KHAMENEI.ID – Ada orang yang membuat kita merasa diterima bahkan sebelum ia mengucapkan sepatah kata. Sebaliknya, ada pula yang membuat kita ingin segera pergi hanya karena tatapan dingin, wajah masam, atau sikapnya yang seolah-olah keberadaan kita adalah gangguan. Padahal, mungkin keduanya sama-sama memiliki pengetahuan, keyakinan, dan niat baik. Yang membedakan hanyalah cara mereka memperlakukan orang lain.
Di situlah keramahan menemukan maknanya yang lebih dalam. Ia bukan sekadar sopan santun atau kecakapan bergaul, melainkan kemampuan membuka pintu hati yang mungkin telah lama tertutup. Dalam urusan agama, pelayanan publik, bahkan hubungan antarmanusia sehari-hari, sikap sederhana ini dapat menentukan apakah seseorang merasa didekatkan atau justru dijauhkan.
Imam Ali bin Abi Thalib a.s pernah menyampaikan sebuah nasihat yang menempatkan keramahan sebagai salah satu jalan untuk menyatukan hati. Dalam Tuhaf al-‘Uqul, halaman 218, dinukil perkataan beliau:
إِنَّ أَحْسَنَ مَا يَأْلَفُ بِهِ النَّاسُ قُلُوبَ أَوْدائِهِمْ وَنَفَوْا بِهِ الضِّغْنَ عَنْ قُلُوبِ أَعْدَائِهِمْ حُسْنُ الْبِشْرِ عِنْدَ لِقَائِهِمْ، وَالتَّفَقُّدُ فِي غَيْبَتِهِمْ، وَالْبَشَاشَةُ بِهِمْ عِنْدَ حُضُورِهِمْ
“Sesungguhnya, hal terbaik yang dapat digunakan manusia untuk merekatkan hati orang-orang yang mereka kasihi dan menghilangkan kedengkian dari hati orang-orang yang memusuhi mereka adalah wajah yang berseri ketika berjumpa, perhatian ketika mereka tidak hadir, dan sambutan yang ramah ketika mereka datang”
Nasihat itu menarik karena keramahan tidak hanya ditempatkan sebagai cara menjaga hubungan dengan orang yang telah menyukai kita. Ia bahkan disebut sebagai jalan untuk mengikis kebencian dari hati orang yang memusuhi kita. Seolah-olah Imam Ali a.s hendak mengingatkan bahwa tidak semua permusuhan harus dihadapi dengan perdebatan, dan tidak setiap jarak harus dijembatani dengan kata-kata yang panjang. Kadang-kadang, perubahan bermula dari sesuatu yang tampak remeh: wajah yang tidak mengusir, sapaan yang tidak merendahkan, dan perhatian yang tidak dibuat-buat.
Namun, keramahan dalam nasihat tersebut bukan sekadar senyum yang dipasang ketika berhadapan dengan orang lain. Ada tiga hal yang saling melengkapi: wajah berseri ketika bertemu, kepedulian saat seseorang tidak hadir, dan sambutan hangat ketika ia datang. Ketiganya menunjukkan bahwa memperlakukan orang dengan baik bukanlah pertunjukan sesaat. Keramahan yang sejati memiliki kesinambungan, bahkan ketika orang yang bersangkutan tidak berada di hadapan kita.
Kita sering membayangkan bahwa untuk mengubah pandangan seseorang, kita harus memiliki argumen yang kuat, pengetahuan yang luas, atau kemampuan berbicara yang meyakinkan. Semua itu memang penting. Tetapi, sebelum seseorang bersedia mendengarkan apa yang kita katakan, ia lebih dahulu merasakan bagaimana kita memperlakukannya.
Seseorang yang datang meminta bantuan tidak selalu membutuhkan penjelasan panjang pada kesempatan pertama. Bisa jadi ia hanya ingin didengarkan tanpa dipotong, memperoleh jawaban tanpa dibentak, atau mengetahui bahwa persoalannya dianggap layak mendapat perhatian. Sikap yang hangat tidak serta-merta menyelesaikan masalahnya, tetapi dapat membuatnya merasa bahwa ia tidak sedang menghadapinya sendirian.
Sebaliknya, pelayanan yang dingin dapat mengubah pengalaman sederhana menjadi luka yang menetap. Orang yang datang dengan harapan pulang membawa kekecewaan. Pertanyaan yang semestinya dijawab dengan tenang justru disambut ketus. Permintaan yang seharusnya diperiksa dengan saksama dianggap merepotkan.
Di titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar etika pergaulan. Sikap seseorang dapat memengaruhi cara orang lain memandang nilai yang ia wakili. Terlebih jika ia bekerja di lembaga keagamaan, menjadi pendidik, atau memegang tanggung jawab pelayanan masyarakat.
Seseorang mungkin tidak mampu menilai keseluruhan ajaran agama. Ia mungkin belum membaca kitab, memahami dalil, atau mengenal sejarahnya. Namun, ia dapat mengingat dengan jelas bagaimana seorang pemuka agama memperlakukannya ketika ia membutuhkan pertolongan. Dari pengalaman itulah, kesan tentang agama kadang-kadang terbentuk: bukan pertama-tama melalui penjelasan, melainkan melalui perjumpaan.
Nasihat tentang keramahan menjadi sangat penting bagi siapa pun yang memegang amanah pelayanan, terutama mereka yang bekerja dalam lingkungan keagamaan. Sebab, orang-orang yang datang meminta bantuan tidak memiliki tingkat pengetahuan, pengalaman, maupun kekuatan iman yang sama.
Ada yang telah lama memahami ajaran agama dan mampu memisahkan perilaku seseorang dari nilai yang dianutnya. Namun, ada pula yang masih rapuh keyakinannya, sedang menghadapi persoalan hidup, atau datang dengan harapan memperoleh ketenangan. Bagi orang seperti ini, perlakuan yang merendahkan dapat meninggalkan kesan lebih dalam daripada yang dibayangkan oleh pelakunya.
Bayangkan seseorang yang datang ke sebuah lembaga keagamaan untuk menanyakan persoalan yang selama ini mengganggu pikirannya. Ia mengumpulkan keberanian, menyusun pertanyaan, lalu memberanikan diri meminta penjelasan. Akan tetapi, ia justru disambut dengan wajah tidak sabar dan jawaban yang membuatnya merasa bodoh. Mungkin petugas itu menganggap kejadian tersebut biasa saja. Setelah orang itu pergi, pekerjaannya berlanjut seperti semula.
Tetapi, bagi orang yang datang tadi, perjumpaan itu mungkin menjadi pengalaman yang menentukan. Ia bukan hanya kecewa kepada petugas yang ditemuinya. Dalam keadaan tertentu, kekecewaan itu dapat meluas menjadi prasangka terhadap lingkungan agama, bahkan membuatnya enggan mencari pertolongan lagi.
Tentu, tidak setiap orang akan bereaksi demikian. Namun, kemungkinan itu cukup penting untuk direnungkan. Orang yang memegang amanah pelayanan tidak selalu mengetahui keadaan batin orang yang berdiri di hadapannya. Karena itu, kehati-hatian dalam bersikap merupakan bagian dari tanggung jawabnya.
Keramahan bukan berarti membenarkan semua permintaan, mengabaikan aturan, atau mengorbankan ketegasan. Seseorang tetap dapat menolak permintaan yang tidak tepat, menjelaskan kesalahan, dan menegakkan prosedur. Bedanya terletak pada cara ia melakukannya. Ketegasan tidak harus berubah menjadi penghinaan. Koreksi tidak perlu disampaikan dengan merendahkan. Bahkan penolakan dapat diberikan tanpa membuat orang lain kehilangan harga dirinya.
Dalam konteks yang lebih luas, inilah tantangan bagi setiap lembaga yang membawa nama kebaikan: memastikan bahwa cara kerjanya tidak bertentangan dengan nilai yang hendak diperjuangkannya.
Ada satu ungkapan yang menjadi salah satuciri khas seorang mukmin; wajah Ceria, Hati yang Menanggung Kesedihan:
الْمُؤْمِنُ بِشْرُهُ فِي وَجْهِهِ وَحُزْنُهُ فِي قَلْبِهِ
“Seorang mukmin menampakkan wajah ceria, sementara kesedihannya tersimpan di dalam hati”
Ungkapan ini mengandung gambaran tentang kematangan batin. Seseorang mungkin sedang menghadapi kesulitan, menyimpan kecemasan, atau memikul persoalan yang tidak diketahui orang lain. Namun, ia berusaha agar beban pribadinya tidak serta-merta menjadi beban bagi setiap orang yang dijumpainya.
Bukan berarti seorang mukmin harus menyembunyikan semua kesedihan, berpura-pura bahagia, atau menyangkal kebutuhan untuk memperoleh dukungan. Kesedihan tetap manusiawi, dan meminta pertolongan bukanlah kelemahan. Yang ditekankan ialah kemampuan mengelola perasaan agar penderitaan pribadi tidak menjadi alasan untuk melukai orang lain.
Kita tentu pernah bertemu orang yang sedang mengalami kesulitan, tetapi tetap menyambut orang lain dengan baik. Bukan karena hidupnya tanpa masalah, melainkan karena ia berusaha tidak menjadikan masalahnya sebagai pembenaran untuk bersikap kasar. Keramahan seperti ini memiliki nilai yang berbeda dari keramahan yang lahir semata-mata karena suasana hati sedang menyenangkan.
Di sinilah keramahan bertemu dengan pengendalian diri. Ia menuntut seseorang untuk menyadari bahwa orang lain tidak selalu tahu apa yang sedang ia alami. Sebagaimana kita berharap dimaklumi ketika sedang kesulitan, orang lain pun berhak memperoleh perlakuan yang baik ketika berhadapan dengan kita.
Pada akhirnya, wajah yang berseri tidak selalu mampu menyelesaikan persoalan. Sapaan hangat tidak dapat menggantikan keadilan, dan kesopanan tidak cukup untuk menutupi pelayanan yang buruk. Tetapi, tanpa keramahan, bahkan kebaikan yang sebenarnya ingin kita berikan dapat kehilangan jalan menuju hati orang lain.
Mungkin itulah sebabnya nasihat Imam Ali a.s tetap terasa dekat dengan kehidupan hari ini. Kita hidup di tengah dunia yang semakin pandai menyampaikan gagasan, membangun citra, dan meyakinkan orang melalui kata-kata. Namun, di antara semua itu, manusia tetap mengingat bagaimana ia diperlakukan.
Ada hati yang terbuka karena sebuah penjelasan. Ada pula hati yang baru bersedia mendengarkan setelah merasa dihargai. Dan terkadang, sebelum seseorang mengenal kebaikan melalui kata-kata kita, ia lebih dahulu perlu merasakannya melalui sikap kita.
Sebab, tidak semua pintu hati terbuka oleh suara yang keras. Sebagian justru terbuka ketika seseorang menemukan wajah yang membuatnya merasa aman untuk mendekat.







