Islam Bukan Sekadar Ibadah, Bukan Pula Sekadar Politik

KHAMENEI.ID – Ada dua cara yang sama-sama dapat menghilangkan wajah asli Islam. Yang pertama adalah menjadikannya sekadar urusan sajadah, doa, dan hubungan pribadi dengan Allah swt. Yang kedua adalah mengubahnya menjadi semata-mata alat perebutan kekuasaan, tanpa akhlak, kasih sayang, dan penyucian jiwa. Keduanya tampak berlawanan, tetapi sesungguhnya berakhir pada titik yang sama: memotong Islam menjadi bagian-bagian yang terpisah.

Dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs mengingatkan bahwa penyimpangan terhadap Islam tidak selalu dilakukan dengan cara menolak agama. Kadang-kadang ia justru muncul ketika sebagian ajaran Islam diambil, sementara sebagian lainnya ditinggalkan. Al-Qur’an sendiri telah memperingatkan sikap seperti ini melalui firman Allah swt:

الَّذِينَ جَعَلُوا الْقُرْآنَ عِضِين

“Yaitu orang-orang yang telah menjadikan Al-Qur’an itu terbagi-bagi.” (QS. Al-Hijr: 91)

Sikap serupa juga tergambar dalam ayat lain ketika Allah mencela orang-orang yang hanya menerima sebagian ajaran-Nya dan menolak bagian lainnya. Pesan Al-Qur’an jelas: agama tidak boleh diperlakukan secara parsial sesuai selera manusia.

Politik Sejak Hari Pertama Hijrah

Menurut Imam Khamenei, siapa pun yang membaca sejarah Nabi Muhammad saw secara utuh akan sulit menerima anggapan bahwa Islam terpisah dari politik.

Begitu hijrah ke Madinah dan memperoleh ruang untuk membangun masyarakat, langkah pertama Rasulullah bukan sekadar mendirikan tempat ibadah. Beliau membangun masyarakat Islam, menyusun pemerintahan, mempersaudarakan kaum Muslimin, membentuk sistem hukum, mengorganisasi pertahanan, mengirim surat kepada para penguasa dunia, serta membawa Islam masuk ke percaturan politik internasional.l

Semua itu bukan penyimpangan dari agama. Justru itulah bagian dari risalah kenabian.

Karena itu Imam Khamenei mempertanyakan, bagaimana mungkin ada yang mengatakan bahwa agama tidak memiliki hubungan dengan politik, sementara perjalanan hidup Nabi sendiri justru membuktikan sebaliknya?

Baca Juga  Fatimah Zahra: Mukjizat Islam yang Terlupakan

Memisahkan politik dari Islam, menurut beliau, berarti mengabaikan sebagian besar pengalaman sejarah Rasulullah.

Keadilan Sosial Adalah Misi Kenabian

Islam tidak hanya mengajarkan manusia untuk berzikir, berpuasa, dan memperbanyak ibadah pribadi. Para nabi juga datang membawa misi membangun kehidupan yang adil.

Al-Qur’an menegaskan:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

“Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan), agar manusia dapat menegakkan keadilan.” (QS. Al-Hadid: 25)

Imam Ali Khamenei menjelaskan bahwa kata qisth dalam ayat tersebut bukan sekadar keadilan moral, melainkan tegaknya keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat. Dan keadilan seperti itu tidak mungkin hadir tanpa pengelolaan pemerintahan, hukum, serta kebijakan publik.

Dengan kata lain, membangun sistem sosial yang adil merupakan pekerjaan politik dalam makna yang paling luhur.

Karena itulah seluruh nabi—mulai dari Nabi Ibrahim, Musa, Isa, hingga Nabi Muhammad—bukan hanya membawa ajaran spiritual, tetapi juga mengarahkan masyarakat menuju tatanan kehidupan yang berkeadilan.

Ketika Barat Memisahkan Agama dan Negara

Imam Ali Khamenei menilai bahwa gagasan pemisahan agama dari negara yang banyak dipromosikan dunia Barat lahir dari pengalaman sejarah mereka sendiri, bukan dari ajaran Islam.

Dalam pandangan Islam, agama dan pemerintahan bersumber dari satu mata air yang sama, yakni wahyu Ilahi. Keduanya bukan dua institusi yang kebetulan bekerja sama, melainkan dua sisi dari satu misi yang sama: membimbing manusia menuju kehidupan yang bermartabat.

Karena itu, menurut beliau, slogan “pisahkan agama dari politik” tidak sejalan dengan sejarah Nabi maupun dengan kandungan Al-Qur’an.

Bahaya Sebaliknya: Ketika Islam Hanya Menjadi Politik

Namun Imam Ali Khamenei juga mengingatkan adanya penyimpangan yang lain.

Baca Juga  Kebangkitan Islam dan Politik Perlawanan: Saat Dunia Muslim Menemukan Kembali Jati Dirinya

Jika kelompok pertama menghilangkan dimensi sosial Islam, kelompok kedua justru menghapus dimensi spiritualnya.

Mereka berbicara tentang strategi, kekuasaan, revolusi, pemerintahan, dan perjuangan politik, tetapi melupakan tujuan utama diutusnya Rasulullah: membangun manusia.

Islam akhirnya direduksi menjadi slogan-slogan politik yang menggelegar, sementara hati manusia dibiarkan kering.

Padahal Nabi Muhammad tidak hanya mendirikan negara. Beliau juga mendidik jiwa.

Beliau mengajarkan manusia menangis karena takut kepada Allah, berzikir dengan khusyuk, memohon ampun, membersihkan hati dari kesombongan, mempraktikkan kasih sayang, memaafkan kesalahan orang lain, menumbuhkan kesabaran, kemurahan hati, dan persaudaraan.

Semua nilai itu bukan pelengkap. Justru itulah ruh Islam.

Jika politik kehilangan akhlak, ia berubah menjadi perebutan kekuasaan. Jika agama kehilangan tanggung jawab sosial, ia berubah menjadi ritual yang terasing dari kehidupan.

Keduanya sama-sama menjauh dari Islam yang dibawa Rasulullah.

Islam yang Utuh

Dalam pandangan Imam Ali Khamenei, Islam adalah agama yang membangun manusia sekaligus masyarakat.

Ia membimbing hati agar mengenal Allah, tetapi pada saat yang sama mengatur hubungan sosial agar tegak keadilan. Ia mengajarkan munajat malam, sekaligus menuntut keberanian menghadapi kezaliman. Ia mendidik manusia untuk bersujud kepada Tuhan sekaligus memikul tanggung jawab terhadap nasib umat.

Karena itu, memahami Islam secara utuh berarti menolak dua ekstrem sekaligus: menjadikan agama hanya urusan pribadi, atau menjadikannya sekadar alat politik.

Warisan Nabi Muhammad menunjukkan bahwa spiritualitas dan kepemimpinan sosial tidak pernah dipisahkan. Masjid dan pemerintahan, doa dan keadilan, ibadah dan perjuangan, semuanya bertemu dalam satu risalah yang sama.

Mungkin di situlah letak keistimewaan Islam. Ia tidak mengajak manusia memilih antara langit atau bumi. Ia mengajarkan bagaimana membawa nilai-nilai langit untuk membangun kehidupan di bumi.

Baca Juga  Istiqomah di Jalan Kebenaran: Pelajaran Besar dari Awal Kenabian Muhammad
Bagikan:
Terkait
Komentar