KHAMENEI.ID— Ada satu kesalahan yang terus berulang dalam sejarah manusia: mengira bahwa kekuasaan yang tampak besar hari ini akan bertahan selamanya. Ketika sebuah negara memiliki militer terkuat, ekonomi terbesar, teknologi tercanggih, dan pengaruh global yang luas, manusia mudah percaya bahwa dominasi itu adalah takdir sejarah yang tak mungkin runtuh. Padahal sejarah justru berkali-kali memperlihatkan hal sebaliknya: setiap imperium selalu membawa benih kehancurannya sendiri.
Di tengah dunia modern yang gaduh oleh perang, intervensi politik, dan pertarungan pengaruh global, ada pertanyaan yang semakin relevan: benarkah demokrasi dan kekuatan besar dunia hari ini sungguh hadir untuk menyelesaikan penderitaan manusia? Ataukah semua itu hanya wajah baru dari tradisi lama bernama dominasi?
ketika umat Islam berbicara tentang terwujudnya nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial dan politik, itu bukan sekadar slogan keagamaan biasa. Di belakangnya ada harapan, keyakinan, dan emosi miliaran manusia di berbagai belahan bumi. Sebuah gagasan besar selalu bekerja bukan hanya melalui senjata atau ekonomi, tetapi melalui kepercayaan manusia terhadap makna.
Karena itu, ukuran keberhasilan sebuah peradaban bukan pertama-tama terletak pada seberapa keras ia memaksa dunia tunduk, melainkan apakah ia mampu membuktikan bahwa gagasannya benar-benar bekerja untuk manusia. Jika sebuah sistem mampu menghadirkan keadilan, menjaga martabat, dan memberi harapan kepada rakyat kecil, orang-orang akan datang dengan sendirinya. Bukan karena takut, tetapi karena percaya.
Di titik inilah kritik terhadap demokrasi modern ala Amerika muncul dengan tajam. Demokrasi yang hari ini dibawa Amerika, yang digambarkan sebagai simbol kesombongan dan pemaksaan global tidak otomatis menyelesaikan problem manusia. Demokrasi akhirnya berubah hanya menjadi alat legitimasi kekuatan. Ia terdengar indah dalam pidato, tetapi sering kehilangan ruh ketika berhadapan dengan kepentingan geopolitik dan ekonomi.
Dunia modern sebenarnya sudah terlalu sering menyaksikan paradoks ini. Negara-negara besar berbicara tentang kebebasan, tetapi mendukung perang. Mereka mengkampanyekan hak asasi manusia, tetapi diam ketika kepentingannya terganggu. Mereka mengajarkan demokrasi, tetapi menjatuhkan pemerintahan yang tidak sejalan dengan arah politik mereka.
Ironinya, semua ini bukan cerita baru.
Dahulu dunia juga pernah hidup di bawah bayang-bayang kekuatan besar lain: Uni Soviet. Pada masanya, Soviet tampak seperti raksasa yang mustahil tumbang. Ia memiliki kekuatan militer besar, pengaruh internasional luas, dan kemampuan mengendalikan negara-negara lain dengan tekanan politik maupun kekuatan bersenjata.
Di Eropa Timur, di Hongaria, di Polandia, kekuasaan dijalankan dengan tangan besi. Pemerintah diubah dengan tekanan. Wilayah-wilayah diserap demi memperluas pengaruh ideologi. Dunia saat itu hidup dalam ketegangan dua kutub besar: Amerika dan Soviet. Tetapi keberadaan dua kekuatan besar itu ternyata tidak membuat dunia lebih manusiawi. Persaingan mereka justru melahirkan ketakutan, perang proksi, dan tragedi kemanusiaan.
Lalu apa yang terjadi?
Uni Soviet runtuh.
Sebuah kekuatan yang pernah tampak abadi mendadak hilang dari peta sejarah. Negara yang dahulu ditakuti dunia itu kini tinggal catatan dalam buku-buku sejarah dan serpihan nostalgia politik. Sejarah bergerak tanpa belas kasihan kepada siapa pun yang mengira dirinya terlalu besar untuk jatuh.
Di bagian paling menarik, dalam sebuah ungkapan Arab yang sangat pendek tetapi dalam maknanya:
لِلباطِلِ جَولَة
“Kebatilan itu memang punya masa untuk berputar dan berjaya.”
Kalimat ini seperti ringkasan seluruh sejarah kekuasaan manusia. Kebatilan kadang memang tampak menang. Kezaliman kadang terlihat terlalu kuat untuk dihentikan. Propaganda bisa menguasai media. Senjata bisa membungkam suara-suara kecil. Kekayaan dapat membeli pengaruh politik. Tetapi semua itu hanya “jaulah”—gelombang sesaat yang pada akhirnya akan surut.
Kekuatan semacam itu seperti nyala api besar: menyala tinggi, memukau banyak orang, menimbulkan ketakutan, tetapi diam-diam membawa bahan bakar yang akan menghabisinya sendiri. Kesombongan melahirkan kebencian. Penindasan melahirkan perlawanan. Ketidakadilan menciptakan keretakan dari dalam.
Dan sejarah memang sering membuktikan bahwa imperium tidak hancur pertama-tama karena serangan musuh, tetapi karena kebusukan internalnya sendiri.
Dunia hari ini terlalu mudah silau oleh kekuatan material. Kita mengukur keberhasilan hanya dari ekonomi, teknologi, senjata, dan pengaruh media. Padahal semua itu bisa berubah sangat cepat. Negara-negara besar yang hari ini tampak mengendalikan dunia belum tentu akan tetap berdiri kokoh beberapa dekade mendatang.
Yang lebih penting justru pertanyaan moralnya: apakah kekuatan itu digunakan untuk memuliakan manusia atau hanya mempertahankan dominasi?
Sebab sejarah tidak hanya mengingat siapa yang paling kuat. Sejarah juga mengingat siapa yang paling adil, siapa yang paling manusiawi, dan siapa yang menggunakan kekuasaan tanpa kehilangan nurani.
Mungkin karena itulah banyak orang di berbagai penjuru dunia mulai kehilangan kepercayaan terhadap slogan-slogan besar politik modern. Mereka lelah dengan janji demokrasi yang tidak selalu menghadirkan keadilan. Mereka muak pada bahasa hak asasi yang sering dipakai selektif. Mereka melihat bahwa di balik kata-kata indah tentang perdamaian, dunia masih digerakkan oleh logika kekuasaan lama: siapa yang paling kuat, dialah yang menentukan arah.
Namun sejarah juga menunjukkan sesuatu yang lain: tidak ada kekuasaan yang benar-benar abadi. Setiap kesombongan politik pada akhirnya akan bertemu batasnya sendiri.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising oleh perebutan pengaruh global, manusia sebenarnya sedang mencari sesuatu yang lebih sederhana tetapi lebih mendasar: sebuah sistem yang tidak hanya kuat, tetapi juga bermoral; tidak hanya modern, tetapi juga manusiawi.







