Tafsir Surah Alfatihah Oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs (Part 3)

Tafsir Ayat مَلِکِ یَومِ الدّین

Setelah ayat-ayat awal Surah Al-Fatihah menuntun kita mengenal Tuhan sebagai Rabb semesta alam dan sumber kasih sayang yang tak terbatas, Al-Qur’an kemudian membawa kesadaran kita melangkah lebih dalam, menuju satu kenyataan yang tak terelakkan: “مٰلِکِ یَومِ الدّین” — Pemilik Hari Pembalasan. Di titik ini, hubungan manusia dengan Tuhan tidak lagi hanya dipahami dalam bingkai rahmat, tetapi juga dalam kerangka tanggung jawab dan konsekuensi; bahwa seluruh perjalanan hidup ini tidak berhenti pada dunia yang fana, melainkan bermuara pada satu fase penentuan, di mana segala amal akan dihadapkan pada perhitungan yang adil, dan segala ilusi kepemilikan serta kekuasaan manusia akan runtuh di hadapan otoritas mutlak Sang Pencipta. 

 

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”

Dalam pembahasan Surah Al-Fatihah, kita sampai pada kalimat: «مَلِکِ یَومِ الدّین».

Di sini terdapat dua qira’at (cara bacaan) yang terkenal:

  • yang pertama: «مالِکِ یَومِ الدّین»
  • yang kedua: «مَلِکِ یَومِ الدّین»

Saya akan menyampaikan sedikit penjelasan tentang perbedaan qira’at dalam Al-Qur’an:

Pada umumnya, kasus-kasus di mana para qari terkenal (tujuh qari utama) berbeda dalam membaca teks Al-Qur’an—yang jumlahnya juga tidak banyak—perbedaan itu terletak pada cara membaca satu kata, bukan pada perubahan makna.

Dalam tulisan Arab klasik—yang sampai sekarang juga digunakan dalam banyak mushaf di negara-negara Islam—huruf alif di tengah kata pada sebagian kata (bukan semua) tidak ditulis, dan hanya ditandai dengan alif kecil (tanda di atas huruf sebelumnya).

Misalnya kata «مالِک» ditulis «مٰلِک», dengan alif kecil di atas huruf mim, agar diketahui bahwa yang dimaksud adalah “maalik”, bukan “malik”. Tanda ini sekarang biasanya sudah dituliskan.

Dalam banyak kata Qur’ani juga demikian: alif di tengah tidak selalu ditulis. Bahkan tidak ada kaidah yang sepenuhnya ketat dalam hal ini. Dalam kitab-kitab khusus tentang rasm (penulisan) Al-Qur’an—karena kaum Muslim sangat memperhatikan semua aspek Al-Qur’an—terdapat pembahasan rinci mengenai hal ini.

Sebagai contoh, dalam kitab Al-Itqan karya Suyuthi terdapat pembahasan panjang tentang rasm Al-Qur’an, termasuk tentang di mana huruf alif dihilangkan dalam tulisan (bukan dalam bacaan, karena tetap dibaca).

Tampaknya perbedaan pendapat dalam Surah Al-Hamd antara «مٰلِکِ یَومِ الدّین» dan «مَلِکِ یَومِ الدّین» berasal dari persoalan ini: kata tersebut ditulis tanpa alif, sehingga sebagian membacanya “malik”, sementara yang lain mengatakan bahwa itu sebenarnya “maalik”.

Kedua qira’at ini, menurut fatwa para ulama, sama-sama sah, dan dalam makna juga tidak banyak berbeda—sebagaimana akan dijelaskan.

Ayat ini berbunyi:
«مٰلِکِ یَومِ الدّین»

Bacaan “maalik” mungkin lebih terkenal, dan dari satu sisi kita juga dapat mengutamakannya, apalagi dalam banyak mushaf Al-Qur’an sekarang ditulis dengan alif.

Sebagai catatan: meskipun asal perbedaan qira’at terkait dengan tidak ditulisnya alif, saat ini kata «مٰلِک» dalam mushaf ditulis lengkap dengan alif, bukan «ملک».

Perbedaan qira’at dalam Al-Qur’an umumnya seperti ini. Sangat jarang terjadi perubahan pada huruf-huruf kata. Bahkan jika terjadi perubahan huruf, maknanya tetap sama.

Sebagai contoh:

«إِن جآءَکُم فاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَیَّنوا»
“Jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah (periksalah dengan cermat).” (QS. Al-Hujurat: 6)

Baca Juga  Pesan Uhud: Bukan Musuh yang Terlalu Besar, Tetapi Kita yang Terlalu Merasa Kecil

Bacaan yang terkenal adalah «فَتَبَیَّنوا», namun ada juga qira’at «فَتَثَبَّتوا».

Jika diperhatikan, huruf-hurufnya berbeda, tetapi karena bentuk titiknya mirip, maka muncul dua bacaan ini.

Namun maknanya sama:

  • «تَبَیُّن» (tabayyun) = meneliti, memastikan
  • «تَثَبُّت» (tatsabbut) = meneliti, memastikan

Keduanya berarti: lakukan verifikasi atau penelitian.

Dengan demikian, perbedaan qira’at dalam Al-Qur’an jarang sekali mengubah huruf, dan kalaupun berubah, maknanya tetap sama.

Sebagian besar perbedaan qira’at sebenarnya adalah perbedaan dialek (lahjah), seperti dalam bahasa Persia atau Indonesia ketika satu kata diucapkan dengan cara berbeda di berbagai daerah, tetapi tetap satu kata yang sama.

Para qari terkenal memiliki riwayat bacaan yang berbeda-beda, yang secara keseluruhan dikenal sebagai empat belas riwayat. Seperti yang disebutkan dalam syair Hafiz:

«قرآن ز بر بخوانم با چهارده روایت»
“Aku menghafal Al-Qur’an dengan empat belas riwayat.”

Namun semua riwayat ini tidak menimbulkan perbedaan makna dalam Al-Qur’an.

Kembali ke ayat ini, terdapat dua bacaan:

  • «مالِکِ یَومِ الدّین» (Maaliki yaumid-din)
  • «مَلِکِ یَومِ الدّین» (Maliki yaumid-din)

Jika dibaca “maalik”, berasal dari akar kata milk, artinya:
pemilik, yang memiliki

Jika dibaca “malik”, berasal dari akar kata mulk, artinya:
raja, penguasa, penguasa tertinggi

Kita melihat bahwa keduanya tidak berbeda secara makna:

  • Jika dikatakan Allah adalah “Maalik (Pemilik) Hari Pembalasan”, berarti seluruh urusan hari kiamat berada dalam kepemilikan dan kekuasaan-Nya.
  • Jika dikatakan Allah adalah “Malik (Raja/Penguasa) Hari Pembalasan”, berarti seluruh urusan hari kiamat berada di bawah kekuasaan dan otoritas-Nya.

Dengan demikian, dalam kedua bacaan tersebut, maknanya tetap sama:
segala sesuatu pada Hari Pembalasan sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Allah.

Maka, «مٰلِکِ یَومِ الدّین» berarti: Pemilik dan Penguasa Hari Pembalasan.

Yang dimaksud dengan “Hari Pembalasan” adalah hari kiamat. Jelas bahwa kata “hari” di sini bukan berarti rentang waktu antara terbit dan terbenamnya matahari, sebagaimana makna “hari” dalam kehidupan dunia dan dalam sistem tata surya.

Ketika di dunia kita mengatakan “satu hari”, maksudnya adalah waktu antara terbit matahari hingga terbenam matahari. Namun pada hari kiamat, bukan demikian. Di sana:

«یَومَ تُبَدَّلُ الاَرضُ غَیرَ الاَرض»
“(Yaitu) pada hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain.” (QS. Ibrahim: 48)

Bumi memiliki keadaan lain, langit memiliki keadaan lain, dan aturan-aturan yang mengatur penciptaan berubah bentuk. Keadaan di sana tidak seperti keadaan yang kita kenal di dunia.

Jadi “hari” di sini berarti masa, periode, atau fase. Bahkan tentang dunia pun kita menggunakan istilah “hari” dalam arti ini, sebagaimana hadis:

«اَلیَومَ عَمَلٌ وَ لا حِساب وَ غَدًا حِسابٌ وَ لا عَمَل»
“Hari ini adalah waktu beramal tanpa perhitungan, dan besok adalah waktu perhitungan tanpa amal.”

Artinya: apa yang Anda lakukan hari ini di dunia adalah amal Anda, dan belum ada perhitungan menyeluruh atas amal tersebut menurut ukuran Ilahi. Perhitungan di dunia itu terbatas.

Sebagian amal pribadi—bahkan yang bersifat batin seperti lintasan pikiran, pemikiran, dan keputusan—dapat mendatangkan pahala; sebagian lainnya dapat mendatangkan hukuman; dan sebagian dapat menyebabkan kesempurnaan manusia.

Bahkan pikiran manusia bisa menjadi sebab kemajuan rohani atau sebaliknya, sebab kemunduran. Ada orang-orang besar yang menjaga diri dari pikiran-pikiran yang tidak pantas; mereka tidak membiarkan mata melihat atau telinga mendengar hal-hal tertentu, demi menjaga hati dan pikiran dari pengaruh buruk.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Fatihah Oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamaenei qs (Part 1)

Jadi, bahkan pikiran manusia pun memiliki dampak:

  • bisa menyempurnakan manusia
  • bisa merendahkan manusia

Semua ini memiliki perhitungan.

Perhitungan di dunia terbatas, sedangkan perhitungan di akhirat adalah bahwa semua yang Anda lakukan di sini—yang membentuk kepribadian Anda—akan Anda lihat hasilnya di sana.

Banyak amal di dunia tidak diketahui oleh siapa pun; bahkan pengamat yang teliti pun tidak menyadarinya. Hanya Allah yang mengetahui semuanya:

«یَعلَمُ خآئِنَةَ الاَعیُنِ وَ ما تُخفِى الصُّدور»
“Dia mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan dalam dada.” (QS. Ghafir: 19)

Semua yang tidak diperhitungkan di dunia, akan diperhitungkan di akhirat.

Bahkan perhitungan dunia sering tidak sempurna dan tidak adil—terutama terhadap perbuatan orang-orang yang memiliki kekuasaan. Dalam berbagai tingkatan—di rumah, di sekolah, di kantor, bahkan di tingkat negara dan dunia—orang-orang yang berkuasa sering melakukan banyak hal tanpa pertanggungjawaban.

Namun semua itu akan diperhitungkan pada hari kiamat.

Di sana tidak ada lagi amal, hanya perhitungan. Manusia tidak dapat menambah sekecil apa pun pada timbangan amalnya.

Hadis tadi menjelaskan bahwa dunia dan akhirat masing-masing diibaratkan sebagai “hari”:

  • hari ini (dunia): waktu beramal
  • hari esok (akhirat): waktu perhitungan

“Hari dunia” bisa berlangsung 60, 70, atau 80 tahun—seluruh umur manusia. Maka “hari kiamat” juga berarti satu fase dari kehidupan manusia, bukan hari dalam arti 24 jam.

“Yawm ad-din” berarti Hari Pembalasan—kata “din” secara bahasa berarti “balasan”. Ini adalah satu fase kehidupan manusia.

Bahkan mungkin “Hari Pembalasan” tidak hanya terbatas pada saat perhitungan, tetapi juga mencakup fase setelahnya—yakni surga dan neraka—karena di sana juga merupakan hasil dari pembalasan. Dan di semua itu, Allah adalah Pemiliknya.

Maka, «مٰلِکِ یَومِ الدّین» berarti: Allah adalah Pemilik dan Penguasa fase kehidupan manusia di mana tidak ada lagi amal, melainkan hanya balasan dari apa yang telah dilakukan di dunia.

Di sana, bahkan kepemilikan semu yang kita miliki di dunia pun tidak ada lagi.

Di dunia, kita memiliki sesuatu yang disebut kepemilikan, tetapi itu bukan kepemilikan hakiki—melainkan kepemilikan simbolis dan terbatas. Bahkan kita tidak memiliki tubuh kita sendiri.

Bagaimana kita bisa disebut pemilik tubuh, sementara tubuh ini berubah tanpa kehendak kita—sakit, rusak, dan hancur di luar kendali kita? Kita tidak memiliki kuasa penuh atas tubuh kita.

Allah berfirman:

«خُلِقَ الاِنسانُ ضَعیفًا»
“Manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisa: 28)

Memang, manusia diberi kemampuan terbatas seperti ilmu dan kehendak, tetapi semua itu berada di bawah kekuasaan Allah:

«وَ ما تَشآءونَ إِلّا أَن یَشآءَ اللهُ رَبُّ العالَمین»
“Dan kalian tidak dapat menghendaki kecuali jika Allah, Tuhan semesta alam, menghendaki.” (QS. At-Takwir: 29)

Di dunia, kita menganggap sesuatu sebagai milik kita—pakaian, harta, dan lain-lain—bahkan kita membelanya, terkadang dengan cara yang tidak benar. Padahal kepemilikan itu sangat lemah.

Pada hari kiamat, kepemilikan semu ini juga hilang. Bahkan anggota tubuh manusia akan bersaksi:

(merujuk pada ayat-ayat Al-Qur’an tentang kesaksian anggota tubuh)

Semua peristiwa di sana berada di luar kendali manusia.

Baca Juga  Mengapa Rasulullah Menekankan Kesempurnaan dalam Pekerjaan yang Tampak Sederhana? 

Hari kiamat adalah hari di mana semua potensi manusia menjadi nyata. Apa yang kita kembangkan dalam diri kita di dunia akan tampak nyata di sana.

Sebagaimana dikatakan:

ای دریده پوستین یوسفان
گرگ برخیزی از این خواب گران
“Wahai yang telah merobek jubah Yusuf, engkau akan bangkit dari tidur panjang ini sebagai serigala.”

Orang yang berperilaku seperti serigala di dunia, di sana akan menjadi serigala. Orang yang menumbuhkan sifat buruk, akan menjadi perwujudan sifat itu. Dan orang yang berusaha menuju kesempurnaan, akan menjadi perwujudan dari usaha tersebut.

Sebagian manusia menjadi cahaya murni, sebagian menjadi kegelapan murni.

Sebagian bangkit sebagai manusia, sebagian sebagai hewan.

Hari kiamat adalah hari realisasi dari semua potensi kita. Oleh karena itu, setiap detik dan setiap bagian dari kehidupan manusia memiliki perhitungan.

Allah berfirman:

«فَمَن یَعمَل مِثقالَ ذَرَّةٍ خَیرًا یَرَه»
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya.”

«وَ مَن یَعمَل مِثقالَ ذَرَّةٍ شَرًّا یَرَه»
“Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8)

“Zarrah” adalah partikel sangat kecil—seperti debu yang tampak dalam cahaya matahari. Bahkan amal sekecil itu akan terlihat.

Hari kiamat adalah pemandangan yang sangat menakjubkan. Jika manusia benar-benar memahaminya, maka seluruh kehidupannya akan tertata dengan benar.

Semua amal tersembunyi akan tampak nyata dan menjadi bagian dari kepribadian dan nasib kita.

Bahkan waktu-waktu yang kita sia-siakan akan menjadi sumber penyesalan. Salah satu nama hari kiamat adalah:

«یَومَ الحَسرَة» (Hari Penyesalan)

Allah berfirman:

«وَ أَنذِرهُم یَومَ الحَسرَةِ إِذ قُضِیَ الأَمر»
“Berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, ketika segala perkara telah diputuskan.” (QS. Maryam: 39)

Pada saat itu, manusia meminta kesempatan kembali ke dunia, tetapi dijawab:

«أَوَ لَم نُعَمِّرکُم…»
“Bukankah Kami telah memberi kalian umur (yang cukup)?” (QS. Fatir: 37)

Artinya: bukankah sudah diberikan kesempatan yang cukup untuk beramal?

Maka, kesempatan yang ada harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Bagaimanapun, “مٰلِکِ یَومِ الدّین” (Mālik Yawmid-Dīn) merupakan bagian yang sangat besar dari pengetahuan (ma‘rifat) Islam. Jika Anda membuka Al-Qur’an, hampir tidak ada satu surah pun yang tidak memuat pembahasan, peringatan, atau penjelasan tentang “یوم الدّین” (Hari Pembalasan / Hari Kiamat).

Dalam satu kalimat singkat di Surah Al-Fatihah disebutkan:
مٰلِکِ یَومِ الدّین
“Pemilik dan Penguasa Hari Pembalasan.”

Artinya, Tuhan yang Anda puji dan syukuri itu adalah pemilik, penguasa, dan pengendali Hari Pembalasan; segala sesuatu berada dalam kekuasaan-Nya.

Kalimat ini juga memiliki dampak psikologis yang sangat penting. Jika seseorang mengucapkan “مٰلِکِ یَومِ الدّین” dengan kesadaran, hal itu akan memberi pengaruh besar pada jiwanya. Karena semua perbuatan manusia dilakukan demi hasil dan akibat akhirnya. Di sana (Hari Pembalasan), ada satu tempat di mana tidak ada seorang pun memiliki kuasa apa pun; tidak ada yang berkuasa kecuali Allah. Maka pekerjaan harus dilakukan karena Allah agar manusia dapat memperoleh hasilnya.

Tafsir Surah Al-Fatihah Oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamaenei qs (Part 1)

Perempuan Iran dan Perang Ramadan

Mengenal Konsep Wilayat Faqih (1): Dari Ide yang Menggerakkan Iran, ke Istilah yang Kita Abaikan

Bagikan:
Terkait
Komentar