KHAMENEI.ID– Ketika sebuah gerakan besar lahir, perhatian publik biasanya tertuju pada bagaimana ia dimulai. Orang mengingat pidato-pidato bersejarah, gelombang massa yang memenuhi jalanan, atau tokoh-tokoh yang menjadi simbol perubahan. Namun sejarah menunjukkan bahwa tantangan terbesar sebuah perubahan sosial bukanlah saat ia dilahirkan, melainkan ketika ia harus mempertahankan arah perjalanannya.
Banyak revolusi tumbang bukan karena diserang dari luar, melainkan karena perlahan kehilangan kompas yang dulu membimbingnya. Ia bergerak, tetapi ke arah yang berbeda. Ia hidup, tetapi dengan jiwa yang telah berubah. Di titik itulah sebuah gerakan bisa berubah menjadi lawan dari cita-cita yang dahulu diperjuangkannya.
Masalah inilah yang menjadi perhatian utama dalam banyak ajaran keagamaan. Al-Qur’an bahkan memberikan peringatan yang sangat tegas kepada Nabi Muhammad saw:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Maka tetaplah engkau berada di jalan yang lurus sebagaimana diperintahkan kepadamu, dan juga orang-orang yang kembali kepada Allah bersamamu. Janganlah melampaui batas, karena sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Hud: 112)
Ayat ini tampak sederhana. Hanya sebuah perintah untuk tetap teguh di jalan yang benar. Namun para ulama menilai nada ayat tersebut sangat keras. Ia bukan sekadar anjuran moral, melainkan perintah yang mengandung tuntutan besar: jangan pernah membiarkan arah perjuangan bergeser.
Menariknya, lawan dari “istiqomah” dalam ayat itu bukanlah kekalahan atau kelemahan. Lawannya adalah thughyan; pembangkangan dan penyimpangan arah. Seolah Al-Qur’an ingin mengatakan bahwa bahaya terbesar bukanlah berhenti berjalan, tetapi berjalan ke arah yang salah.
Karena itu ayat tersebut tidak hanya ditujukan kepada Nabi saw seorang diri. Mereka yang berada di sekelilingnya, yang ikut dalam barisan perjuangan, juga diperintahkan untuk menjaga arah yang sama. Sebuah gerakan hanya akan bertahan selama para pengikutnya tetap setia pada tujuan awal.
Ulama besar abad ke-20, Allamah Muhammad Husain Thabathabai ra, dalam tafsir Al-Mizan, menyoroti kekerasan nada ayat ini. Menurutnya, hampir tidak ada nuansa keringanan di dalamnya. Bahkan Nabi saw sendiri menjadi pihak pertama yang disapa. “Tetaplah engkau teguh,” demikian perintah itu dimulai.
Tidak mengherankan bila Rasulullah saw pernah mengucapkan sebuah kalimat yang terkenal dalam literatur Islam. Ketika ditanya mengapa uban beliau datang begitu cepat, beliau menjawab bahwa Surah Hud telah membuatnya menjadi tua.
Riwayat lain menyebutkan bahwa bagian yang paling berat dari surah tersebut adalah ayat tentang istiqomah ini. Bukan karena panjang atau rumit, tetapi karena bobot tanggung jawab yang dikandungnya. Menjaga sebuah jalan lurus ternyata jauh lebih sulit daripada memulai perjalanan.
Dalam kehidupan modern, pesan itu terasa semakin relevan. Kita hidup di zaman yang penuh perubahan cepat. Organisasi, lembaga, bahkan individu sering kali memulai sesuatu dengan idealisme tinggi. Sebuah komunitas lahir untuk melayani masyarakat, sebuah perusahaan berdiri dengan misi mulia, seorang aktivis memulai perjuangan atas nama keadilan.
Namun setelah bertahun-tahun berlalu, tidak sedikit yang berubah. Tujuan awal perlahan memudar. Kepentingan baru muncul. Ambisi pribadi mengambil alih. Bahasa yang digunakan masih sama, simbol-simbolnya masih dipertahankan, tetapi ruhnya telah bergeser.
Fenomena ini bukan hanya terjadi pada gerakan sosial atau politik. Dalam kehidupan pribadi pun demikian. Banyak orang memulai perjalanan spiritual dengan semangat tinggi, tetapi kemudian terseret oleh rutinitas, godaan kekuasaan, atau kepentingan sesaat. Mereka masih bergerak, tetapi tidak lagi menuju tujuan yang sama.
Karena itulah Al-Qur’an kembali menegaskan prinsip serupa dalam ayat lain:
فَلِذَٰلِكَ فَادْعُ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ
“Karena itu, ajaklah mereka kepada jalan ini dan tetaplah teguh sebagaimana engkau diperintahkan. Jangan mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS. Asy-Syura: 15)
Di sini, ancaman terhadap arah perjuangan diberi nama yang lebih jelas: hawa nafsu. Bukan sekadar keinginan pribadi dalam makna sempit, melainkan seluruh dorongan yang membuat seseorang mengorbankan prinsip demi kenyamanan, popularitas, keuntungan, atau kekuasaan.
Mungkin inilah alasan mengapa istiqomah menjadi salah satu konsep paling penting dalam tradisi Islam. Ia bukan hanya tentang kesabaran menghadapi kesulitan. Istiqomah adalah kemampuan menjaga orientasi ketika godaan untuk berbelok justru terlihat menguntungkan.
Sejarah manusia penuh dengan contoh orang-orang yang mampu memulai perubahan besar. Namun jauh lebih sedikit mereka yang mampu mempertahankan kemurnian tujuan hingga akhir perjalanan. Memulai sering kali membutuhkan keberanian. Tetapi menjaga arah membutuhkan sesuatu yang lebih sulit: kedewasaan, kesadaran, dan pengawasan terus-menerus terhadap diri sendiri.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah perjuangan bukan hanya seberapa jauh ia melangkah, melainkan apakah ia masih berada di jalur yang benar. Sebab perjalanan yang panjang tidak berarti apa-apa jika arahnya telah berubah.
Barangkali itulah pesan yang membuat Surah Hud terasa begitu berat bagi Rasulullah saw. Sebuah peringatan bahwa tantangan terbesar bukanlah menghadapi musuh di depan mata, melainkan memastikan bahwa langkah-langkah kita sendiri tidak diam-diam membawa kita menjauh dari tujuan yang pernah kita yakini.







