Tafsir Al-Fahtihah (Bag. 3): “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin” yang Melampaui Ucapan Syukur

KHAMENEI.ID –

Tafsir Imam Ali Khamenei tentang Alhamdulillah pada kalimat Hamdalah, ayat kedua surah Al-Fatihah

Hampir setiap hari kita mengucapkannya. Setelah memperoleh rezeki, ketika terhindar dari musibah, bahkan sering kali hanya sebagai jawaban sederhana atas pertanyaan, “Apa kabar?” Kita menjawab, “Alhamdulillah.” Kalimat itu begitu akrab hingga sering keluar tanpa lagi kita renungkan maknanya.

Padahal, Al-Qur’an membuka Surah Al-Fatihah bukan dengan kata asy-syukr (syukur), melainkan dengan الْحَمْدُ لِلَّهِ (“Segala puji bagi Allah”). Mengapa Al-Qur’an memilih kata hamd? Bukankah selama ini Alhamdulillah lebih sering dipahami sebagai ungkapan syukur? Dalam tafsirnya, Imam Ali Khamenei (qs) menunjukkan bahwa pilihan satu kata ini bukan sekadar persoalan bahasa. Di baliknya tersimpan cara pandang Islam tentang sumber seluruh kebaikan, keindahan, dan kesempurnaan di alam semesta.

Mengapa Al-Qur’an memilih kata hamd? Apa yang membedakannya dengan pujian biasa?

Dalam tafsirnya, Imam Ali Khamenei (qs) menunjukkan bahwa di balik satu kata ini tersimpan cara pandang Islam tentang sumber seluruh kebaikan di alam semesta.

Menurut beliau, hamd bukan sekadar memuji. Dalam bahasa Arab, hamd adalah sanjungan terhadap seseorang karena sifat atau perbuatan baik yang dilakukan secara sadar dan atas kehendaknya sendiri.

Di sinilah letak perbedaannya dengan madh (pujian).

Seseorang boleh memuji wajah yang tampan, suara yang merdu, atau postur tubuh yang indah. Semua itu termasuk madh, sebab kelebihan tersebut tidak lahir dari pilihan dan usaha orang itu. Ia merupakan anugerah yang telah dimilikinya sejak awal.

Namun ketika seseorang dipuji karena keberaniannya, kemurahan hatinya, kejujurannya, atau kesabarannya, maka yang diberikan adalah hamd. Sebab sifat-sifat itu lahir dari pilihan moral dan tindakan yang dilakukan dengan kesadaran.

Baca Juga  Imam Ali dan Keyakinan yang Tak Pernah Goyah

Perbedaan ini mungkin tampak kecil, tetapi sesungguhnya sangat mendasar.

Bahasa Indonesia memang mengenal kata “pujian” atau “sanjungan”, tetapi keduanya belum sepenuhnya mewakili makna hamd. Kata “pujian” bisa mencakup segala bentuk apresiasi, termasuk terhadap kecantikan, suara, atau keindahan alam. Karena itu, menurut Imam Ali Khamenei, tidak mudah menemukan padanan yang benar-benar setara dalam bahasa Persia khususnya.

Selama ini, sebagian ulama menerjemahkannya sebagai “segala puji”, sementara yang lain menggabungkan makna “syukur dan pujian”. Meski demikian, apa pun terjemahannya, inti yang hendak disampaikan tetap sama: hamd adalah penghargaan atas kesempurnaan yang lahir dari kehendak dan kebijaksanaan.

Namun, ada satu pertanyaan yang jarang kita renungkan: mengapa Al-Qur’an tidak sekadar mengatakan bahwa Allah swt layak dipuji, melainkan menyatakan, “Alhamdulillah”segala puji bagi Allah?

Rahasia ayat ini justru terletak pada satu huruf yang hampir tak pernah diperhatikan: “al-“ pada kata الحمد. Menurut Imam Ali Khamenei, dari huruf kecil inilah Al-Qur’an menegaskan bahwa bukan sebagian, melainkan seluruh bentuk pujian pada hakikatnya kembali kepada Allah swt.

Imam Ali Khamenei mengajak kita memperhatikan susunan kalimat tersebut. Kata الْحَمْدُ diawali dengan huruf alif lam (ال). Dalam ilmu bahasa Arab, fungsi alif-lam (ال) pada kata الحمد (al-hamd) adalah al-istighrāq atau al-jins, yang menunjukkan keseluruhan jenis pujian, bukan sebagian. Dengan kata lain, yang dimaksud bukan satu pujian tertentu, melainkan seluruh jenis pujian.

Karena itu, makna ayat:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-Fatihah [1]: 2),

bukan sekadar mengajak manusia memuji Allah. Ayat ini menyatakan sebuah kenyataan: seluruh pujian pada hakikatnya memang kembali kepada Allah.

Mengapa demikian?

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Fatihah Oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs (Part 2)

Karena semua kebaikan yang layak dipuji pada akhirnya bersumber dari-Nya.

Ketika kita mengagumi keberanian seseorang, sesungguhnya keberanian itu adalah kemampuan yang Allah swt anugerahkan. Ketika kita menghormati ilmuwan karena ilmunya, kemampuan berpikirnya juga berasal dari Allah. Ketika kita memuji seorang dermawan, rezeki yang ia bagikan pun merupakan titipan Allah.

Bahkan ketika kita terpukau pada keindahan alam, gunung, lautan, atau langit yang bertabur bintang, seluruh keindahan itu adalah ciptaan-Nya.

Artinya, semua pujian yang tampaknya diberikan kepada makhluk pada hakikatnya bermuara kepada Sang Pencipta.

Pandangan ini mengubah cara seorang mukmin melihat kehidupan. Ia tetap menghargai jasa manusia, tetap menghormati orang-orang yang berbuat baik, tetapi ia tidak berhenti pada sosok yang terlihat. Di balik setiap kebaikan, ia melihat sumber yang lebih agung.

Perspektif seperti ini juga melindungi manusia dari dua sikap yang sama-sama berbahaya.

Yang pertama adalah mengkultuskan manusia. Ketika seseorang dipandang sebagai sumber mutlak segala kebaikan, manusia mudah jatuh pada pemujaan terhadap tokoh, kekuasaan, atau harta. Padahal semua kelebihan itu hanyalah amanah yang sewaktu-waktu dapat dicabut.

Yang kedua adalah kesombongan. Orang yang menyadari makna Alhamdulillah tidak mudah membanggakan dirinya sendiri. Ia memahami bahwa kemampuan, kecerdasan, kekuatan, bahkan kesempatan untuk berbuat baik merupakan karunia Allah swt. Ia boleh bekerja keras, tetapi hasil akhirnya tetap tidak terlepas dari kehendak-Nya.

Inilah mengapa Surah Al-Fatihah dibuka dengan kalimat Alhamdulillah. Sebelum seorang hamba memohon petunjuk, memohon pertolongan, atau meminta jalan yang lurus, ia terlebih dahulu diajak meluruskan cara pandangnya terhadap kehidupan.

Segala yang baik berasal dari Allah.

Segala yang indah bersumber dari Allah.

Segala sifat terpuji pada akhirnya merupakan pantulan dari kesempurnaan-Nya.

Baca Juga  Perempuan dalam Islam: Membaca Kesetaraan Gender dari Perspektif Al-Qur'an

Dalam pandangan Imam Ali Khamenei, kalimat Alhamdulillah bukan hanya ungkapan syukur yang diucapkan setelah memperoleh nikmat. Ia adalah sebuah deklarasi akidah. Pernyataan bahwa seluruh keindahan, seluruh kebajikan, dan seluruh kesempurnaan yang layak dipuji memiliki satu sumber yang sama: Allah, Rabb semesta alam.

Mungkin karena itulah Al-Qur’an tidak mengajarkan kita memulai doa dengan permintaan. Ia terlebih dahulu mengajarkan kita mengenali sumber segala kebaikan. Sebab ketika seseorang benar-benar memahami makna Alhamdulillah, ia tidak hanya pandai mengucapkan syukur, tetapi juga belajar melihat dunia dengan cara yang berbeda—bahwa di balik setiap kebaikan yang ia jumpai, selalu ada tangan Allah yang bekerja.

Bagikan:
Terkait
Komentar