KHAMENEI.ID– Ada satu godaan yang hampir selalu datang ketika seseorang memegang jabatan: merasa bahwa keberhasilan bergantung sepenuhnya pada kecakapan diri. Semakin besar tanggung jawab, semakin padat jadwal, semakin banyak keputusan yang harus diambil, semakin mudah pula seseorang lupa bahwa ada sesuatu yang jauh lebih mendasar daripada sekadar menyelesaikan pekerjaan. Ia adalah kesadaran akan Allah.
Ironisnya, justru ketika seseorang diberi amanah untuk mengurus banyak urusan manusia, ia paling membutuhkan hubungan yang kuat dengan Sang Pencipta. Sebab jabatan tidak hanya akan dimintai pertanggungjawaban atas hasilnya, tetapi juga atas cara menjalaninya. Di situlah kualitas batin seorang pemimpin diuji: apakah ia bekerja demi nama dan prestise, atau karena merasa sedang menunaikan tugas yang dipercayakan Tuhan.
Dalam konteks itulah, bulan-bulan istimewa seperti Syaban dan Ramadan menghadirkan kesempatan yang tidak tergantikan. Banyak orang memandangnya sebagai musim ibadah. Namun lebih dari itu, keduanya adalah ruang pendidikan jiwa. Di dalamnya terdapat doa-doa yang bukan sekadar rangkaian permohonan, melainkan pelajaran tentang bagaimana manusia semestinya berbicara kepada Allah.
Salah satu doa yang paling menggugah terdapat dalam Munajat Syabaniyah:
إِلَهِي هَبْ لِي قَلْبًا يُدْنِيهِ مِنْكَ شَوْقُهُ، وَلِسَانًا يُرْفَعُ إِلَيْكَ صِدْقُهُ، وَنَظَرًا يُقَرِّبُهُ مِنْكَ حَقُّهُ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku hati yang didekatkan kepada-Mu oleh kerinduannya, lisan yang kejujurannya terangkat kepada-Mu, dan pandangan yang kebenarannya menghantarkanku semakin dekat kepada-Mu.”
Doa singkat ini seolah merangkum tiga fondasi yang dibutuhkan siapa pun yang memikul amanah: hati yang dipenuhi kerinduan kepada Allah, lisan yang jujur, dan cara pandang yang berpihak kepada kebenaran.
Ketiganya terdengar sederhana, tetapi justru di situlah letak tantangannya.
Kerinduan kepada Allah tidak tumbuh begitu saja. Ia mudah mati ketika hati dipenuhi kerak materialisme, ambisi, keserakahan, atau kecanduan terhadap pujian manusia. Jabatan yang semula menjadi ladang ibadah perlahan berubah menjadi panggung pembuktian diri. Keputusan tidak lagi lahir dari nurani, melainkan dari hitungan untung-rugi dan kepentingan sesaat.
Padahal hati hanya akan tetap hidup jika terus disirami. Kedekatan dengan Al-Qur’an, doa-doa yang tulus, ibadah sunnah, serta kesungguhan menjaga salat wajib merupakan sumber yang menghidupkan kembali kerinduan itu. Saat rindu kepada Allah tumbuh, orientasi hidup pun berubah. Seseorang tidak lagi sekadar bertanya, “Apa yang menguntungkan bagiku?” tetapi, “Apa yang paling diridhai Allah?”
Di titik ini, kejujuran memperoleh makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar berkata benar.
Doa itu memohon agar lisan dipenuhi kejujuran karena hanya ucapan yang bersih yang benar-benar sampai kepada Allah. Al-Qur’an menegaskan:
إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
“Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal salehlah yang mengangkatnya” (QS. Fatir: 10)
Ayat ini mengingatkan bahwa kata-kata memiliki nilai bukan karena terdengar indah, melainkan karena lahir dari hati yang bersih. Di ruang publik, orang bisa berbicara sangat meyakinkan, tetapi Allah mengetahui apakah ucapan itu dipenuhi keikhlasan atau hanya menjadi topeng bagi kepentingan pribadi.
Namun perjalanan tidak berhenti pada hati dan lisan. Doa tersebut juga memohon pandangan yang dipenuhi kebenaran. Barangkali inilah bagian yang paling sulit dijaga pada zaman ketika keberpihakan sering kali ditentukan oleh kelompok, kepentingan politik, atau keuntungan ekonomi.
Melihat dengan mata kebenaran berarti berani menilai sesuatu apa adanya, bukan sebagaimana kita ingin melihatnya. Ia menuntut keberanian untuk membela yang benar meski merugikan diri sendiri, dan mengakui kesalahan meski itu mengurangi popularitas. Seorang pemimpin yang kehilangan cara pandang ini mungkin tetap berhasil secara administratif, tetapi perlahan kehilangan kompas moralnya.
Dalam konteks yang lebih luas, mengingat Allah bukan sekadar aktivitas spiritual yang berlangsung di masjid atau ruang doa. Ia adalah disiplin yang menjaga kesadaran sepanjang hari. Karena itulah Islam menempatkan shalat lima waktu pada waktu-waktu yang tersebar. Sejak membuka mata di pagi hari, ketika kesibukan mencapai puncaknya pada siang hari, hingga saat malam menutup seluruh aktivitas, manusia terus dipanggil untuk berhenti sejenak dan mengingat siapa sebenarnya pemilik hidup ini.
Seandainya panggilan itu tidak ada, mungkin manusia akan tenggelam sepenuhnya dalam hiruk-pikuk dunia. Kesibukan menjadi alasan untuk lalai. Prestasi menjadi alasan untuk sombong. Kegagalan menjadi alasan untuk putus asa. Shalat memotong seluruh kecenderungan itu dengan satu pesan sederhana: jangan pernah membiarkan dunia mengambil alih pusat hatimu.
Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang paling hakiki, yakni bagaimana seseorang ingin mengakhiri hidupnya.
Dalam banyak doa diajarkan permohonan agar Allah mengeluarkan kita dari dunia dalam keadaan selamat:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى هَوْلِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَأَخْرِجْنِي مِنَ الدُّنْيَا سَالِمًا
“Ya Allah, bantulah aku menghadapi dahsyatnya hari kiamat dan keluarkanlah aku dari dunia dalam keadaan selamat”
Demikian pula doa indah dalam Sahifah Sajadiyah:
أَمِتْنَا مُهْتَدِينَ غَيْرَ ضَالِّينَ، طَائِعِينَ غَيْرَ مُسْتَكْرِهِينَ، تَائِبِينَ غَيْرَ عَاصِينَ وَلَا مُصِرِّينَ
“Wafatkanlah kami dalam keadaan mendapat petunjuk, bukan tersesat; taat kepada-Mu, bukan terpaksa; penuh tobat, bukan bergelimang maksiat dan terus-menerus melakukannya”
Doa-doa ini mengajarkan bahwa tujuan akhir seorang mukmin bukanlah sekadar panjang umur atau banyak pencapaian. Yang lebih penting adalah bagaimana perjalanan itu berakhir. Sebab ketika seseorang benar-benar bertemu dengan rahmat Allah, seluruh gemerlap dunia yang dahulu diperebutkan akan tampak begitu kecil. Semua jabatan, pujian, kekayaan, bahkan kegelisahan yang selama ini menyita perhatian, perlahan kehilangan maknanya di hadapan kenikmatan yang disiapkan Allah bagi hamba-hamba-Nya.
Pada akhirnya, amanah bukan terutama soal memimpin orang lain, melainkan memimpin diri sendiri agar tidak tersesat oleh kekuasaan yang sedang digenggam. Seorang pemimpin yang terus mengingat Allah mungkin tetap menghadapi kritik, kegagalan, bahkan kesalahan. Namun ia memiliki satu kelebihan yang tak tergantikan: keberanian untuk terus memperbaiki diri karena ia sadar bahwa penilaian tertinggi bukan berasal dari manusia, melainkan dari Tuhan.
Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar hasil, mungkin yang paling dibutuhkan bukanlah pemimpin yang paling hebat, melainkan pemimpin yang paling takut kehilangan kedekatannya dengan Allah. Sebab dari hati yang selalu mengingat-Nya, lahirlah keputusan-keputusan yang bukan hanya efektif, tetapi juga membawa keberkahan.







