KHAMENEI.ID – Bayangkan seorang penulis datang kepada para sastrawan terbaik di zamannya. Ia membawa sebuah teks, lalu berkata: Kalau kalian menganggap saya mengarangnya, buatlah satu karya seperti ini.
Bukan untuk dirinya sendiri. Bukan pula dengan kemampuan yang sama. Ia membolehkan mereka mengumpulkan seluruh orang yang dianggap paling ahli. Para penyair, ahli bahasa, orator, siapa saja yang dianggap mampu. Bahkan, jika satu karya terlalu berat, buat saja satu bagian yang pendek.
Tantangan semacam itu terdengar seperti perjudian besar. Sebab jika lawan berhasil, seluruh klaim akan runtuh.
Tetapi justru itulah yang dilakukan Al-Qur’an.
وَإِن كُنتُم فِي رَيبٍ مِمّا نَزَّلنا عَلىٰ عَبدِنا فَأتوا بِسورَةٍ مِن مِثلِهِ وَادعوا شُهَداءَكُم مِن دونِ اللَّهِ إِن كُنتُم صادِقينَ
“Dan jika kamu meragukan apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka buatlah satu surah semisal dengannya dan panggillah saksi-saksi kamu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”
(QS. Al-Baqarah: 23)
Di sini Al-Qur’an tidak berkata, “Percayalah karena Aku mengatakan demikian.” Ia justru berkata: kalau kalian ragu, silakan buktikan sebaliknya.
Dan tantangan itu bukan ditujukan kepada manusia yang tidak menguasai bahasa Arab. Mereka yang tidak mampu dipersilakan mencari orang yang paling mampu.
Pertanyaannya kemudian menjadi jauh lebih tajam: kalau Al-Qur’an benar-benar hanya produk manusia, mengapa tidak ada manusia yang mampu membuat satu surah yang sebanding dengannya?
Tantangan di hadapan para maestro bahasa
Kita perlu membayangkan kepada siapa tantangan itu pertama kali diarahkan.
Al-Qur’an tidak turun di tengah masyarakat yang miskin tradisi bahasa. Sebaliknya, ia muncul ketika sastra Arab sedang berada pada salah satu puncak kekuatannya.
Syair bukan barang eksklusif milik segelintir sastrawan. Masyarakat Arab ketika itu mengenal syair, membicarakannya, menikmatinya, dan menilai kualitasnya. Penyair dapat membacakan karyanya di tempat berkumpul, lalu orang-orang datang untuk mendengar dan menentukan mana yang lebih baik.
Ada tradisi Mu‘allaqat Sab‘, tujuh qasidah yang dipandang sebagai karya puncak sastra Arab pada masa itu. Nama-nama seperti Imru’ al-Qais dan ‘Antarah menjadi bagian dari sejarah panjang kehebatan bahasa Arab.
Dengan latar seperti itu, Al-Qur’an datang membawa sebuah klaim yang nyaris provokatif: jika ini buatan manusia, buatlah yang serupa.
Ini bukan tantangan kepada orang-orang yang tidak tahu bahasa.
Ini tantangan kepada para ahli bahasa di tengah masyarakat yang sangat menghargai kemampuan bahasa.
Dalam perumpamaan Imam Ali Khamenei, situasinya seperti jika para penyair besar sekaliber Sa‘di, Hafiz, Ferdowsi dan penyair-penyair terkemuka lainnya dikumpulkan, kemudian kepada mereka dikatakan: “Kalau kalian menganggap karya ini buatan manusia, silakan buat yang seperti itu.”
Jika orang-orang yang berada di puncak kemampuan justru tidak mampu melakukannya, persoalannya menjadi serius.
Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar keindahan sebuah teks.
Yang dipertaruhkan adalah asal-usulnya.
Bukan sekadar kalimat yang terdengar indah
Tantangan Al-Qur’an juga tidak berarti seseorang cukup membuat kalimat Arab yang indah, kemudian mengklaim telah berhasil.
Susunan bahasa Al-Qur’an memiliki karakter yang khas. Ia bukan puisi dengan pola metrum yang dikenal dalam tradisi syair, tetapi juga bukan prosa biasa. Di dalamnya terdapat keteraturan susunan, keserasian bunyi, irama dan cara pengungkapan yang tidak mudah ditempatkan dalam kategori sastra yang lazim.
Karena itu, Al-Qur’an bahkan membuka kemungkinan adanya penilai.
“Panggillah saksi-saksi kamu selain Allah.”
Artinya, seseorang tidak bisa menjadi hakim atas karyanya sendiri. Jika merasa telah menghasilkan sesuatu yang setara, hadirkan para ahli. Biarkan mereka menilai.
Di titik ini tantangannya menjadi semakin konkret.
Buat karyanya. Hadirkan ahli. Biarkan mereka memutuskan.
“Buat satu surah saja”
Al-Qur’an tidak langsung meminta sesuatu yang panjang.
Satu surah.
Dalam ayat lain, tantangan itu bahkan muncul dalam bentuk sepuluh surah. Di tempat lain lagi, mereka ditantang menghadirkan sebuah perkataan yang sebanding dengannya.
Al-Qur’an seperti terus menurunkan batas tantangan bagi orang yang mengingkari sumber ilahinya.
Namun pada akhirnya, batas itu berhenti pada satu persoalan: kemampuan manusia.
Ayat berikutnya bahkan mengatakannya dengan kalimat yang sangat tegas:
فَإِن لَم تَفعَلوا وَلَن تَفعَلوا
“Jika kamu tidak dapat membuatnya—dan kamu tidak akan pernah dapat membuatnya…”
Lalu ayat itu melanjutkan dengan peringatan tentang neraka.
Menariknya, Al-Qur’an tidak mengatakan sekadar “kalian belum mampu.” Ia mengatakan:
وَلَن تَفْعَلُوا — dan kalian tidak akan pernah mampu melakukannya.
Itulah bagian yang membuat tantangan ini bukan sekadar perdebatan sastra pada abad ketujuh.
Empat belas abad kemudian
Waktu ternyata menjadi bagian dari tantangan itu sendiri.
Empat belas abad telah berlalu.
Berbagai peradaban datang dan pergi. Bahasa berubah. Sastra berkembang. Manusia menemukan bentuk-bentuk baru dalam menulis dan berbicara. Ribuan buku lahir. Berbagai aliran sastra muncul. Teknologi memungkinkan manusia menghasilkan dan menyebarkan teks dalam jumlah yang tidak pernah dibayangkan manusia masa lalu.
Namun, menurut penjelasan Imam Ali Khamenei, tidak muncul karya yang berhasil mendapatkan pengakuan para ahli sebagai sesuatu yang benar-benar sebanding dengan Al-Qur’an.
Tentu pernah ada orang yang mencoba.
Ada yang menyusun satu atau beberapa ayat. Ada yang membuat surah tandingan. Ada pula yang kemudian mengatakan bahwa karyanya merupakan jawaban terhadap Al-Qur’an.
Tetapi klaim pribadi bukanlah akhir persoalan.
Jika seseorang mengaku telah menghasilkan sesuatu yang setara, ia membutuhkan penilaian dari orang lain yang memahami bidang tersebut. Di situlah persoalannya: di mana para saksi yang menyatakan bahwa karya tersebut benar-benar setara dengan Al-Qur’an?
Menurut Imam Khamenei, selama empat belas abad, tantangan itu tetap tidak mendapatkan jawaban yang dapat diterima sebagai pembuktian.
Dan justru rentang waktu itulah yang membuat persoalannya semakin menarik.
Sebab Al-Qur’an tidak mengatakan, “Cobalah sekali.”
Ia mengatakan, pada dasarnya: jika ini buatan manusia, tunjukkan bahwa manusia mampu membuatnya.
Keraguan atau sekadar mencari alasan?
Di sinilah pembahasan Imam Ali Khamenei bergerak dari persoalan bahasa menuju persoalan manusia.
Ada orang yang benar-benar ragu. Ia ingin tahu apakah Al-Qur’an benar-benar wahyu. Jika demikian, ia seharusnya bersedia mengikuti jalan pembuktian yang tersedia.
Tetapi ada pula keraguan yang tidak lahir dari pencarian kebenaran.
Kesombongan, ambisi, kepentingan pribadi, fanatisme kelompok, kecintaan kepada kedudukan dan keterikatan dunia dapat membuat seseorang menolak sesuatu bukan karena tidak ada bukti, melainkan karena ia tidak ingin menerima konsekuensi dari kebenaran tersebut.
Imam Khamenei mengutip sebuah syair:
هر درونی کو خیالاندیش شد
چون دلیل آری خیالش بیش شد
“Setiap batin yang telah dikuasai oleh khayalan, ketika bukti didatangkan, justru khayalannya semakin bertambah.”
Maka masalahnya kadang bukan apakah bukti tersedia.
Masalahnya adalah apakah manusia bersedia membiarkan bukti itu mengubah pendiriannya.
Al-Qur’an telah memberikan jalan kepada orang yang meragukan: buat satu surah seperti itu. Kumpulkan siapa pun yang kalian anggap mampu. Hadirkan para ahli sebagai penilai.
Empat belas abad kemudian, tantangan itu masih terbaca dalam ayat yang sama.
Dan mungkin justru di situlah kekuatan tantangannya: ia tidak memaksa manusia untuk percaya sebelum berpikir.
Ia menantang manusia untuk membuktikan bahwa Al-Qur’an hanyalah karya manusia.
Jika mampu, lakukan.
Jika tidak, mungkin yang harus dipertanyakan bukan lagi Al-Qur’annya—melainkan apa yang membuat manusia begitu sulit menerima apa yang telah ia lihat.







