Sebuah Bangsa Tidak Boleh Lupa pada Prinsipnya

KHAMENEI.ID– Ada bangsa yang begitu keras mempertahankan prinsipnya, tetapi begitu mudah meminta bangsa lain meninggalkannya. Mereka menyebutnya demokrasi ketika nilai-nilai mereka dipertahankan, tetapi menyebutnya konservatisme ketika bangsa lain melakukan hal yang sama. Di balik perdebatan politik semacam itu tersimpan pertanyaan yang lebih tua dan lebih penting: apa yang membuat sebuah bangsa tetap menjadi dirinya sendiri?

Pertanyaan itu menjadi penting ketika sebuah negara memasuki masa perubahan. Modernisasi bergerak cepat, kekuasaan berganti tangan, generasi baru datang dengan gagasan baru, dan dunia luar terus menawarkan ukuran-ukuran baru tentang kemajuan. Dalam keadaan seperti itu, mempertahankan prinsip bukan berarti menolak perubahan. Justru sebaliknya: sebuah bangsa hanya dapat bergerak jauh jika tahu dari mana ia berangkat.

Gagasan itulah yang mengemuka dalam pidato Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs tentang para pengelola pemerintahan Iran. Di sana, ada kritik terhadap cara dunia memandang prinsip. Negara-negara Barat, misalnya, digambarkan tetap berpegang pada konstitusi dan nilai yang telah mereka bangun selama ratusan tahun. Amerika Serikat, dengan tradisi politik yang diwarisi sejak George Washington, menjadikan apa yang mereka sebut sebagai “nilai-nilai Amerika” sebagai salah satu dasar pembenaran politiknya.

Nilai itu tidak sekadar menjadi hiasan dalam pidato kenegaraan. Ia dapat menjadi alasan untuk menentukan siapa yang dianggap kawan, siapa yang dianggap lawan, bahkan tindakan apa yang dianggap sah dilakukan atas nama kepentingan nasional. Dalam logika tersebut, mempertahankan prinsip sendiri dianggap sebagai sikap yang wajar.

Namun ketika bangsa lain melakukan hal serupa, penilaiannya bisa berubah.

Di titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar Amerika atau Iran. Ada sesuatu yang lebih universal: standar ganda dalam memandang identitas politik sebuah bangsa. Keteguhan pada prinsip sendiri disebut sebagai patriotisme, sementara keteguhan bangsa lain dicurigai sebagai keterbelakangan, fanatisme, atau konservatisme.

Baca Juga  Saat Kesabaran Menjadi Kekuatan Terbesar

Padahal setiap masyarakat memiliki pengalaman sejarah yang membentuk nilai politiknya. Konstitusi tidak lahir dari ruang kosong. Ia merupakan hasil dari pergulatan sejarah, konflik, kemenangan, kekalahan, dan cita-cita yang pernah diperjuangkan. Karena itu, meminta sebuah bangsa meninggalkan prinsip dasarnya atas nama modernitas sering kali sama dengan meminta bangsa tersebut melepaskan sebagian dari ingatannya sendiri.

Dalam konteks Iran, prinsip yang dimaksud tidak dipahami semata sebagai kumpulan aturan hukum. Ia berkaitan dengan pengalaman revolusi, gagasan tentang kebebasan, kemerdekaan, identitas Islam, dan keyakinan bahwa negara harus berdiri di atas kehendak serta nilai yang diyakini masyarakatnya.

Karena itu, mempertahankan prinsip tidak otomatis berarti mempertahankan semua hal lama.

Ini bagian yang kerap luput dalam perdebatan tentang konservatisme. Prinsip dan bentuk bukanlah hal yang sama. Sebuah bangsa dapat mempertahankan nilai dasar sambil mengubah cara nilai itu diterapkan. Ia dapat memperbaiki kelembagaan tanpa membuang fondasi. Ia dapat menerima teknologi baru tanpa kehilangan orientasi moral. Ia bahkan dapat melakukan reformasi besar justru karena ingin menyelamatkan prinsip yang dianggap penting.

Dengan kata lain, prinsip bukan tembok yang menghalangi perjalanan. Ia lebih menyerupai kompas.

Tanpa kompas, perubahan memang tetap mungkin terjadi. Sebuah kapal bisa bergerak sangat cepat, tetapi kecepatan tidak menjamin ia tiba di tujuan. Begitu pula sebuah negara. Pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, perubahan politik, dan keterbukaan terhadap dunia tidak dengan sendirinya menjawab pertanyaan paling mendasar: untuk apa semua kemajuan itu?

Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan politik hari ini. Dalam masyarakat yang sedang berkembang, perdebatan antara “progresif” dan “konservatif” sering kali terlalu sederhana. Seolah-olah menerima perubahan selalu berarti maju, sedangkan mempertahankan prinsip selalu berarti mundur.

Baca Juga  Benteng Keamanan Dimulai dari Luar Perbatasan

Padahal sejarah justru menunjukkan sesuatu yang lebih rumit. Banyak masyarakat maju karena mampu menggabungkan dua kemampuan yang tampaknya bertentangan: berani berubah dan tahu apa yang tidak boleh diubah.

Yang pertama membutuhkan keberanian. Yang kedua membutuhkan ingatan.

Di sinilah konstitusi memperoleh makna yang lebih dalam. Ia bukan sekadar dokumen hukum yang disimpan di lemari negara. Konstitusi adalah kesepakatan mengenai arah. Ketika sebuah bangsa memperlakukannya sebagai sesuatu yang sepenuhnya dapat dibongkar setiap kali muncul tekanan politik, yang terancam bukan hanya pasal-pasalnya, melainkan kontinuitas identitas politiknya.

Namun mempertahankan konstitusi juga tidak boleh berubah menjadi pemujaan terhadap teks. Prinsip yang hidup harus mampu menjawab zaman yang berubah. Ia mesti diuji oleh akal, pengalaman, kebutuhan masyarakat, dan cita-cita kebebasan. Jika tidak, prinsip akan berubah menjadi slogan; dan slogan yang kehilangan hubungan dengan kehidupan nyata pada akhirnya hanya menyisakan upacara.

Maka prinsip membutuhkan dua hal sekaligus: keteguhan dan nalar.

Keteguhan tanpa nalar mudah berubah menjadi fanatisme. Nalar tanpa prinsip mudah berubah menjadi oportunisme. Yang pertama menolak kenyataan; yang kedua kehilangan arah.

Dalam dunia yang semakin terbuka, tantangan bagi sebuah bangsa bukan hanya bagaimana mengikuti perubahan, melainkan bagaimana berubah tanpa kehilangan dirinya. Tekanan global sering datang bukan dalam bentuk larangan terang-terangan. Ia bisa hadir melalui bahasa yang tampak netral: demokrasi, modernisasi, kebebasan, reformasi. Semua kata itu penting. Tetapi setiap kata dapat kehilangan makna jika digunakan untuk memaksa satu bangsa menerima ukuran yang dibuat oleh bangsa lain.

Karena itu, mempertahankan prinsip bukan berarti menutup pintu terhadap dunia. Justru bangsa yang yakin pada fondasinya semestinya tidak takut berhadapan dengan dunia. Ia dapat belajar dari siapa saja tanpa harus menjadi siapa saja.

Baca Juga  Ulama yang Menjemput Umat, Bukan Menunggu Didatangi

Pada akhirnya, sebuah bangsa mungkin tidak binasa karena terlalu banyak berubah. Ia bisa pula kehilangan arah karena berubah tanpa tahu apa yang hendak dipertahankan.

Kemajuan membutuhkan gerak. Tetapi gerak membutuhkan arah. Dan arah, betapapun zaman berubah, selalu bermula dari keberanian untuk menjawab satu pertanyaan sederhana: nilai apa yang membuat kita tetap menjadi kita?

Sebab ketika semua prinsip dianggap usang hanya karena berasal dari masa lalu, yang mungkin sedang kita buang bukan sekadar masa lalu. Bisa jadi, kita sedang membuang alasan mengapa perjalanan itu sejak awal dilakukan.

Bagikan:
Terkait
Komentar