Menempuh Jalan Sebab Dalam Meminta Kepada Tuhan

KHAMENEI.ID – Ada saat ketika manusia merasa seluruh pintu tertutup. Ia membutuhkan pekerjaan, pertolongan, kesembuhan, jalan keluar dari utang, atau sekadar seseorang yang bersedia mengulurkan tangan. Dalam keadaan seperti itu, kita biasanya segera mencari sebab: menelepon seseorang, mengirim pesan, mendatangi kantor, mengajukan permohonan, atau mengerahkan segala kemampuan yang ada.

Itu bukan sesuatu yang keliru. Justru begitulah kehidupan bekerja. Tetapi ada satu hal yang sering terlewat: di balik semua sebab yang kita kejar, kepada siapa sesungguhnya kita menggantungkan harapan?

Nabi Muhammad saw pernah menyampaikan sebuah nasihat yang singkat, tetapi menyimpan pandangan yang luas tentang bagaimana manusia semestinya meminta dan berusaha:

الحوائجُ الی اللّه وأسبابها فَاطْلُبوها الی اللّه بهم فمن أعطاکموها فخذوها عن اللّه بصبر

“Berbagai kebutuhan itu berasal dari Allah, demikian pula sebab-sebab untuk memenuhinya. Maka mintalah kebutuhan itu kepada Allah melalui sebab-sebabnya. Jika seseorang memberikannya kepada kalian, terimalah itu dari Allah dengan kesabaran”

Nasihat ini menarik karena tidak menyuruh manusia meninggalkan sebab. Sebaliknya, manusia diminta mencarinya. Namun pada saat yang sama, sebab tidak boleh membuat mata kita berhenti pada sebab itu sendiri.

Di titik ini, ada sesuatu yang halus dalam cara pandang tersebut. Banyak kebutuhan manusia memang dipenuhi melalui manusia lain. Kita memperoleh pekerjaan melalui seseorang, pertolongan melalui tangan seseorang, ilmu melalui seorang guru, makanan melalui orang yang bekerja menjualnya, bahkan kabar baik pun sering datang melalui perantaraan orang lain. Kehidupan tersusun dari hubungan sebab-akibat yang tidak sederhana.

Karena itu, meminta kepada Tuhan bukan berarti menolak manusia.

Seseorang yang sedang mencari pekerjaan tetap harus mengirim lamaran. Orang yang membutuhkan pertolongan tetap perlu mengetuk pintu orang lain. Orang yang ingin menyelesaikan persoalan tetap harus berbicara, berunding, bekerja, dan mengambil langkah nyata. Doa tidak menggantikan ikhtiar.

Baca Juga  Takdir Sebuah Bangsa Ditulis oleh Mereka yang Bertahan 

Namun jika ditarik lebih jauh, ada perbedaan besar antara menggunakan sebab dan menggantungkan hati sepenuhnya kepada sebab.

Sebab adalah jalan. Ia bukan pemilik akhir dari apa yang kita peroleh.

Ketika seseorang mendapatkan pekerjaan melalui seorang kenalan, misalnya, ia boleh berterima kasih kepada orang tersebut. Tetapi rasa terima kasih itu tidak harus membuatnya lupa bahwa manusia hanyalah perantara. Demikian pula ketika pertolongan datang dari tangan seseorang, kita tidak perlu mengurangi penghargaan kepada orang itu. Justru kita dapat melihat kebaikan tersebut sebagai sesuatu yang sampai kepada kita melalui manusia, tetapi sumber karunia tetap lebih jauh daripada manusia itu sendiri.

Inilah keseimbangan yang sering sulit dijaga.

Ada orang yang begitu sibuk mencari sebab sampai lupa kepada Tuhan. Seluruh harapannya ditumpukan pada koneksi, jabatan, uang, kemampuan orang lain, atau keadaan yang dianggap menguntungkan. Ketika sebab itu gagal, harapannya ikut runtuh. Seolah-olah bersama tertutupnya satu pintu, seluruh kemungkinan kehidupan ikut berakhir.

Sebaliknya, ada pula sikap yang tampaknya religius tetapi diam-diam mengabaikan hukum sebab-akibat. Ia ingin sesuatu, lalu hanya menunggu tanpa melakukan apa-apa. Ia meminta jalan keluar, tetapi tidak mau menempuh jalan. Ia berharap pintu terbuka, tetapi tidak pernah mencoba mengetuknya.

Keduanya sama-sama tidak utuh.

Meminta kepada Tuhan berarti juga memahami bagaimana Tuhan menghadirkan banyak pemberian melalui sebab-sebab yang tersedia di dunia. Karena itu, doa dan ikhtiar bukan dua pilihan yang harus dipertentangkan. Keduanya berjalan bersama.

Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan lain yang tidak kalah penting: kesabaran.

Hadis tersebut tidak hanya berbicara tentang bagaimana memperoleh kebutuhan, tetapi juga bagaimana menerimanya ketika kebutuhan itu akhirnya terpenuhi. “Terimalah dari Allah dengan kesabaran.” Kalimat ini mengandung kesadaran bahwa tidak semua pemberian datang dalam bentuk yang kita bayangkan, tidak semua pertolongan hadir secepat yang kita inginkan, dan tidak semua jalan yang kita tempuh langsung menghasilkan apa yang kita harapkan.

Baca Juga  Cahaya Al-Qur'an yang Mengubah Peradaban: Mengapa Umat Islam Harus Kembali kepada Kitabullah

Kesabaran, dengan demikian, bukan sekadar menunggu.

Ia adalah kemampuan untuk tetap menempuh sebab tanpa kehilangan kepercayaan kepada sumbernya. Ada waktu ketika kita harus bergerak. Ada waktu ketika kita harus menunggu. Ada saat ketika satu pintu terbuka, tetapi ada pula saat ketika kita dipaksa menerima bahwa pintu itu belum terbuka.

Dalam kehidupan modern, persoalan ini justru terasa semakin dekat. Kita hidup dalam zaman yang membuat manusia percaya bahwa segala sesuatu dapat dikendalikan: jaringan diperluas, peluang dihitung, strategi disusun, algoritma dipelajari, dan hasil diukur. Semua itu berguna. Tetapi semakin banyak alat yang kita miliki, semakin besar pula godaan untuk mengira bahwa hidup sepenuhnya berada dalam genggaman kita.

Padahal tidak.

Manusia dapat merencanakan sebab, tetapi tidak sepenuhnya menguasai hasil. Ia dapat mengetuk banyak pintu, tetapi tidak menentukan pintu mana yang akhirnya terbuka. Ia dapat meminta pertolongan kepada banyak orang, tetapi tidak dapat memaksa hati manusia untuk selalu menolongnya.

Mungkin karena itu, nasihat Nabi saw tersebut terasa seperti ajakan untuk mengembalikan keseimbangan dalam diri: jangan meninggalkan dunia demi doa, tetapi jangan pula kehilangan Tuhan ketika sibuk mengejar dunia.

Kita tetap perlu berjalan. Tetap perlu mengetuk pintu. Tetap perlu meminta bantuan. Tetap perlu bekerja dengan sungguh-sungguh. Tetapi di balik semua gerak itu, ada kesadaran bahwa manusia hanya sedang menempuh sebab.

Sebab dapat menjadi jalan datangnya rezeki, pertolongan, dan kemudahan. Namun jangan sampai jalan membuat kita lupa kepada siapa tujuan akhirnya.

Sebab, pada akhirnya, mungkin yang paling melelahkan bukanlah banyaknya kebutuhan manusia, melainkan ketika ia memikul semuanya seolah-olah dirinya sendirilah yang harus memastikan seluruh kebutuhan itu terpenuhi.

Baca Juga  Jihad di Jalan Allah: Pintu Surga yang Dibuka untuk Para Pejuang

Ada ketenangan tertentu ketika seseorang tetap berusaha sekuat tenaga, tetapi hatinya tahu: ia sedang mengetuk pintu-pintu dunia sambil tetap berharap kepada Pemilik semua pintu.

Bagikan:
Terkait
Komentar