Tidak Semua yang Membawa Ayat Membawa Kebenaran 

KHAMENEI.ID– Ada masa-masa ketika yang salah tampak benar, dan yang benar justru terlihat mencurigakan. Pada saat seperti itu, kebingungan bukan hanya dialami oleh orang awam, melainkan juga mereka yang dianggap cerdas, berpengaruh, dan memiliki pengetahuan luas. Sejarah menyebut masa semacam ini sebagai zaman fitnah: periode ketika batas antara kebenaran dan kebatilan menjadi kabur seperti jalan yang tertutup kabut tebal.

Dalam situasi seperti itulah Imam Ali bin Abi Thalib a.s memberikan nasihat yang tetap relevan hingga hari ini. Di tengah gejolak politik dan perpecahan yang melanda umat Islam pada masanya, beliau menyerukan kepada para pengikutnya:

امْضُوا عَلَى حَقِّكُمْ وَصِدْقِكُمْ

“Teruslah berjalan di atas kebenaran dan kejujuran kalian”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun justru di dalam kesederhanaannya tersimpan sebuah prinsip besar: ketika fitnah dan manipulasi merajalela, jangan kehilangan pegangan pada kebenaran yang telah jelas dan kejujuran yang telah diyakini.

Peristiwa yang melatarbelakangi ucapan tersebut terjadi setelah Perang Shiffin. Ketika pasukan lawan berada di ambang kekalahan, mereka mengangkat mushaf Al-Qur’an di ujung tombak. Secara lahiriah, tindakan itu tampak religius dan mulia. Banyak orang terharu. Sebagian bahkan mendesak agar peperangan dihentikan demi menghormati kitab suci.

Namun Imam Ali a.s melihat sesuatu yang tidak dilihat banyak orang. Beliau memahami bahwa simbol keagamaan dapat digunakan sebagai alat politik. Beliau memperingatkan pasukannya bahwa tindakan itu bukanlah seruan tulus untuk kembali kepada Al-Qur’an, melainkan strategi untuk melemahkan barisan lawan.

Akan tetapi, suara mayoritas saat itu lebih percaya pada tampilan luar daripada penilaian yang mendalam. Mereka memilih mengikuti kesan yang tampak saleh dibanding membaca realitas yang tersembunyi di baliknya.

Baca Juga  Empati Imam Ali dan Rasulullah: Ketika Kepedulian Melampaui Batas Agama

Beberapa waktu kemudian, apa yang diperingatkan Imam Ali a.s terbukti. Mereka yang mengangkat mushaf bukan sedang membela Al-Qur’an, melainkan memanfaatkan kehormatannya untuk mencapai tujuan politik.

Di sinilah letak pelajaran penting yang melampaui ruang dan waktu. Kebenaran tidak selalu dapat diukur dari simbol yang ditampilkan. Tidak setiap orang yang membawa ayat sedang membela nilai ayat itu. Tidak setiap slogan agama lahir dari niat yang suci. Kadang-kadang, yang dipakai sebagai topeng justru sesuatu yang paling dihormati masyarakat.

Imam Ali a.s kemudian menjelaskan sebuah prinsip yang sangat mendalam. Beliau berkata bahwa:

“Al-Qur’an adalah tulisan yang berada di antara dua sampul. Ia tidak berbicara dengan sendirinya; manusialah yang berbicara atas namanya

Pernyataan ini bukan merendahkan Al-Qur’an. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa teks yang suci sekalipun dapat disalahgunakan oleh manusia yang memiliki kepentingan tertentu. Karena itu, ukuran kebenaran tidak cukup hanya melihat siapa yang paling sering mengutip ayat, melainkan siapa yang paling jujur menjalankan nilai-nilai yang dikandung ayat tersebut.

Fenomena semacam itu terasa sangat dekat dengan kehidupan modern. Di era media sosial, informasi bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Potongan video, kutipan yang dipenggal, narasi yang dibumbui emosi, hingga kampanye digital yang terorganisasi sering kali menciptakan ilusi kebenaran.

Akibatnya, banyak orang mengambil keputusan bukan berdasarkan fakta, melainkan berdasarkan kesan. Bukan berdasarkan bukti, melainkan berdasarkan popularitas. Dalam kondisi seperti itu, kabut fitnah tidak lagi hadir dalam bentuk peperangan, melainkan dalam bentuk banjir informasi yang sulit dibedakan mana yang jernih dan mana yang keruh.

Karena itulah Imam Ali a.s menempatkan dua kata sebagai kompas utama: haq dan sidq. Haq berarti kebenaran yang berdiri di atas bukti dan prinsip. Sedangkan sidq berarti kejujuran yang lahir dari integritas hati.

Baca Juga  Tiga Perang Imam Ali demi Menegakkan Keadilan dan Menghidupkan Prinsip Nabi

Ketika keduanya dipadukan, seseorang tidak mudah digoyahkan oleh propaganda. Ia tidak langsung percaya hanya karena sebuah kabar sesuai dengan emosinya. Ia juga tidak mudah membenci hanya karena orang lain berbeda kelompok dengannya.

Dalam berbagai kesempatan, Islam mengajarkan pentingnya kejelasan sikap. Umat diperintahkan untuk tidak tertipu oleh musuh yang menyembunyikan niat di balik senyum atau simbol-simbol yang tampak indah. Islam juga mengajarkan agar masyarakat dibangun berdasarkan petunjuk moral yang jelas, bukan berdasarkan arus opini yang berubah setiap saat.

Di sinilah tantangan terbesar manusia modern. Kita hidup di tengah ledakan informasi, tetapi sering kekurangan petunjuk untuk memilahnya. Kita memiliki akses kepada ribuan sumber berita, tetapi tidak selalu memiliki kesabaran untuk memeriksa kebenarannya. Kita mudah terhubung dengan banyak orang, tetapi tidak selalu dekat dengan kebenaran.

Maka nasihat Imam Ali a.s yang lahir lebih dari empat belas abad lalu terasa seperti pesan untuk zaman sekarang: jangan jadikan keramaian sebagai ukuran kebenaran. Jangan jadikan simbol sebagai pengganti substansi. Jangan biarkan suara para penyebar fitnah mengguncang keyakinan yang dibangun di atas pengetahuan dan kejujuran.

Kabut pada akhirnya akan berlalu. Namun selama kabut masih menutupi pandangan, manusia membutuhkan penunjuk arah. Bagi Imam Ali a.s, penunjuk arah itu bukan figur, kelompok, atau slogan. Penunjuk arah itu adalah kebenaran yang nyata, kejujuran yang teruji, dan kemampuan untuk melihat melampaui apa yang tampak di permukaan.

Di zaman apa pun, itulah kompas yang paling aman. Sebab ketika fitnah membuat jalan terlihat samar, hanya kebenaran yang mampu menunjukkan arah pulang.

Bagikan:
Terkait
Komentar