Tanggungjawab dan Pengelolaan Fitrah dalam Rumah Tangga

Allah menciptakan fitrah perempuan itu lembut. Sebuah ilustrasi sederhana: ada jari tangan yang besar dan kasar—sangat baik untuk menggali batu dari tanah, tetapi untuk meraba permata yang sangat kecil mungkin tidak mampu mengambilnya. Sebaliknya, ada jari tangan yang lembut dan ramping—tidak mampu menggali batu, tetapi sangat lincah mengumpulkan serpihan permata dan butiran emas dari tanah. Laki-laki dan perempuan seperti itu. Masing-masing memiliki tanggung jawab yang berbeda. Tidak bisa dikatakan mana yang lebih berat. Tanggung jawab keduanya berat, dan keduanya sangat diperlukan.

Jiwa perempuan yang lebih lembut membutuhkan lebih banyak ketenangan, kenyamanan, dan tempat bersandar yang terpercaya. Siapakah tumpuan itu? Suami. Allah Swt menempatkan mereka berdampingan dengan cara seperti ini. Cara pandang perempuan terhadap laki-laki secara alami berbeda dengan cara pandang laki-laki terhadap perempuan—dan ini wajar, tidak masalah. Laki-laki memandang perempuan sebagai pola keindahan, kelembutan, dan kepekaan. Islam menegaskan, al-mar’atu reihaanatun—perempuan adalah bunga. Dalam pandangan ini, laki-laki melihat istri sebagai makhluk yang lembut, manifestasi keindahan dan keluwesan. Cintanya dibingkai dalam model demikian.

Sebaliknya, laki-laki di mata perempuan adalah manifestasi kepercayaan, titik tumpu, dan sandaran. Perempuan membingkai cintanya kepada suami dalam kerangka ini. Keduanya adalah dua peran yang terpisah namun sama-sama diperlukan. Ketika istri memandang suami dengan mata cinta, ia melihat sosok tumpuan yang dapat digunakan kekuatan fisik dan pikirannya untuk memajukan kehidupan—ibarat sebuah mesin penggerak. Ketika suami memandang istri, ia melihat manifestasi keakraban dan ketenangan yang mampu memberi ketenteraman batin. Jika laki-laki adalah penopang dalam urusan lahiriah kehidupan, maka perempuan adalah penopang untuk urusan spiritual dan batiniah. Perempuan adalah lautan keakraban dan cinta yang dapat mengeluarkan suami dari segala duka dan kesedihannya dalam ruang yang penuh kasih. Inilah kemampuan spiritual laki-laki dan perempuan.

Baca Juga  “Isu Perempuan dan Topeng Kepentingan Kolonial: Sebuah Kritik yang Perlu Dicermati”

Hak Sejati vs Hak Khayalan, serta Kritik terhadap Feminisme dan Barat

Hak memiliki sumber alamiah. Hak yang sejati adalah yang bersumber dari fitrah. Hak-hak yang saat ini didefinisikan oleh kalangan tertentu kerap didasarkan pada khayalan dan imajinasi belaka. Hak-hak laki-laki dan perempuan harus bersandar pada fitrah, ukuran, dan struktur masing-masing. Para feminis masa kini—yang terdiri dari berbagai macam laki-laki dan perempuan, dengan klaim membela hak-hak perempuan—menurut pandangan ini, sama sekali tidak mengenal hak-hak perempuan. Sebab hak bukanlah perkara abstrak; ia memiliki sumber alamiah.

Orang-orang Barat yang terlihat begitu gaduh dan banyak bermain-main dengan isu perempuan, sebenarnya terjebak pada titik ini. Mereka mengaku menjaga hormat perempuan. Benar, mereka menjaga hormat perempuan di acara-acara resmi, di toko-toko, dan di jalanan—itu pun dalam rangka menikmati keindahannya. Tetapi bagaimana di dalam keluarga? Seberapa banyak penyiksaan terhadap istri? Seberapa banyak pemukulan terhadap perempuan oleh suami mereka? Betapa banyak malapetaka, kekerasan, dan kezaliman yang terjadi di balik pintu rumah?

Kewajiban Praktis Suami: Memahami, Tidak Memaksa

Dari pihak laki-laki, tugasnya adalah memahami kebutuhan istri, mengerti perasaannya, tidak lalai terhadap keadaannya, serta tidak menganggap dirinya sebagai pemilik kekuasaan mutlak di rumah. Suami istri adalah dua pribadi, dua mitra, dua sahabat. Masing-masing memiliki kapasitas pemikiran dan kejiwaan tersendiri. Laki-laki wajib membantu istrinya mengatasi ketertinggalan yang ada di masyarakat—bukan ketertinggalan gaya Barat, melainkan ketertinggalan dalam hal pengetahuan, pendidikan, serta semangat berpikir, merenung, dan bernalar. Semampu mungkin, suami harus mendukung istrinya dalam hal ini. Jika istri ingin bekerja atau berpartisipasi dalam kegiatan sosial, selama masih dalam batas yang sesuai dengan kebutuhan situasi keluarga, suami tidak boleh menghalanginya.

Baca Juga  Rahasia Keluarga Bahagia: Jangan Mulai Pernikahan dengan Gaya Hidup Mewah!

Suami jangan pernah mengira bahwa karena dia pergi ke pasar, berurusan dengan sana-sini, dan membawa pulang sedikit uang ke rumah, maka semua miliknya. Tidak. Apa yang dia bawa adalah setengah dari total keberadaan seluruh keluarga; setengah lainnya milik istri. Kewenangan istri, perannya sebagai pengatur rumah tangga, pendapatnya, dan kebutuhan spiritualnya harus diperhatikan. Jangan pula suami melanjutkan kebiasaan masa lajang—pulang larut malam ke rumah orang tua—setelah menikah. Kini ia harus memperhatikan istrinya. Di masa lalu, sebagian laki-laki menganggap dirinya pemilik istri. Padahal, sebesar hak suami di lingkungan keluarga, sebesar itu pula hak istri. Jangan pernah berlaku paksa kepada istri hanya karena secara fisik ia lebih lemah. Jangan membesarkan suara, bertengkar, dan memaksakan kehendak.

Kewajiban Praktis Istri: Bijak Mengelola, Bukan Menekan

Istri juga wajib memahami kebutuhan suami. Ia tidak boleh memberikan tekanan spiritual dan moral. Jangan melakukan sesuatu yang membuat suami putus asa dalam hidup, sehingga—semoga tidak terjadi—terjerumus ke jalan yang salah. Istri harus mendorong suami untuk teguh dan bertahan di medan kehidupan. Jika suami tidak bisa sepenuhnya memperhatikan keadaan keluarga karena tuntutan pekerjaan, istri jangan terus-menerus mencela dengan fakta itu. Jika suami memiliki aktivitas di bidang ilmu, perjuangan, pembangunan, mencari nafkah, atau urusan umum, istri hendaknya menciptakan suasana rumah yang kondusif agar suami dapat berangkat kerja dengan semangat baik dan pulang dengan gembira. Semua laki-laki senang ketika masuk rumah, mereka mendapatkan ketenangan, keamanan, serta rasa nyaman dan tenteram. Ini adalah tugas istri.

Perempuan memiliki tugas yang harus diidentifikasi dengan bijak. Seorang istri yang menggunakan akal dan kecerdasan akan mampu mengelola suaminya. Memang secara fisik laki-laki lebih kuat, namun Allah menciptakan fitrah perempuan sedemikian rupa sehingga—jika keduanya alami dan sehat, serta istri berakal—istri justru lebih berpengaruh terhadap suami. Pengaruh itu tidak diperoleh dengan kelicikan, otoritas, atau kekerasan, melainkan dengan kelembutan, sambutan hangat, keramahan, dan sedikit kesabaran—karena Allah telah menempatkan sifat sabar dalam fitrah perempuan. Istri harus memperlakukan suami seperti itu. Sebaliknya, sebagian istri bersikap keras kepada suami, misalnya menuntut barang tertentu, rumah dengan model tertentu, atau membandingkan dengan orang lain—”Si Fulan beli ini, kalau aku tidak beli berarti aku terhina.” Ucapan-ucapan seperti ini menyakiti suami dan tidak benar.

Baca Juga  Perempuan adalah Kunci Kemenangan: Pesan Imam Khamenei Kepada Muslimah Dunia
Bagikan:
Terkait
Komentar