Belajar dari Pohon yang Rela Menggugurkan Daunnya 

KHAMENEI.ID– Setiap tahun berlalu dengan cara yang hampir sama. Kalender diganti, usia bertambah, musim datang dan pergi. Kita melihat pohon yang meranggas lalu menghijau kembali, langit yang berganti warna, hujan yang datang setelah kemarau. Semua berlangsung begitu berulang sehingga sering kali luput dari perhatian. Padahal, di balik rutinitas itu, alam sedang menyampaikan pelajaran yang sangat penting: hidup adalah perubahan.

Mungkin itulah sebabnya manusia selalu memberi makna khusus pada pergantian waktu. Bukan sekadar karena satu tahun berakhir dan tahun baru dimulai, melainkan karena setiap pergantian mengingatkan bahwa tidak ada keadaan yang benar-benar menetap. Yang tetap hanyalah perubahan itu sendiri.

Dalam sebuah doa yang populer dibaca saat pergantian tahun, terdapat kalimat yang menyentuh:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ وَالْأَبْصَارِ، يَا مُدَبِّرَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، يَا مُحَوِّلَ الْحَوْلِ وَالْأَحْوَالِ، حَوِّلْ حَالَنَا إِلَى أَحْسَنِ الْحَالِ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati dan penglihatan, yang mengatur malam dan siang, yang mengubah tahun dan keadaan, ubahlah keadaan kami menuju keadaan yang terbaik”

Doa itu tidak hanya berbicara tentang pergantian tahun. Ia berbicara tentang perubahan yang jauh lebih luas: perubahan musim, perubahan keadaan, perubahan hati, bahkan perubahan cara pandang manusia terhadap hidupnya sendiri.

Alam sebenarnya adalah kitab terbuka yang setiap hari kita baca tanpa benar-benar memahaminya. Musim semi berubah menjadi musim panas. Musim panas bergeser menjadi musim gugur. Daun-daun yang dahulu hijau mulai menguning dan berjatuhan. Setelah itu datang musim dingin yang tampak keras dan tidak ramah. Namun justru di balik dingin yang membekukan itu, kehidupan sedang dipersiapkan untuk kembali mekar.

Kita sering melihat musim dingin sebagai simbol kematian. Padahal, ia adalah rahim bagi kelahiran berikutnya. Di bawah tanah yang tampak beku, benih-benih sedang menyimpan energi untuk tumbuh. Di balik ranting yang tampak mati, kehidupan sedang menunggu saat yang tepat untuk muncul kembali.

Baca Juga  Setiap Hari Adalah Saksi: Kesempatan yang Tak Pernah Datang Dua Kali

Begitu pula kehidupan manusia.

Ada masa ketika seseorang berada di puncak kariernya. Semua terasa mudah dan menjanjikan. Namun ada pula saat ketika ia harus menghadapi kegagalan, kehilangan pekerjaan, atau runtuhnya rencana-rencana yang telah disusun bertahun-tahun. Pada momen seperti itu, banyak orang mengira hidup sedang bergerak menuju kehancuran. Padahal bisa jadi, sebagaimana musim dingin bagi pohon, masa sulit itu sedang mempersiapkan pertumbuhan yang lebih matang.

Masalahnya, manusia terlalu sering menilai keadaan hanya dari permukaannya.

Kita memuja musim semi kehidupan: keberhasilan, kesehatan, kemakmuran, dan pujian. Sebaliknya, kita membenci musim gugur dan musim dingin: kesedihan, kesepian, kegagalan, dan kehilangan. Kita lupa bahwa seluruh musim itu diperlukan agar kehidupan tetap berlangsung.

Tanpa gugurnya daun, pohon tidak dapat memperbarui dirinya. Tanpa malam, manusia tidak bisa beristirahat. Tanpa kesulitan, seseorang tidak pernah benar-benar mengenal kekuatan dirinya.

Perubahan adalah hukum yang bekerja pada seluruh alam semesta. Tidak ada yang dikecualikan darinya.

Menariknya, karena perubahan terjadi setiap hari, kita justru menjadi kebal terhadap keajaibannya. Kita menganggap tumbuhnya tanaman sebagai hal biasa. Kita menganggap mekarnya bunga sebagai sesuatu yang wajar. Kita menganggap lahirnya kehidupan baru sebagai peristiwa rutin.

Padahal, jika seseorang melihat semua itu untuk pertama kalinya, ia mungkin akan terperangah.

Bayangkan seseorang yang tidak pernah melihat benih berubah menjadi pohon. Ia akan menganggapnya sebagai keajaiban yang sulit dijelaskan. Bayangkan seseorang yang belum pernah menyaksikan bumi yang gersang berubah hijau setelah hujan. Ia akan melihatnya sebagai peristiwa luar biasa.

Namun karena kita menyaksikannya berulang kali, rasa takjub itu perlahan menghilang. Mata menjadi terbiasa. Hati menjadi lalai.

Padahal, setiap perubahan di alam sesungguhnya adalah tanda yang mengajak manusia berpikir. Mengapa sesuatu yang mati dapat hidup kembali? Mengapa yang kering bisa menjadi subur? Mengapa yang gelap akhirnya digantikan cahaya?

Baca Juga  Transformasi Bukan Mengganti Identitas: Makna Perubahan Menurut Imam Ali Khamenei

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak hanya berlaku bagi alam, tetapi juga bagi diri kita sendiri.

Dalam kehidupan pribadi, perubahan sering berlangsung begitu pelan hingga tidak terasa. Cara berpikir kita berubah. Prioritas hidup bergeser. Nilai-nilai yang dahulu dianggap penting bisa jadi kehilangan maknanya. Sebaliknya, hal-hal yang dahulu diabaikan justru menjadi sumber kebijaksanaan.

Sering kali kita baru menyadari perubahan itu setelah menoleh ke belakang.

Kita melihat diri yang dulu mudah marah, lalu membandingkannya dengan diri yang sekarang lebih tenang. Kita mengenang masa ketika ambisi menjadi pusat kehidupan, lalu menyadari bahwa kebahagiaan ternyata lebih dekat kepada kesederhanaan. Kita mengingat luka-luka lama yang dulu terasa menghancurkan, tetapi kini justru menjadi sumber kedewasaan.

Waktu tidak hanya mengubah alam. Waktu juga mengubah manusia.

Karena itu, persoalan terpenting bukanlah apakah hidup akan berubah atau tidak. Perubahan pasti terjadi. Persoalannya adalah: apakah kita belajar sesuatu dari perubahan itu?

Banyak orang bertambah usia tanpa bertambah bijaksana. Tahun demi tahun berlalu, tetapi tidak meninggalkan pelajaran apa pun. Padahal setiap musim yang berganti seharusnya membawa pengalaman, kesadaran, dan hikmah baru.

Mungkin inilah makna terdalam dari doa pergantian tahun: bukan sekadar memohon agar keadaan berubah, melainkan memohon agar perubahan itu membawa kita menuju versi diri yang lebih baik.

Sebab waktu akan terus berjalan. Musim akan terus berganti. Daun akan terus gugur dan tumbuh kembali. Yang menjadi pertanyaan hanyalah satu: ketika semua perubahan itu terjadi, apakah kita ikut bertumbuh bersamanya?

Jika alam selalu menemukan cara untuk memperbarui dirinya, mungkin manusia juga seharusnya belajar melakukan hal yang sama. Menjadikan setiap pergantian waktu bukan sekadar peristiwa yang lewat di kalender, melainkan kesempatan untuk membaca ulang kehidupan dan menemukan arah yang lebih baik.

Baca Juga  Di Zaman Semua Orang Ingin Terlihat Pintar, Ali bin Abi Thalib Mengajarkan Kerendahan Hati 

Karena pada akhirnya, yang mengubah hidup bukanlah datangnya musim baru. Yang mengubah hidup adalah kesediaan kita untuk belajar dari setiap musim yang telah berlalu.

Bagikan:
Terkait
Komentar