KHAMENEI.ID– Ada satu penyakit batin yang sering kali tidak disadari, tetapi diam-diam menggerogoti arah hidup manusia. Penyakit itu bukan kemiskinan, bukan pula kebodohan, melainkan kelalaian. Ia hadir tanpa suara, membuat seseorang tetap sibuk, tetap bekerja, bahkan tetap beribadah, tetapi kehilangan kesadaran tentang untuk apa semua itu dijalani. Dalam pandangan Islam, kelalaian bukan sekadar lupa. Ia adalah keadaan ketika hati perlahan menjauh dari pusat kehidupannya: Allah.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, manusia modern justru semakin akrab dengan kelalaian. Jadwal yang padat, notifikasi yang tak pernah berhenti dan ambisi yang terus bertambah sering membuat seseorang lupa berhenti sejenak untuk bertanya kepada dirinya sendiri: ke mana sebenarnya hidup ini sedang menuju?
Karena itulah Al-Qur’an memberi perhatian yang begitu besar kepada zikir. Menariknya, perintah untuk mengingat Allah tidak hanya muncul sekali atau dua kali, melainkan berulang kali dalam banyak ayat. Seolah-olah Al-Qur’an sedang mengingatkan bahwa persoalan terbesar manusia bukan kurangnya informasi, melainkan hilangnya kesadaran.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang” (QS. Al-Ahzab: 41–42)
Ayat ini tidak hanya memerintahkan zikir, tetapi menekankan agar ia dilakukan dalam jumlah yang banyak. Penekanannya bukan tanpa alasan. Kelalaian juga datang tanpa mengenal waktu. Jika hati bisa lalai setiap saat, maka obatnya pun harus hadir setiap saat.
Namun, zikir dalam pengertian Islam jauh lebih luas daripada sekadar melafalkan tasbih atau tahmid. Zikir adalah menghadirkan Allah dalam kesadaran. Ia membuat seseorang melihat pekerjaannya sebagai amanah, melihat rezeki sebagai titipan, memandang kekuasaan sebagai tanggung jawab, dan menyadari bahwa setiap langkah hidup berada dalam pengawasan Sang Pencipta. Ketika kesadaran itu hidup, cara seseorang memandang dunia pun berubah.
Doa Abu Hamzah ats-Tsumali menggambarkan pengalaman spiritual ini dengan sangat indah:
مَولايَ، بِذِكرِكَ عاشَ قَلبي، وَبِمُناجاتِكَ بَرَّدتَ أَلَمَ الخَوفِ عَنّي
“Ya Tuhanku, dengan mengingat-Mu hatiku menjadi hidup, dan dengan bermunajat kepada-Mu Engkau mendinginkan panasnya rasa takut dalam diriku”
Ungkapan itu menunjukkan bahwa zikir bukan sekadar aktivitas lisan, melainkan sumber kehidupan hati. Hati yang dipenuhi kecemasan, kegelisahan, dan ketakutan perlahan menemukan ketenangan ketika kembali mengingat Allah. Yang berubah bukan hanya keadaan di luar dirinya, tetapi cara ia memandang segala keadaan.
Di sinilah letak perbedaan antara hati yang hidup dan hati yang lalai. Hati yang lalai mudah dikuasai kecemasan karena ia merasa harus mengendalikan segalanya sendiri. Sebaliknya, hati yang senantiasa berzikir menyadari bahwa ada kekuasaan Allah yang meliputi seluruh peristiwa. Kesadaran inilah yang melahirkan ketenteraman, bahkan ketika persoalan hidup belum benar-benar selesai.
Namun jika ditarik lebih jauh, zikir juga memiliki dimensi sosial. Seseorang yang terus mengingat Allah akan lebih berhati-hati dalam memperlakukan orang lain. Ia sadar bahwa setiap ucapan, keputusan, dan tindakan memiliki konsekuensi di hadapan Tuhan. Karena itu, zikir bukanlah pelarian dari kehidupan, melainkan fondasi moral untuk menjalaninya.
Sebaliknya, banyak kerusakan justru bermula dari kelalaian. Korupsi, pengkhianatan, kezaliman, bahkan permusuhan yang berkepanjangan sering kali lahir ketika manusia merasa hidup hanya dipertanggungjawabkan kepada dirinya sendiri. Ketika ingatan kepada Allah memudar, ukuran benar dan salah perlahan digantikan oleh untung dan rugi.
Dalam konteks yang lebih luas, zikir juga menjadi cara manusia menjaga orientasi hidup. Dunia menawarkan begitu banyak tujuan sementara: jabatan, popularitas, kekayaan, dan pengakuan. Tidak ada yang salah dengan semua itu selama tidak berubah menjadi tujuan akhir. Zikir mengembalikan manusia kepada pusat kehidupannya sehingga segala sesuatu kembali berada pada tempat yang semestinya. Harta menjadi sarana, bukan tuan. Kekuasaan menjadi amanah, bukan alat kesombongan. Kesuksesan menjadi nikmat yang disyukuri, bukan alasan untuk melupakan Sang Pemberi.
Barangkali inilah sebabnya Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan agar manusia berzikir, tetapi berzikir “sebanyak-banyaknya”. Sebab kelalaian bukanlah peristiwa sesaat, melainkan kecenderungan yang terus mengintai. Setiap hari manusia dapat kehilangan arah tanpa menyadarinya. Setiap hari pula ia membutuhkan pengingat yang mengembalikan langkahnya.
Pada akhirnya, zikir bukanlah tambahan di sela-sela kehidupan. Ia justru menjadi denyut yang menghidupkan seluruh kehidupan. Ketika hati hidup karena mengingat Allah, rasa takut tidak lagi menguasai, kesibukan tidak lagi menghilangkan makna, dan perjalanan hidup tidak lagi terasa tanpa tujuan.
Mungkin manusia tidak akan pernah sepenuhnya terbebas dari berbagai persoalan. Namun selama hati tetap hidup bersama zikir kepada Allah, ia tidak akan kehilangan kompas yang menunjukkan arah pulang. Sebab yang paling berbahaya bukanlah beratnya ujian, melainkan ketika seseorang menjalani hidup dengan hati yang telah lupa kepada Tuhannya.







