KHAMENEI.ID– Ada ironi yang terus berulang dalam sejarah umat Islam: semakin sering persatuan dibicarakan, semakin mudah pula umat terpecah oleh nama, batas, dan identitas. Perbedaan mazhab menjadi jarak. Perbedaan bangsa menjadi kecurigaan. Bahkan penghormatan kepada agama-agama sebelumnya kadang dibaca sebagai alasan untuk menganggap semua keyakinan sama.
Padahal Al-Qur’an berbicara dengan cara yang jauh lebih tegas sekaligus lebih rumit.
Dalam sebuah pertemuan dengan para pejabat Iran dan peserta Konferensi Internasional Persatuan Islam, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs mengingatkan kembali satu hal yang kerap luput: Islam mengakui para nabi sebelum Muhammad saw, tetapi pengakuan itu bukan berarti Islam menerima gagasan bahwa semua agama memiliki kebenaran teologis yang sama.
Al-Qur’an berkata:
قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
“Berkatalah: Kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami, kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, dan kepada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami berserah diri kepada-Nya” (QS Al-Baqarah: 136).
Ayat itu memperlihatkan wajah Islam yang tidak lahir dari kebencian terhadap tradisi kenabian sebelumnya. Musa a.s dihormati. Isa a.s dihormati. Ibrahim a.s ditempatkan sebagai salah satu mata rantai penting dalam sejarah tauhid. Tetapi penghormatan tidak otomatis berarti relativisme.
Di titik ini, persoalan menjadi menarik. Sebab perbedaan keyakinan tidak harus berujung pada kebencian. Mengakui adanya perbedaan teologis tidak berarti seseorang harus kehilangan kemampuan untuk hidup berdampingan dengan orang yang berbeda.
Justru di sinilah ujian persatuan yang sebenarnya.
Persatuan Islam, karena itu, bukan proyek untuk menghapus semua perbedaan. Ia bukan tuntutan agar semua orang berpikir dengan cara yang sama. Yang hendak dipertemukan adalah sesuatu yang lebih mendasar: kesediaan untuk tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan saling menghancurkan.
Dalam konteks dunia Islam, persoalan ini menjadi semakin mendesak. Umat yang terbentang dari Afrika Utara hingga Asia Tenggara memiliki bahasa, sejarah, tradisi, mazhab, dan kepentingan politik yang berbeda. Batas negara bahkan sering kali lebih kuat daripada kesadaran sebagai bagian dari umat yang sama.
Padahal Nabi Muhammad sawvmemberikan teladan yang justru bergerak ke arah sebaliknya.
Al-Qur’an menggambarkan beliau sebagai sosok yang sangat peduli terhadap umatnya:
حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Amat menginginkan keselamatan bagi kalian; terhadap orang-orang beriman beliau penuh kasih sayang dan penyayang” (QS At-Taubah: 128)
Kata harish dalam ayat itu mengandung kesan tentang seseorang yang sungguh-sungguh menginginkan kebaikan bagi orang lain. Nabi saw bukan sekadar pemimpin yang mengatur masyarakat dari atas. Ia memikul kegelisahan terhadap nasib manusia.
Namun kasih sayang itu tidak membuat umat kehilangan keteguhan. Al-Qur’an juga menyebut kaum beriman sebagai:
أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
“Bersikap tegas terhadap orang-orang kafir dan saling berkasih sayang di antara mereka” (QS Al-Fath: 29).
Ayat ini sering dibaca hanya dari satu sisinya. Ketegasan terhadap pihak yang memusuhi lebih mudah dibicarakan daripada bagian yang sesungguhnya jauh lebih sulit: ruhamā’u bainahum saling berkasih sayang di antara sesama.
Padahal bagi umat yang terpecah, justru bagian kedua itulah pekerjaan rumah yang paling berat.
Kita dapat dengan mudah bersikap keras kepada pihak yang kita anggap sebagai musuh. Yang sulit adalah menjaga hati tetap lapang terhadap saudara sendiri yang berbeda pandangan. Kita bisa berdebat panjang tentang siapa yang paling benar, tetapi gagal membangun kemampuan untuk duduk bersama. Kita mudah tersinggung oleh perbedaan mazhab, sementara ancaman yang lebih besar; kemiskinan, ketidakadilan, keterbelakangan, manipulasi informasi, dan konflik politik, berjalan tanpa banyak perlawanan.
Dalam keadaan seperti itu, identitas perlahan berubah menjadi tembok.
Nama menjadi tembok. Mazhab menjadi tembok. Kebangsaan menjadi tembok. Bahkan batas geografis yang dibuat oleh sejarah politik modern dapat membuat dua masyarakat yang memiliki akar keagamaan sama memandang satu sama lain sebagai orang asing.
Namun jika ditarik lebih jauh, persatuan Islam yang dimaksud bukanlah persatuan yang naif. Ia tidak meminta umat menutup mata terhadap perbedaan. Ia justru menuntut kedewasaan untuk membedakan antara perbedaan dan permusuhan.
Tidak semua yang berbeda adalah musuh.
Dan tidak semua yang memakai nama yang sama otomatis menjadi saudara dalam tindakan.
Karena itu, memperingati kelahiran Nabi saw tidak cukup hanya dengan memperbanyak pujian kepadanya. Peringatan akan kehilangan makna jika berhenti pada upacara, slogan, dan retorika. Pertanyaan yang lebih sulit adalah: apa yang kita lakukan dengan ajaran yang ditinggalkan Nabi saw?
Jika Nabi saw datang membawa rahmat, mengapa umatnya begitu mudah saling mencurigai? Jika beliau mengajarkan persaudaraan, mengapa perbedaan kecil dapat berubah menjadi permusuhan besar? Jika persatuan merupakan salah satu kebutuhan mendesak umat, mengapa energi yang seharusnya digunakan untuk menghadapi ketidakadilan justru habis dalam pertengkaran di antara sesama?
Barangkali di situlah makna persatuan Islam menemukan bentuknya yang paling nyata.
Persatuan bukan sekadar berdiri dalam satu barisan ketika musuh datang. Persatuan dimulai dari kemampuan membersihkan hati dari kebencian yang tidak perlu. Ia tumbuh ketika batas geografis tidak lagi cukup kuat untuk menghapus rasa persaudaraan. Ia menjadi nyata ketika perbedaan tidak dipakai sebagai alasan untuk merendahkan.
Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari Nabi saw mungkin bukan bagaimana umat memenangkan perdebatan tentang dirinya, melainkan bagaimana umat belajar hidup dengan prinsip yang beliau bawa.
Sebab seorang nabi tidak diutus hanya untuk dikenang.
Ia diutus untuk mengubah manusia.
Dan jika hari ini umat Islam ingin benar-benar memperingati Nabi Muhammad saw, mungkin pertanyaan yang paling jujur bukan seberapa meriah kita menyebut namanya, melainkan seberapa jauh kita mampu menghadirkan rahmat, keteguhan, dan persaudaraan yang pernah ia ajarkan. Di tengah dunia yang semakin pandai membangun batas, persatuan mungkin bukan sekadar pilihan politik. Ia adalah ujian tentang apakah kita masih memahami arti menjadi umat.






