Ghadir, Kepemimpinan Islam, dan Perjuangan Menegakkan Pemerintahan Ilahi

KHAMENEI.ID – Di banyak peringatan Idul Ghadir, perhatian umat Islam sering terfokus pada satu perdebatan klasik: siapa yang ditunjuk Nabi Muhammad saw sebagai penerus setelah beliau wafat? Namun dalam pemikiran Imam Ali Khamenei qs, peristiwa Ghadir Khum menyimpan pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar persoalan suksesi. Ghadir adalah deklarasi tentang keberlanjutan kepemimpinan Islam dan pemerintahan ilahi yang telah diperjuangkan Rasulullah saw sepanjang hidupnya.

Bagi Imam Khamenei, Islam bukan agama yang hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah swt. Islam datang untuk membangun masyarakat, menegakkan keadilan, membebaskan manusia dari penindasan, dan menghadirkan tata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai wahyu. Karena itu, keberhasilan dakwah Nabi Muhammad saw tidak hanya diukur dari banyaknya orang yang beriman, tetapi juga dari lahirnya sebuah masyarakat dan pemerintahan yang berjalan berdasarkan petunjuk Allah.

Di sinilah konsep imamah menjadi sangat penting. Imamah bukan sekadar kedudukan spiritual atau simbol keagamaan. Imamah adalah kelanjutan dari proyek besar kenabian: menjaga agar agama tidak berhenti sebagai ajaran, tetapi hadir sebagai sistem kehidupan yang nyata.

Dari Risalah Menuju Kepemimpinan

Imam Khamenei menjelaskan bahwa para nabi tidak hanya membawa risalah, tetapi juga memiliki maqam imamah. Risalah berarti menyampaikan pesan Allah swt kepada manusia. Adapun imamah berarti memimpin masyarakat agar pesan itu benar-benar terwujud dalam kehidupan mereka.

Untuk menjelaskan hal ini, beliau merujuk pada kisah Nabi Ibrahim as. Setelah melewati berbagai ujian berat, Allah swt berfirman:

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku menjadikan engkau imam bagi seluruh manusia.'” (QS. Al-Baqarah: 124)

Baca Juga  Ratapan Langit di Kufah dan Hilangnya Wajah Keadilan 

Ayat ini menunjukkan bahwa setelah menjadi nabi dan rasul, Ibrahim masih memperoleh kedudukan yang lebih tinggi, yaitu imamah. Menurut Imam Khamenei, hal ini menunjukkan bahwa tugas tertinggi seorang pemimpin ilahi bukan hanya menyampaikan kebenaran, tetapi membangun masyarakat berdasarkan kebenaran tersebut.

Nabi Muhammad saw menjalankan kedua misi itu sekaligus. Selama 23 tahun dakwahnya, beliau tidak hanya mengajarkan tauhid dan akhlak. Beliau juga membangun pemerintahan Islam di Madinah, menyusun aturan sosial, menegakkan keadilan, melindungi kaum tertindas, dan membentuk sebuah peradaban baru.

Karena itu, ketika usia beliau mendekati akhir dan Islam telah berdiri sebagai sebuah masyarakat dan negara, muncul pertanyaan besar: siapa yang akan menjaga keberlangsungan proyek peradaban ini?

Ghadir: Menjaga Kelangsungan Pemerintahan Islam

Dalam perspektif yang dijelaskan Imam Khamenei, jawaban atas pertanyaan itu disampaikan Nabi Muhammad saw di Ghadir Khum.

Di hadapan puluhan ribu jamaah yang baru kembali dari Haji Wada’, Rasulullah saw bersabda:

مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَهَذَا عَلِيٌّ مَوْلَاهُ

“Barang siapa menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya.”

Menurut pandangan Syiah, yang juga ditegaskan Khamenei, hadis ini bukan sekadar penghormatan kepada Imam Ali as. Ia merupakan pengumuman tentang kelanjutan kepemimpinan Islam setelah Rasulullah saw.

Yang hendak dijaga bukan hanya posisi seorang individu, melainkan kesinambungan pemerintahan yang berlandaskan wahyu. Sebab tanpa kepemimpinan yang benar, nilai-nilai Islam berisiko terpisah dari kehidupan sosial dan politik umat.

Karena itu, Ghadir dipahami sebagai upaya menjaga agar pemerintahan Islam tetap berada di jalur yang telah dibangun Rasulullah saw.

Mengapa Pemerintahan Islam Begitu Penting?

Menurut Imam Khamenei, kerugian terbesar ketika kepemimpinan Islam kehilangan kekuasaan politik bukanlah hilangnya jabatan atau struktur pemerintahan semata. Kerugian terbesar adalah hilangnya pola hidup Islam dalam masyarakat.

Baca Juga  Saat Agama Menemukan Penjaganya: Makna Ghadir bagi Hati dan Umat 

Islam memiliki visi sosial yang jelas. Al-Qur’an menyebut tujuan para nabi adalah:

لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

“Agar manusia dapat menegakkan keadilan.” (QS. Al-Hadid: 25)

Keadilan tidak mungkin terwujud hanya melalui nasihat moral. Ia membutuhkan sistem, hukum, dan kepemimpinan yang berpihak kepada rakyat.

Al-Qur’an juga menggambarkan masyarakat Islam sebagai komunitas yang memiliki ketegasan menghadapi ancaman dan penindasan:

أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ

“Bersikap tegas terhadap orang-orang kafir (yang memusuhi).” (QS. Al-Fath: 29)

Namun pada saat yang sama mereka adalah masyarakat yang penuh kasih sayang:

رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Berkasih sayang sesama mereka.” (QS. Al-Fath: 29)

Dalam pandangan Khamenei, semua nilai ini membutuhkan ruang sosial dan politik untuk diwujudkan. Tanpa pemerintahan yang berkomitmen pada nilai-nilai Islam, keadilan sosial, solidaritas, dan kemandirian umat hanya akan menjadi slogan.

Karena itulah para Imam Ahlulbait as selama sekitar 250 tahun terus berjuang menjaga cita-cita pemerintahan Islam. Bentuk perjuangan mereka berbeda-beda sesuai kondisi zaman, tetapi tujuannya sama: menjaga agar Islam tetap hadir sebagai kekuatan yang membimbing kehidupan masyarakat.

Teladan Kepemimpinan Rasulullah saw dan Ahlulbait as

Kepemimpinan Islam yang diperjuangkan Rasulullah saw dan keluarganya yang maksum bukanlah kepemimpinan yang berjarak dari rakyat.

Al-Qur’an menggambarkan karakter Nabi saw:

عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ

“Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami.” (QS. At-Taubah: 128)

Seorang pemimpin dalam Islam tidak hidup di atas penderitaan masyarakat. Ia merasakan kesulitan rakyat sebagai kesulitannya sendiri. Ia hadir untuk melayani, bukan untuk dilayani.

Model kepemimpinan seperti inilah yang terlihat dalam kehidupan Imam Ali as. Dalam sejarah Islam, beliau dikenal sebagai pemimpin yang hidup sederhana, dekat dengan rakyat, dan sangat sensitif terhadap ketidakadilan sosial. Bagi Khamenei, inilah wajah pemerintahan Islam yang sesungguhnya: kekuasaan yang menjadi sarana pengabdian kepada manusia dan ketaatan kepada Allah swt.

Baca Juga  Islamofobia dan Proyek Islam Kaffah: Mengapa Dunia Takut pada Kebangkitan Islam

Ghadir dan Masa Depan Umat

Karena itu, Imam Khamenei mengajak umat Islam melihat Ghadir dari perspektif yang lebih luas. Ghadir bukan sekadar peristiwa sejarah atau bahan perdebatan mazhab. Ghadir adalah simbol keberlanjutan kepemimpinan ilahi yang bertujuan menjaga keadilan, martabat manusia, dan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial.

Pesan ini tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan antara Sunni dan Syiah. Sebaliknya, ia dapat menjadi titik temu untuk memahami bahwa Islam sejak awal membawa visi tentang masyarakat yang adil, berdaulat, dan bermoral.

Empat belas abad setelah peristiwa Ghadir Khum, pertanyaan yang diwariskannya masih tetap relevan: bagaimana nilai-nilai Islam dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata tanpa kepemimpinan yang mampu menerjemahkannya menjadi sistem sosial dan pemerintahan?

Barangkali di situlah makna terdalam Ghadir. Ia bukan hanya tentang siapa yang memimpin setelah Nabi, tetapi tentang bagaimana perjuangan Rasulullah saw dan Ahlulbait yang maksum terus berlanjut demi tegaknya pemerintahan yang menghadirkan keadilan, kasih sayang, dan penghambaan kepada Allah swt dalam kehidupan manusia.

Bagikan:
Terkait
Komentar