KHAMENEI.ID –
Tafsir Imam Khamenei dalam Surah Al-Baqarah ayat 22, melanjutkan pembahasan sebelumnya, namun kali ini titik tekannya adalah bagaimana kaum musyrik Quraisy sebenarnya mengakui Allah swt sebagai Pencipta, tetapi menyerahkan pengaturan alam kepada berhala-berhala. Dari sini pembahasan bergerak kepada makna tauhid rububiyah dan relevansinya dengan ketaatan manusia kepada selain Allah swt.
Ada bentuk kesyirikan yang lahir bukan karena manusia sama sekali tidak mengenal Tuhan. Justru sebaliknya: seseorang bisa mengakui Allah swt sebagai Pencipta, tetapi pada saat yang sama meyakini bahwa ada kekuatan lain yang ikut mengatur kehidupan. Di situlah persoalan tauhid (Tauhid Rububi) menjadi lebih dalam. Bukan hanya soal siapa yang menciptakan, tetapi juga siapa yang memiliki kuasa atas keberlangsungan ciptaan.
Surah Al-Baqarah ayat 22 ditutup dengan sebuah peringatan:
فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Maka janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”
Kata-kata وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ — “padahal kamu mengetahui” — menjadi penting. Seruan ini bukan hanya ditujukan kepada manusia yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang Tuhan. Ia juga berbicara kepada mereka yang telah mengetahui bahwa Allah swt adalah pencipta alam.
Pada masa Rasulullah saw., kaum Quraisy sendiri bukan kelompok yang sama sekali tidak mengenal Allah swt. Mereka mengakui Allah sebagai Pencipta. Persoalannya, pengakuan itu tidak membawa mereka kepada pengesaan Allah dalam pengaturan kehidupan.
Mereka membayangkan bahwa setelah menciptakan alam, Allah swt menyerahkan pengaturannya kepada berbagai sesembahan yang mereka yakini memiliki kedudukan tertentu. Di sekitar Ka’bah terdapat nama-nama seperti Latta, Manat, dan Uzza. Berhala-berhala itu ditempatkan sebagai perantara atau kekuatan yang menurut keyakinan mereka memiliki hubungan dengan pengaturan alam.
Gambaran semacam ini, dalam penjelasan Imam Ali Khamenei qs, dapat dianalogikan secara sederhana seperti seorang guru yang mendirikan sebuah tempat usaha, kemudian menyerahkan pengelolaannya kepada murid-muridnya dan tidak lagi mengurusnya. Begitulah kira-kira gambaran yang hidup dalam pikiran kaum musyrik: Allah swt menciptakan alam, lalu pengaturan alam diserahkan kepada kekuatan-kekuatan lain.
Namun penciptaan Allah tidak berlangsung seperti itu.
Allah swt tidak menciptakan alam seperti seseorang yang membuat sebuah benda, kemudian meninggalkannya begitu saja. Kehidupan seluruh alam tetap bergantung pada kehendak dan pemeliharaan-Nya.
Dalam kehidupan sehari-hari saja, manusia dapat melihat bahwa sesuatu yang ada dalam pikirannya bergantung kepada perhatian dan keberadaan pikirannya. Sebuah gambaran atau khayalan muncul dalam benak karena manusia membayangkannya. Ketika perhatian terhadapnya terputus, gambaran itu pun tidak lagi memiliki keberadaan seperti sebelumnya.
Tentu perumpamaan ini sangat terbatas. Tetapi ia dapat membantu menggambarkan bahwa keberadaan makhluk tidak berdiri sendiri dan terlepas dari Penciptanya. Seluruh alam bergantung kepada Allah dalam keberadaannya dan keberlangsungannya.
Karena itu, tidak tepat membayangkan Allah sebagai seseorang yang menciptakan alam, menetapkan sejumlah hukum, lalu meninggalkannya seperti sebuah jam yang telah diputar dan kemudian dibiarkan berjalan sendiri.
Alam tidak pernah berada di luar jangkauan kehendak Allah.
Di sinilah kesalahan mendasar kaum musyrik: mereka memisahkan antara penciptaan dan pengaturan. Mereka mengakui Allah sebagai Pencipta, tetapi kemudian memberikan peran pengaturan kepada selain-Nya.
Padahal jika seluruh keberadaan berasal dari Allah dan kehidupan makhluk bergantung kepada-Nya, tidak ada alasan untuk memberikan kedudukan penghambaan kepada sesuatu yang berada di dalam ciptaan itu sendiri.
Karena itu, ayat tersebut tidak berhenti pada kalimat tentang penciptaan bumi, langit, air, dan tumbuh-tumbuhan. Setelah menyebut semua itu, Allah swt berfirman:
فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا
“Janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah.”
Seolah-olah manusia diajak mengikuti rangkaian berpikir yang sederhana: lihatlah dunia yang menjadi tempat hidupmu; lihatlah air yang menjadi sumber kehidupan; lihatlah tumbuh-tumbuhan yang menjadi rezekimu; lihatlah seluruh sistem kehidupan yang memungkinkan keberadaanmu. Semua itu menunjuk kepada satu sumber.
Lalu, jika sumber itu telah diketahui, mengapa manusia mencari tandingan?
Pertanyaan ini tidak hanya berlaku bagi manusia yang hidup pada masa turunnya Al-Qur’an. Frasa وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ memiliki cakupan yang jauh lebih luas. Ia berbicara kepada manusia yang memiliki pengetahuan dan kesadaran tentang Tuhan di sepanjang sejarah.
Seakan-akan setelah berlalu berabad-abad, ayat ini tetap datang kepada manusia dengan pertanyaan yang sama: jika engkau telah mengetahui, lalu mengapa masih menyembah selain Allah?
Di sinilah persoalan tauhid tidak berhenti pada pengakuan intelektual. Seseorang bisa mengatakan bahwa Allah adalah Tuhan, tetapi pertanyaan berikutnya adalah: siapa yang benar-benar ia taati?
Sebab “selain Allah” memiliki cakupan yang luas.
Ketika manusia menyerahkan dirinya kepada sesuatu selain Allah, menjadikan kehendak selain-Nya sebagai ukuran mutlak, atau memberikan kepatuhan yang seharusnya hanya menjadi milik Allah, persoalannya kembali kepada pertanyaan yang sama: atas dasar apa sesuatu selain Allah memperoleh kedudukan tersebut?
Manusia mungkin tunduk kepada kekuasaan. Ia mungkin mengikuti pengaruh seseorang. Ia mungkin menjadikan kelompok, kepentingan, tradisi, hawa nafsu, atau kekuatan duniawi sebagai penentu arah hidupnya. Namun semua itu tetap merupakan sesuatu yang terbatas.
Yang menciptakan manusia bukan mereka. Yang menciptakan bumi bukan mereka. Yang menurunkan hujan bukan mereka. Yang menghadirkan kehidupan bukan mereka.
Karena itu, pengetahuan tentang Allah semestinya membawa konsekuensi dalam kehidupan manusia. Mengetahui Allah sebagai Pencipta tidak cukup apabila kehidupan justru diarahkan kepada ketundukan kepada selain-Nya.
Di sinilah peringatan ayat menjadi tajam: “padahal kamu mengetahui.”
Ketidaktahuan mungkin membuat seseorang tersesat. Tetapi ketika pengetahuan sudah hadir, manusia dituntut untuk mengambil sikap yang sesuai dengan pengetahuan itu.
Kaum Quraisy mengetahui Allah swt sebagai Pencipta, tetapi pengetahuan itu tidak menghalangi mereka menjadikan berhala sebagai tandingan. Al-Qur’an kemudian datang untuk memutus cara berpikir tersebut dari akarnya: Allah bukan hanya Pencipta yang berada jauh dari ciptaan. Keberadaan alam dan keberlangsungannya berada dalam ketergantungan kepada-Nya.
Maka tauhid bukan sekadar mengetahui bahwa Tuhan itu satu. Tauhid juga menuntut agar manusia tidak membagi-bagi ketundukan yang seharusnya diarahkan kepada-Nya.
Ayat 21 telah menyeru:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ
“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu.”
Ayat 22 melanjutkan argumen itu dengan menunjukkan jejak kekuasaan-Nya dalam seluruh kehidupan. Kemudian ia menutupnya dengan larangan membuat tandingan bagi Allah.
Dengan demikian, manusia diajak bergerak dari mengetahui siapa Pencipta, menuju menyadari siapa yang mengatur keberadaan, lalu sampai kepada ketundukan hanya kepada-Nya.
Pertanyaan Al-Qur’an akhirnya bukan sekadar: Apakah kamu percaya kepada Allah?
Pertanyaan yang lebih dalam adalah: Jika kamu sudah mengetahui Allah, kepada siapa sebenarnya kamu menyerahkan dirimu?







