Menjaga Lisan di Era Media Sosial: Ketika Kesantunan Menjadi Bentuk Keadilan

KHAMENEI.ID– Ada satu hal yang diam-diam sedang memudar dalam kehidupan kita: rasa malu untuk berkata kasar. Dulu, orang mungkin berpikir panjang sebelum melontarkan hinaan di ruang publik. Kini, dengan satu sentuhan layar, makian, fitnah, dan ejekan dapat menyebar lebih cepat daripada kebenaran. Media sosial membuat setiap orang memiliki mimbar, tetapi tidak selalu menghadirkan kebijaksanaan dalam berbicara.

Padahal, dalam pandangan Islam, lisan bukan sekadar alat menyampaikan pendapat. Ia adalah cermin akhlak. Cara seseorang berbicara sering kali lebih kuat menggambarkan isi hatinya daripada seribu pengakuan tentang keimanan.

Karena itu, menjaga adab berbicara bukan sekadar soal sopan santun. Ia adalah bagian dari menjaga martabat manusia dan merawat kesehatan sebuah masyarakat.

Di tengah budaya digital yang semakin gaduh, kritik sering berubah menjadi caci maki. Perbedaan pandangan dengan mudah menjelma permusuhan. Orang merasa menang ketika berhasil mempermalukan lawannya, seolah kerasnya kata-kata menjadi ukuran kuatnya argumen. Yang hilang bukan hanya etika, tetapi juga kemampuan mendengar dan menghargai sesama.

Dalam konteks yang lebih luas, inilah salah satu tantangan terbesar zaman modern. Teknologi berkembang jauh lebih cepat daripada kedewasaan moral penggunanya. Akibatnya, ruang publik dipenuhi suara-suara keras, tetapi semakin miskin hikmah.

Islam justru menawarkan arah yang berbeda. Kebenaran tidak pernah memerlukan bahasa yang kotor. Kritik tidak harus disampaikan dengan penghinaan. Bahkan ketika harus menentang kebatilan, seorang mukmin tetap dituntut menjaga kemuliaan lisannya.

Teladan itu tampak jelas pada sosok Sayidah Fatimah az-Zahra a.s. Dalam sejarah Islam, beliau pernah menyampaikan dua pidato yang mengguncang masyarakat saat itu. Satu disampaikan di Masjid Nabawi di hadapan banyak laki-laki, sementara yang lain di hadapan kaum perempuan Madinah. Keduanya berisi kritik yang sangat tajam terhadap penyimpangan yang sedang terjadi serta peringatan tentang bahaya yang mengancam nilai-nilai Islam.

Baca Juga  Mengapa Barat Memusuhi Perempuan Iran? Perspektif Imam Khamenei tentang Peran Wanita, Revolusi, dan Standar Ganda Hak Asasi Manusia

Namun menariknya, pidato-pidato yang penuh keberanian itu tidak dipenuhi kata-kata kasar. Tidak ada penghinaan, tidak ada cercaan, apalagi pelecehan terhadap lawan. Yang hadir justru argumentasi yang kokoh, bahasa yang bermartabat, dan logika yang sulit dibantah. Ketegasan ternyata tidak harus kehilangan kesantunan.

Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang lebih mendasar. Mengapa Islam begitu menekankan adab berbicara? Sebab kata-kata memiliki daya rusak yang sering kali lebih lama daripada luka fisik. Sebuah fitnah dapat menghancurkan nama baik seseorang selama bertahun-tahun. Sebuah tuduhan tanpa ilmu mampu memecah persaudaraan. Ghibah, ejekan, dan hinaan bukan sekadar pelanggaran etika, melainkan racun sosial yang perlahan merusak kepercayaan antarmanusia.

Karena itu, Islam melarang seseorang berbicara tanpa pengetahuan, menyebarkan tuduhan, menggunjing, ataupun menggunakan bahasa yang merendahkan orang lain. Semua itu bukan sekadar dosa pribadi, tetapi juga ancaman bagi ketenteraman masyarakat.

Teladan yang sama tampak dalam kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Ketika Perang Shiffin berlangsung, sebagian pasukannya melontarkan makian kepada pihak lawan. Secara politik, mereka sedang berhadapan dengan musuh. Namun Imam Ali a.s tetap menolak cara itu.

Beliau bersabda:

إِنِّي أَكْرَهُ لَكُمْ أَنْ تَكُونُوا سَبَّابِينَ

“Sesungguhnya aku tidak menyukai kalian menjadi orang-orang yang gemar mencaci maki”

Imam Ali a.s kemudian mengajarkan alternatif yang jauh lebih beradab. Daripada menghina lawan, lebih baik menjelaskan kesalahan tindakan mereka secara objektif, lalu mendoakan agar Allah memperbaiki keadaan kedua belah pihak dan memberi mereka petunjuk menuju kebenaran.

Sikap ini menunjukkan kedewasaan moral yang luar biasa. Bahkan di tengah peperangan, ketika emosi sedang memuncak, Islam tetap mengajarkan pengendalian diri. Musuh boleh dilawan, tetapi martabat manusia tidak boleh diinjak.

Baca Juga  Palestina dan Pelajaran tentang Front Perlawanan

Nilai yang sama juga berlaku dalam penegakan hukum. Keadilan bukan hanya soal menghukum pelaku kejahatan, melainkan juga menjaga agar hukuman itu tidak berubah menjadi balas dendam.

Seseorang yang telah divonis bersalah memang harus menjalani hukuman sesuai ketentuan. Akan tetapi, setelah hukuman ditetapkan, tidak ada seorang pun berhak menambah penderitaannya dengan penghinaan, penyiksaan, atau perlakuan yang melampaui batas. Menghina seorang terpidana bukan bagian dari keadilan. Itu justru bentuk kezaliman baru.

Prinsip ini mengajarkan bahwa setiap hukuman memiliki batas. Negara berwenang menjatuhkan sanksi sesuai aturan, tetapi tidak seorang pun boleh menambahkan hukuman melalui pelecehan verbal atau perlakuan yang merendahkan martabat manusia. Bahkan terhadap orang yang bersalah sekalipun, keadilan tetap harus dijaga.

Di titik ini, kita menyadari bahwa adab berbicara bukan sekadar persoalan pilihan kata. Ia adalah cara pandang terhadap manusia. Ketika seseorang masih mampu menjaga lisannya kepada orang yang berbeda pendapat, kepada lawan politik, bahkan kepada pelaku kejahatan, sesungguhnya ia sedang menjaga kemuliaan dirinya sendiri.

Mungkin karena itulah para ulama menyebut bahwa akhlak bukan tampak ketika seseorang berbicara kepada sahabatnya, melainkan ketika ia berbicara kepada orang yang tidak disukainya.

Di era media sosial, pesan ini menjadi semakin relevan. Kita mungkin tidak mampu menghentikan derasnya arus ujaran kebencian di internet. Namun kita selalu memiliki pilihan untuk tidak ikut menambah kebisingan itu. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak makian. Dunia membutuhkan lebih banyak suara yang tegas, jujur, dan tetap beradab.

Sebab pada akhirnya, kemenangan terbesar bukanlah ketika kita berhasil membungkam lawan dengan kata-kata yang kasar, melainkan ketika kita mampu mempertahankan kebenaran tanpa kehilangan kemuliaan akhlak.

Baca Juga  Ulama yang Menjemput Umat, Bukan Menunggu Didatangi
Bagikan:
Terkait
Komentar