KHAMENEI.ID – Persatuan umat Islam tidak selalu lahir dari ruang-ruang besar dengan panggung megah dan pertemuan para pemimpin. Kadang, gagasan besar justru tumbuh dari tempat yang jauh dari pusat kekuasaan, di tengah keterasingan, dan dari percakapan sederhana antara orang-orang yang memiliki satu kegelisahan: bagaimana umat Islam tidak terus-menerus terpecah oleh perbedaan.
Jauh sebelum istilah Pekan Persatuan dikenal luas di dunia Islam, gagasan itu telah tumbuh dalam sebuah masa yang penuh keterbatasan. Tahun 1978, sebelum kemenangan Revolusi Islam Iran, Imam Syahid Ali Khamenei qs berada dalam pengasingan di Iran Syahr. Di tempat itulah benih gagasan yang kelak dikenal sebagai Hafte-ye Vahdat, atau Pekan Persatuan, mulai dirumuskan.
Imam Khamenei bersama sejumlah tokoh Sunni di Iran Syahr pernah membicarakan gagasan untuk menjadikan peribedaan dalam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw sebagai momentum bersama. Gagasannya sederhana: umat Sunni dan Syiah merayakan kelahiran Nabi dalam satu rentang waktu, dari 12 hingga 17 Rabiulawal.
Tanggal-tanggal tersebut kemudian memperoleh makna yang jauh lebih besar daripada sekadar perbedaan penanggalan mengenai hari kelahiran Nabi. Perbedaan yang sebelumnya berpotensi menjadi garis pemisah justru diubah menjadi ruang perjumpaan.
Dalam percakapan tersebut, Khamenei dan tokoh-tokoh masyarakat setempat membayangkan sebuah perayaan bersama. Masjid Sunni dan masjid Syiah tidak berjalan sendiri-sendiri. Mereka saling mengunjungi, mengadakan kegiatan bersama, dan membangun hubungan yang lebih dekat.
Dari gagasan sederhana itulah istilah Pekan Persatuan mulai digunakan.
Namun sejarahnya tidak berlangsung tanpa kejadian tak terduga.
Pada masa itu, Iran Syahr dilanda banjir besar. Perayaan yang telah direncanakan akhirnya ikut tersapu banjir. Tetapi justru di tengah bencana tersebut muncul pengalaman yang kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan Imam Khamenei.
Banjir membuatnya dan orang-orang di sekitarnya turun langsung menemui masyarakat. Mereka masuk ke rumah-rumah sederhana dan melihat kehidupan masyarakat dari dekat. Sebelumnya, selama berbulan-bulan tinggal di Iran Syahr, hubungan antara ulama dan masyarakat masih banyak berlangsung dari kejauhan. Masyarakat belum benar-benar mengenal mereka, dan mereka pun belum sepenuhnya memahami kehidupan masyarakat.
Bencana mengubah keadaan itu.
Ketika banjir datang, batas antara pendatang dan masyarakat setempat menjadi semakin tipis. Mereka bertemu dalam keadaan yang sama-sama membutuhkan pertolongan. Khamenei mengenal kehidupan masyarakat bukan dari laporan atau cerita, melainkan dari pengalaman langsung.
Di situlah sejarah Pekan Persatuan memiliki lapisan makna lain. Persatuan tidak cukup dibangun melalui slogan. Ia membutuhkan perjumpaan.
Seseorang sulit memahami orang lain jika keduanya terus hidup dalam ruang yang terpisah. Persaudaraan tidak tumbuh dari prasangka, melainkan dari perkenalan, dialog, dan pengalaman hidup bersama.
Gagasan yang lahir dalam pengasingan itu kemudian berkembang setelah Revolusi Islam Iran. Ketika Khamenei menjadi pemimpin Iran, gagasan mendekatkan berbagai mazhab Islam memperoleh ruang yang lebih luas dalam kebijakan kelembagaan. Salah satu wujudnya adalah pembentukan Majma Jahani Taqrib Bayna al-Madhahib al-Islamiyah, atau Forum Internasional Pendekatan Antarmazhab Islam.
Tujuannya bukan menghapus perbedaan mazhab. Persatuan tidak berarti semua Muslim harus memiliki seluruh pandangan teologis yang sama. Persatuan justru berarti mampu menemukan titik temu di tengah perbedaan.
Nabi Muhammad saw adalah salah satu titik temu terbesar itu.
Ketika umat Islam memperingati kelahiran Nabi dalam satu rangkaian kegiatan, perhatian diarahkan kembali kepada sosok yang menjadi pusat kecintaan seluruh umat. Perbedaan tentang tanggal kelahiran tidak lagi menjadi alasan untuk menjauh. Sebaliknya, rentang 12 hingga 17 Rabiulawal dapat menjadi ruang untuk memperpanjang perayaan dan memperluas persaudaraan.
Dari sini, Pekan Persatuan dapat dibaca bukan sekadar sebagai agenda tahunan. Ia merupakan sebuah gagasan politik, sosial, dan spiritual tentang bagaimana umat Islam menghadapi perbedaan.
Dunia Islam memiliki sejarah panjang mengenai perbedaan mazhab. Perbedaan tersebut tidak selalu menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika perbedaan berubah menjadi permusuhan, ketika identitas mazhab digunakan untuk saling menghina, atau ketika umat lupa bahwa mereka berbagi kitab, nabi, kiblat, dan banyak nilai yang sama.
Karena itu, persatuan membutuhkan kedewasaan.
Ia tidak menuntut seseorang meninggalkan keyakinannya. Ia menuntut kemampuan untuk menghormati keyakinan orang lain tanpa kehilangan identitas sendiri.
Dalam konteks inilah pengalaman Khamenei di Iran Syahr menjadi menarik. Gagasan Pekan Persatuan tidak lahir dari perdebatan abstrak tentang teori ukhuwah. Ia lahir dari sebuah tempat di mana masyarakat Sunni dan Syiah hidup berdampingan dan membutuhkan jembatan sosial di antara mereka.
Mungkin karena itu pula gagasan tersebut bertahan.
Sebuah persatuan yang hanya dibangun dari pidato mudah menguap ketika acara selesai. Tetapi persatuan yang tumbuh dari perjumpaan manusia memiliki akar yang lebih dalam. Ia terbentuk ketika orang-orang saling mengenal, saling membantu, duduk bersama, dan menemukan bahwa perbedaan yang selama ini tampak besar ternyata tidak selalu menghalangi mereka untuk menjadi saudara.
Pekan Persatuan akhirnya menjadi pengingat bahwa umat Islam tidak harus menunggu semua perbedaan selesai untuk dapat berjalan bersama.
Justru karena perbedaan itu ada, diperlukan ruang untuk saling mendekat.
Dan mungkin itulah pelajaran paling penting dari sejarah kelahirannya: persatuan tidak berarti menghapus perbedaan, melainkan mengubah perbedaan agar tidak menjadi alasan untuk saling bermusuhan.
Sebuah gagasan yang pernah dirancang di tengah pengasingan akhirnya tumbuh menjadi agenda persatuan yang dikenal luas. Dari sebuah kota yang jauh dari pusat kekuasaan, lahir pesan yang sederhana tetapi tetap relevan hingga hari ini: umat Islam mungkin berbeda dalam banyak hal, tetapi mereka tidak harus menjadi asing satu sama lain.







