru menang karena terlalu banyak orang baik yang lengah. Mereka tidak berniat merusak, tetapi membiarkan dirinya menjadi bagian dari kerusakan.
Mungkin itulah pelajaran paling berharga dari peringatan Imam Ali. Musuh terbesar manusia bukan hanya kebohongan yang dibuat oleh para penyesat, melainkan kelalaian yang membuat kebohongan itu diterima tanpa berpikir. Selama hati tetap terjaga, akal tetap jernih, dan nurani tetap hidup, fitnah akan selalu dapat dikenali sebelum ia sempat menginjak-injak manusia dengan telapak dan kukunya.







